Jumat, 14 Maret 2008

Jumat, 2008 Maret 14

Pesan Bapa Suci untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 42 pada 4 Mei 2008
01 Februari 2008 11:41
‘Media Komunikasi Sosial:Pada persimpangan antara Pengacuan Diri dan Pelayanan.Mencari Kebenaran untuk berbagi dengan orang lain.Saudara-Saudari Terkasih,1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini –“Media Komunikasi Sosial: Pada persimpangan antara pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain” – menekankan betapa pentingnya peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah Saya tandaskan dalam Pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggungjawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5).2. Berkat perkembangan teknologi yang meroket, media telah memiliki kemampuan luar biasa yang serempak membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan sampai sekarang. Kita tidak dapat menyangkal sumbangsih yang diberikan oleh media dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi seperti peranannya yang menentukan dalam kampanye pemberantasan buta huruf dan kegiatan sosialisasi, pengembangan demokrasi dan dialog di antara bangsa-bangsa. Tanpa sumbangsih media, akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian di dunia, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa teristimewa bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. Benar bahwa secara keseluruhan media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga menjadi sarana pelayanan bagi terciptanya rasa setia kawan dan keadilan yang lebih besar bagi dunia. Sayangnya betapapun demikian, ia sedang berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang. Begitulah kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud idiologis atau demi reklame agresif produk-produk konsumen. Dengan dalih untuk menghadirkan realitas, media dapat mengukuhkan atau memaksakan model-model pribadi, keluarga atau kehidupan sosial yang menyimpang. Bahkan, agar bisa menarik perhatian para pendengar dan meningkatkan jumlah khalayak, ia tidak ragu-ragu mempraktikkan berbagai pelanggaran, hal-hal yang tidak sopan dan kekerasan. Media juga dapat memperkenalkan dan mendukung model-model pembangunan yang bukannya memperkecil malah memperbesar jurang teknologi antara negara-negara kaya dan miskin.3. Umat manusia pada zaman sekarang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berlaku juga untuk media seperti yang telah Saya tandaskan dalam ensiklik Spe Salvi tentang makna ganda kemajuan yang di satu pihak memberikan kemungkinan baru untuk kebaikan tetapi pada pihak lain membuka begitu besar peluang untuk hal-hal yang jahat yang tidak pernah ada sebelumnya (bdk. No.22). Karena itu kita seharusnya bertanya apakah bijaksana membiarkan sarana komunikasi sosial dipakai untuk kemajuan diri sendiri atau membiarkan penggunaannya di tangan mereka yang memanfaatkan untuk memanipulasi kesadaran manusia. Apakah tidak ada suatu prioritas untuk memastikan bahwa media komunikasi itu tetap mengemban misi pelayanan bagi pribadi dan bagi kebaikan bersama dan bahwa media komunikasi membantu mengembangkan ”formasi etis manusia . . . pertumbuhan batin manusia” (ibid.)? Pengaruhnya yang luar biasa dalam kehidupan perorangan maupun dalam masyarakat telah diakui secara luas, tetapi sekalipun demikian, dengan melihat kenyataan sekarang ini, dibutuhkan perubahan peranan media yang radikal dan menyeluruh. Pada masa sekarang, kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa. Perubahan peranan yang membahayakan seperti ini telah diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh banyak pemimpin Gereja. Justru karena kita sedang berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) dimana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis, juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu, pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan, yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.4. Peran yang dimainkan oleh media komunikasi sosial dalam masyarakat mestinya dianggap sebagai persoalan ’antropologis’ yang muncul sebagai tantangan kunci dalam milenium ketiga. Seperti yang kita saksikan dalam kehidupan manusia, dalam hidup perkawinan dan keluarga serta dalam isu-isu besar modern seperti perdamaian, keadilan, perlindungan terhadap mahkluk ciptaan, begitu juga di sektor komunikasi sosial terdapat matra-matra khas hidup manusia dan dimensi kebenaran yang berkaitan dengan pribadi manusia. Apabila komunikasi kehilangan daya penyangga etis dan menghindari diri dari pengawasan masyarakat maka ia tidak lagi menghiraukan sentra dan martabat luhur pribadi manusia. Dengan akibat, ia akan memberikan pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia, terhadap pilihan putusan manusia dan secara definitif menentukan kebebasan dan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang hakikih bahwa komunikasi sosial harus sungguh-sungguh membela pribadi dan menghormati martabat manusia secara utuh. Banyak orang berpikir bahwa dalam hal ini, dibutuhkan suatu ’info-etika’ sama halnya bio-etika di bidang kedokteran dan di bidang riset ilmiah yang berkaitan dengan kehidupan.5. Media harus menghindarkan diri untuk menjadi juru bicara aliran materialisme ekonomi dan relativisme etika, bencana serius di zaman kita ini. Walaupun demikian ia dapat dan harus memberikan sumbangsihnya agar kebenaran tentang umat manusia dikenal, membelanya melawan segala yang berkeinginan mengabaikan dan memusnahkannya. Bahkan boleh dikatakan bahwa mencari dan menghadirkan kebenaran tentang manusia adalah panggilan terluhur komunikasi sosial. Dengan memanfaatkan berbagai cara yang dimiliki media untuk maksud dan tujuan seperti ini adalah suatu tugas yang mulia yang pada tempat pertama dipercayakan kepada penanggungjawab dan operator di bidang ini. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu, menyangkut kita semua di zaman globalisasi seperti sekarang, semua kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial. Media baru – secara istimewa telekomunikasi dan internet- sedang mengubah wajah komunikasi; dan barangkali ini merupakan peluang emas untuk mendisain, menjadikan wajah komunikasi menjadi lebih tampak yang oleh Pendahulu Saya Yohanes Paulus II, dianggap sebagai unsur-unsur kebenaran hakiki dan tak tergantikan dari pribadi manusia (bdk. Surat Gemba Perkembangan yang Cepat, 10).6. Manusia merasa haus akan kebenaran, ia mencari kebenaran; hal ini terbukti melalui minat dan kesuksesan yang dicapai sekian banyak penerbitan, program-program atau film-film bermutu dimana kebenaran, keindahan dan keluhuran manusia termasuk matra keimanan manusia diakui dan ditampilkan secara baik. Yesus mengatakan: ”Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Kebenaran yang memerdekan kita adalah Kristus, karena hanya Ia sendirilah yang dapat memberikan jawaban yang penuh terhadap kehausan akan hidup dan akan kasih yang ada dalam hati manusia. Barangsiapa yang telah menemukan Dia dan dengan senang hati menerima pewartaanNya, ia berkeinginan untuk membagikan dan mengkomunikasikan kebenaran itu. Santu Yohanes menandaskan: ”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup . . .itulah yang kami wartakan kepada kamu, agar kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-NyaYesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1 Yoh 1:1-4).Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar selalu ada para komunikator yang berani dan saksi-saksi kebenaran yang sejati, percaya akan mandat Kristus dan memiliki minat yang besar terhadap warta iman, para komunikator yang ”tahu menerjemahkan kebutuhan budaya modern, memiliki komitmen untuk menghidupi abad komunikasi tanpa merasa asing dan ragu-ragu tetapi sebagi suatu periode berharga untuk mencari kebenaran serta memajukan persekutuan di antara umat manusia dan di antara bangsa-bangsa”Dengan tulus hati, Saya menyampaikan berkatku kepada kamu sekalianVatikan, 24 Januari 2008, Pesta St. Fransiskus de SalesPAUS BENEDIKTUS XVI
Diposting oleh Marsi McFlores Ragaleka di 07:17 0 komentar

SPE SALVI (TENTANG HARAPAN)
www.mirifica.net14 Desember 2007 11:03
Memasuki masa Adven, tepatnya tanggal 30 November 2007, Paus Benediktus XVI mengeluarkan Ensiklik keduanya. Ensiklik itu berjudul, Spe Salvi. Ensiklik tersebut menegaskan kembali pentingnya kebutuhan akan harapan dalam masyarakat modern dan pentingnya umat Kristiani memulihkan arti harapan yang sebenarnya.Paus memulai ensiklik 75 halamannya dengan menjelaskan bahwa “rahmat, sekalipun itu tidak mudah, dapat dihayati dan diterima jika tertuju kepada suatu tujuan dan jika tujuan itu diyakini benar dalam pencapaiannya”. Spe Salvi merupakan harta karun yang amat kaya dalam pembelajaran Paus, dengan referensi kehidupan para kudus dan Bapa Gereja. Ensiklik tersebut mengulas kebijaksanaan dan keutamaan harapan. Bapa Suci mengatakan, ”Pintu serba gelap tentang waktu, tentang masa depan, telah terbuka. Seseorang yang memiliki harapan akan hidup dengan cara yang berbeda. Seseorang yang memiliki harapan dianugerahi hadiah hidup baru.”Tentu saja, hal ini memunculkan pertanyaan, apa itu harapan? Paus menulis bahwa untuk mengenal Tuhan, Tuhan yang benar, berarti menerima harapan. Namun harapan kristiani berbeda. Mengacu pada Kitab Suci Perjanjian Baru, Paus menulis, Kekristenan tidak membawa pesan revolusi sosial seperti yang telah membawa sial bagi Spartacus, yang berjuang hingga mengakibatkan pertumpahan darah. Yesus bukanlah Spartacus, Dia tidak mengadakan pertempuran demi pembebasan politis. "Yesus… membawa sesuatu samasekali berbeda, ialah suatu persekutuan dengan Tuhan segala raja, suatu persekutuan dengan Tuhan yang hidup dan yang berkombinasi dengan harapan yang lebih kuat daripada penderitaan para budak. Suatu harapan yang karenanya mengubah hidup dan dunia dari dalam," demikian penjelasannya. "Hal ini jelas bukan menunjuk pada suatu roh dasar alam semesta, yang memerintah umat manusia dan dunia, melainkan Tuhan. Dialah yang menguasai alam semesta. Bukan zat dan evolusi yang menentukan segalanya, tetapi akal budi, kehendak, cinta Allah"Gagasan Kekristenan semacam itu mempengaruhi dunia, karena, “kuasa dahsyat unsur-unsur material yang tak dapat diubah, tidak lagi berkuasa. Karena manusia bukanlah budak dari alam semesta dan hukum-hukumnya. Manusia justru memiliki kehendak bebas." Umat Kristiani memiliki harapan hanya karena Yesus yang "mewartakan siapakah sebenarnya manusia dan apa yang seharusnya dilakukan manusia agar sungguh-sungguh menjadi manusia bagi sesama”.Sebagaimana ditulis dalam Kitab Ibrani 11:1, Bapa Suci menunjukkan pengaruh positif iman. "Iman bukanlah melulu suatu upaya menusia mencari sesuatu yang di luar dirinya dan sesuatu yang samasekali tidak jelas. Iman, pada saat ini pun, justru memberi kita sesuatu yang nyata, yang selama ini kita cari. Iman itu pula yang memberi sebuah “bukti” tentang berbagai hal-hal yang masih tidak terlihat. "Iman," tulis Paus, "memberi basis baru dalam kehidupan. Ialah suatu pondasi baru yang di atasnya kita dapat berdiri, sesuatu yang merelatifkan hal-hal material yang selama ini jadi andalan.Kehidupan KekalEnsiklik Paus tersebut bukan sesuatu yang abstrak. Paus memfokuskan pembahasan tentang kehidupan Kristiani modern. Paus mengajukan beberapa pertanyaan penting: Bagaimana kita menghidupi iman Kristiani dalam kehidupan? Apakah itu hidup yang berubah dan hidup yang memelihara harapan?” Bahkan yang lebih penting, ”Apakah kita sungguh-sungguh menginginkan hidup kekal?”"Barangkali, saat ini banyak orang yang menolak iman hanya karena tidak melihat dan menemukan prospek yang menarik tentang kehidupan kekal,” demikian dugaan Paus, ”Memang yang dibutuhkan manusia tidak hanya hidup kekal, tetapi hidup saat ini, sehingga gagasan hidup kekal dipandang sebagai suatu yang sulit. Karena itu, untuk melanjutkan kehidupan selamanya, sampai akhir, gagasan hidup kekal lalu dipandang sebagai kutuk daripada berkat”Konsekuensinya, ”ada pertentangan dalam sikap kita, yang menunjuk ke suatu pertentangan eksistensial mendalam dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, kita tidak ingin mati; demikian pula mereka yang mencintai kita, tidak ingin kita mati. Namun di sisi lain, kita ingin melanjutkan hidup dengan tanpa terbatas. Apakah memang dunia diciptakan seperti itu, lalu apa yang sebenarnya kita inginkan?"Untuk menjawab pertanyaan mendalam seperti ini, Spe Salvi mengacu pada pendapat St. Agustinus, yang mengatakan bahwa, "akhirnya yang sungguh-sungguh kita inginkan hanya satu hal, “hidup yang terberkati, hidup yang sederhana, ialah ' kebahagiaan."Iman Dan Harapan Jaman ModernBapa Suci memulai uraiannya tentang pemahaman Kristiani modern tentang harapan dengan bertanya, apakah harapan umat Kristiani bersifat individual? Dengan kata lain, apakah keselamatan seseorang tergantung hanya pada kehidupan pribadi seseorang, atau tergantung pada pelayanannya kepada sesama? Berkaitan dengan pertanyaan tentang sifat personal keselamatan, Sri Paus bertanya, "Bagaimana kita sampai pada penafsiran semacam ini tentang keselamatan jiwa dan bagaimana cara kita memahami bahwa gagasan Kristen sebagai suatu pencarian egois demi keselamatan yang menolak gagasan melayani sesama?”. "Visi yang terencana telah disempitkan di masa modern dan mengakibatkan krisis iman masa kini yang juga dapat disebut sebagai kisis harapan Kristiani,” kata Paus.Dalam perkembangan dari tahun ke tahun, ideologi kemajuan menganggap bahwa bahwa kebahagiaan terletak pada hal yang bisa dilihat, sesuai potensi yang ada dalam diri manusia yaitu suatu konfirmasi iman, sebagaimana yang berlangsung saat ini,” Pada saat yang sama, dua kategori semakin popular sebagai ukuran kemajuan, ialah akal budi dan kehendak bebas. Hasil pemikiran ini ialah, “kemajuan selalu terkait dengan perkembangan dominant akal budi, dan akal budi dianggap sebagai suatu kekuatan yang baik dan suatu kekuatan untuk kebaikan.””Kemajuan dengan demikian adalah kesalingtergantungan, ialah kemajuan menuju kebebasan yang sempurna." Sehingga, "dua konsep utama, akal budi dan kehendak bebas secara diam-diam telah ditafsirkan secara bertentangan dengan iman dan Gereja," kata Paus. Harus diakui, perkembangan ilmu pengetahuan modern telah mengurung iman dan harapan personal. Namun justru karena itu, semakin kelihatan bahwa dunia dan manusia jaman ini memerlukan Tuhan, ialah Tuhan yang benar. Ilmu pengetahuan memang mendukung kehidupan manusia, tetapi tidak mampu menembus sisi terdalam kehidupan manusia. Tepatlah jika, manusia ditebus hanya oleh kasih. Kasih itulah yang membingkai hidup sosial sebagai baik dan indah, dilengkapi sebuah harapan yang besar, pasti, penuh, dijamin Allah dan demi Allah yang adalah kasih. Allah itulah yang rela merendahkan diri dalam sosok Yesus, yang memberikan hidupNya demi keselamatan manusia dan di dalam Yesus pula manusia akan kembali pada akhir jaman. Hanya dalam Yesus kita menaruh harapan dan hanya dalam Dia kita menantikan kepenuhan harapan. Bersama Bunda Maria, BundaNya, Gereja menyongsong Sang Pengantin. Karena Yesus lebih dulu melakukan itu semua dengan penuh kasih, harapan dan iman yang ditunjukkan dalam kasih nyata. Sebuah kehadiranNya yang berdaya guna demi keselamatan manusia.Implikasi PolitisSebagaimana kita ketahui, gagasan baru tentang kemajuan telah mengakibatkan perubahan bersejarah. "Spe Salvi" menunjuk "dua langkah-langkah penting dalam perwujudan politis tentang harapan. Karena, kedua akal budi dan kehendak bebas, sangat penting dalam pengembangan harapan Kristiani.Perkembangan yang pertama ialah “Revolusi Perancis - suatu usaha untuk penerapan akal budi dan kehendak bebas sebagai kenyataan politis." Sepanjang abad kedelapanbelas, masyarakat “mempertahankan imannya dalam perkembangan jaman sebagai bentuk baru harapan manusia”. "Meskipun demikian," Puas mengisahkan, "perkembangan teknis dan industrialisasi yang sangat cepat mengakibatkan munculnya situasi sosial baru yang cepat pula: muncul kelas pekerja industri tertindas, yang disebut “kaum buruh industri”."Setelah revolusi kaum kaya pada tahun 1789 itu, tibalah giliran munculnya suatu revolusi baru, ialah revolusi kaum buruh"… "Karl Marx menggagas rapat umum dan mempromosikan pemikiran dan analisanya yang tajam untuk membentuk kelompok mayoritas baru ini. Gagasannya tentang sejarah, jelas-jela demi keselamatan manusia. Janjinya, analisanya dan pemikirannya yang jernih tentang perubahan radikal, masih menjadi daya tarik yang belum punah”Paus menyimpulkan "namun dalam gagasan Marx tentang kemenangan revolusi, justru kesalahan pokok Marx menjadi semakin jelas. Ia lupa bahwa manusia tetaplah manusia. Ia menafsirkan secara salah mengenai manusia dan kebebasan manusia. Ia lupa bahwa kebebasan selalu berpeluang menjadi kebebasan negatif yang sangat liar. Marx berpikir jika suatu saat sistem ekonomi diatur dengan rapi, segalanya akan secara otomatis teratur dengan rapi. Padahal tidak demikian. Kesalahan Marx yang terutama ialah gagasan tentang materialisme: manusia tidak melulu hasil kondisi-kondisi ekonomi dan tidaklah mungkin menebus manusia tanpa menciptakan suatu lingkungan ekonomi baik."Mungkin Meskipun SulitKeutamaan teologal tentang harapan terarah kepada keselamatan dan visi kebahagiaan. Semua itu hanya dapat diperoleh seseorang hanya karena rahmat Tuhan. Hal ini dikatakan profesor filsafat dari University of America, Robert Sokolowski mengomentari Ensiklik baru Paus Benediktus XVI tersebut.Ia mengatakan, "St. Thomas Aquinas, mempunyai beberapa keterangan sangat bagus tentang harapan. Ia menunjuk bahwa hal itu mengacu pada hal-hal yang mempunyai dua unsur: mungkin untuk mencapai, tetapi sulit. Jika sesuatu mustahil untuk dicapai, tentu kita tidak mengharapkan itu. Kita mungkin ingin bisa menjangkaunya, tetapi keinginan itu tipis akan berhasil. Tetapi kemudian pasrah.Kita mengetahui bahwa kita tidak bisa mencapai kebaikan yang baik semacam itu."Sebaliknya, jika sesuatu itu mungkin dan mudah untuk dicapai, maka kita tidak mengharapkannya. Kita akan berlalu begitu saja dan melakukan begitu saja. Aku tidak berharap bahwa aku akan makan siang hari ini, kecuali jika aku dalam situasi sangat putus-asa, atau aku baru saja makan siang,” demikian ia mencontohkan.Peran ImanPada jaman ini, pemahaman keutamaan teologal tentang harapan diarahkan pada visi kebahagiaan dan keselamatan manusia. Iman merupakan keutamaan teologal yang menyingkapkan kemungkinan itu kepada kita. .Iman mewahyukan kebenaran bahwa Tuhan telah menebus manusia dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Iman membuat segala sesuatu mungkin dan dapat dimengerti sehingga kita sebaiknya hidup bersatu dalam Tritunggal Mahakudus. ”Kita bersatu dalam keputraan Yesus. Iman Gereja menunjukkan kepada kita bahwa tujuan akhir kita tidak hanya di dunia ini dan dalam komunitas manusia, tetapi persatuan di surga dalam kehidupan Illahi. Sehingga hidup ini menjadi serba mungkin. Namun, hal itu tidak mudah."Sesungguhnya, tidak hanya sulit tetapi mustahil bagi kita, jika manusia mengandalkan kemampuan diri sendiri. Keselamatan manusia hanya karena karya Tuhan saja. Kita menyebutnya sebagai rahmat Tuhan semata. Karena itu, kita seharusnya tidak berharap di dalam diri kita sendiri, tetapi berharap di dalam Tuhan. Meskipun keselamatan itu karya dan rahmat Tuhan semata, namun berkatNya boleh kita alami.Iman, Bukan Optimisme"Keutamaan teologal tentang harapan berbeda dengan optimisme. Karena optimisme sifatnya duniawi. Layaknya sikap, di mana kita mengharapkan 'berbagai hal akan terjadi. Tentu hal ini bukan disposisi yang buruk, meskipun tidak realistis. Namun, hal-hal seperti itu merupakan suatu harapan duniawi, dalam kodrat manusia. Kita cenderung berpikir bahwa jika orang-orang melakukan kebebasan, akan tercipta kebaikan bersama. Inilah manfaat yang baik tentang harapan di balik gagasan demokrasi atau republik. Keduanya tampaknya tipe yang baik dalam urusan manusia, karena semakin banyak orang menyumbangkan talenta demi kebaikan bersama. Namun, "Teologi harapan meyakinkan tidak dalam konteks kodrat manusia, tetapi dalam relasi dengan Tuhan. Bukan pertama-tama dalam hubungan dengan manusia, tetapi dalam hubungan dengan keselamatan kekal”.
Dengan demikian, harapan kebaikan bersama menuntut syarat adanya keutamaan imanen, ialah menerima kebenaran-kebenaran Illahi, yang mewahyukan kepada kita dimensi yang sangat mungkin dari harapan. Karena, harapan pada gilirannya menggerakkan seseorang kepada cinta kasih, di mana manusia menanggapi kasih Tuhan. Manusia membalas mengasihiNya dan mengamalkan kasih kepada sesama. Itu semua hanya terjadi karena rahmat Tuhan semata. (A. Luluk Widyawan, Pr dari berbagai sumber)
Diposting oleh Marsi McFlores Ragaleka di 07:14 0 komentar

Korem Flores:Banyak Pertanyaan yang Belum Terjawab
http://www.mirifica.net/. (28 September 2007 16:28)
Rencana pembentukan Korem di Flores jalan terus. "Korem Flores, DanremMinta 66 Hektare Tanah", ini headline sebuah koran lokal baru-baru ini."Masyarakat Flores itu sekian ratus ribu, kalau yang menolak 50 orang ngapain kita pedulikan. Dia (masyarakat) boleh menolak, saya boleh juga bangun rumah (Korem) saya untuk kepentingan orang lebih banyak." Kata-kata tegas ini berasal dari mulut Panglima Kodam IX Udayana usai upacara HUTKodam IX Udayana, bulan Mei lalu (Detik.com 28/05/2007).Apa yang dikatakan tadi mirip dengan kata-kata Jenderal TNI Wiranto tatkala menanggapi penolakan pembentukan Korem di Flores pada tahun 1999 lalu. "Jadi itu bukan penolakan dari seluruh masyarakat, itu hanya reaksi dari beberapa masyarakat yang belum memahami permasalahan. Malah Korem mendapat tawaran tanah dari masyarakat setempat, itu kan luar biasa" (FP8/10/1999). Di atas basis hak dan kebebasan warga negara dan demi terciptanya TNI yang profesional, alasan-alasan di balik rencana pembentukan Korem di Flores yang kini muncul lagi harus diperiksa dengan saksama. Satu, ketika kita membandingkan statemen dari dua petinggi militer dari waktu yang berbeda itu, terang-benderang terlihat bahwa sikap dasar dalam memahami diri dan kekuasaan serta relasinya dengan warga tak ada perubahan signifikan. Masih seperti yang itu-itu juga. Kata-kata seperti "ngapain kita pedulikan"dalam komunikasi dengan rakyat rasanya menyebarkan aroma, maaf, tabiat arogansi. Dua, apa yang diperlihatkan kepada warga adalah suatu simplifikasi persoalan yang kebablasan. Rupanya ia adalah buah dari olah nalar antah-berantah. Masa, urusan pembentukan Korem di suatu pulau disahkan dengan hibah tanah dari seorang warga untuk tentara. Atau karena TNI sudah memiliki sekian hektar tanah. Atau, juga, dilegitimasi dengan desakan mereka yang disebut tokoh masyarakat dari Nageko itu dalam pertemuan dengan Danrem Wiraksakti Kupang baru-baru ini. Aneh, kalau bukan konyol.Tiga, total populasi Flores menurut BPS 2006 sebanyak 1.678.826 orang,kalau ditambah Lembata, harus ditambah lagi 98.646 orang. Pertanyaannya,dengan alat ukur apa kita tahu bahwa mereka yang menolak pembentukan Koremdi Flores itu jumlahnya 50 orang saja? Katakanlah ini adalah pernyataan retoris, yang dimaksudkan bahwa yang menolak kehadiran Korem di Flores itu hanyalah jumlah minoritas dari total populasi; dari mana kita tahu bahwa pernyataan ini benar? Jeblok dalam menjawab pertanyaan ini dengan data dan argumentasi yang kokoh yang terbuka pada ujian publik berarti membenarkan tuduhan bahwa adanya muslihat untuk melegitimasi suatu kepentingan yang bukanlah empunya rakyat kebanyakan.Pada masa Ordenya Jenderal TNI AD (purn.) Soeharto kita tahu bahwa KomandoTeritorial (Kodam, Korem, Kodim, Koramil, Babinsa) adalah salah satu pilar militerisme yang paling represif ketimbang pilar-pilar yang lain (FadjroelRachman, Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat, 2007). Sejujurnya, mengapa dan untuk apa Korem akan dibentuk di Flores? Demi stabilitas dan keamanan? Apa sesungguhnya ancaman riil terhadap stabilitas dan keamanan itu? Dalam ordenya Sang Jenderal tadi, alasan stabilitas dan keamanan itu dipakai secara manipulatif untuk melegitimasi berbagai tindakan kekerasan, dan itu tidak hanya satu, tetapi seribu satu. Empat, Rakyat sering diatasnamai dan tak jarang dikibuli. Kalau pembangunan Korem di Flores itu adalah demi kepentingan orang banyak, apa kandungan dari kepentingan orang banyak itu? Bukanlah tugas seorang petinggi TNI untuk menetapkan mana yang menjadi kepentingan orang banyak di Flores dan mana yang tidak. Tak boleh ada intimidasi. Bukankah, harga diri, hak dan kebebasan rakyat adalah suatu yang asasi dan tak boleh dikangkangi, walaupun pembetukan Korem di Flores itu dibuat atas nama kebaikan dan kepentingan umum yang senyatanya?S emoga warga dan TNI sendiri tidak sesat menafsir mandat dan tugas yang diberikan oleh rakyat kepada TNI. Tugas TNI mempertahankan kedaulatan bangsa adalah soal yang satu, memaksakan kehendak kepada rakyat, termasuk dengan kilah bahwa rakyat tak paham atau bodoh adalah soal yang lain. Dan ketika yang kedua ini terjadi, maka meminjam istilah penyair miskin kerontang Wiji Thukul, hanya satu kata: lawan. Ketika substansi statemen tadi, dan pernyataan-pernyataan yang mengesahkan kehadiran Korem di Flores pada waktu-waktu sebelumnya, tak dilandasi datayang valid dan analisis yang sahih tahulah kita bahwa statemen-statemenitu tak lain adalah pemaksaan kehendak kepada rakyat, khusunya di Flores.Yang ada di balik pemaksaan seperti itu adalah klaim monopoli kebenaran. Bukankah kita belum sepenuhnya keluar dari kebangkrutan yang dibuat oleh regime Jenderal Besar TNI (purn.) Soeharto, pemilik kebenaran, yang memenjarakan dan menghabisi demokrasi?Tatkala ide tentang pembangunan Korem di Flores itu dipaksakan pada tahun1999 selepas kekalahan militer dan politik Indonesia di Timor Lorosae sebagian besar orang Flores, masyarakat umum, aktivis NGO, mahasiswa,sekolah tinggi dan universitas, tokoh masyarakat, tokoh agama, wakil-wakil rakyat berteriak keras, sangat keras, bilang tidak melalui serangkaian demonstrasi dan berbagai petisi. Dengan alat ukur apa kita tahu bahwa cumadalam beberapa tahun elemen-elemen masyarakat itu kini tunduk angguksetuju dengan pembentukan Korem di Flores? Juga, ketika akhir tahun lalu rencana pembentukan Korem muncul lagi dan hendak dibangun di Moni, Ende, reaksi dan protes keras itu datang lagi.Api perlawanan itu membara, dahulu dan kini. Alasan-alasan yang dikemukakan seperti demi menjaga wilayah pulau-pulau kecil di sekitar NTTyang letaknya berdekatan dengan wilayah negara lain, ancaman dari Australia dan Timor Lorosae, juga kehadiran Korem akan memberikan keuntungan ekonomis bagi warga dipreteli guna melihat secara jelas manafakta, dan mana fiksi. Catatan khusus perlu dibuat tentang keuntungan ekonomis bagi warga yang diklaim melegitimasi kehadiran Korem di Flores. Kita tahu bahwa TNI diberi mandat untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara. Dan ini yangharus jadi alat ukur pokok eksistensi dan profesionalismenya; dia bukanlah sejenis Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) yang membantu uasaha-usaha produktif warga. Dalam soal ekonomi dan secara khusus bisnis, isu pokok yang selalu menjadi sorotan publik bukanlah keuntungan ekonomis bagi wargadimana suatu Korem berada tetapi gurita bisnis milik TNI. Kalau soal NTT yang akan dikonflikkan seperti Ambon dan Poso sebagaimana yang disinyalir oleh TNI baru-baru ini, terlepas dari alasan sinyalir itu nyata atau isapan jempol belaka, bukankah urusan ketertetiban dan keamanan warga itu adalah tanggung jawab aparat kepolisian, dan karenanya profesionalisme polisilah yang harus ditingkatkan? Mengapa tentara?Mengapa Korem? Apakah betul kehadiran tentara dalam jumlah banyak, dengan kulturnya seperti yang kita tahu selama ini, identik dengan terciptanya keamanan?Adanya pertanyaan-pertanyaan tadi bukanlah basis untuk menyimpulkan secara serampangan bahwa kita menolak apalagi mengolok-olok TNI. Tidak.Eksistensi TNI, dengan conditio sine quo non menjunjung tinggi HAM tentunya, dan pembentukan Korem di Flores itu adalah dua hal berbeda. Kitatak rela kalau di pulau kecil seluas cuma 14.000 km2 lebih ini ditempatkan tentara dalam jumlah sangat banyak tanpa urgensi kebutuhan nyata warga dan alasan-alasan yang sahih nalar. Apakah warga yang miskin, kekuarangan lahan dan sering didera rawan pangan ini membutuhkan Korem? Rasanya,orang-orang miskin itu bisa membedakan secara jelas apa yang mereka butuhkan antara tanah, pangan dan tentara.Tentu saja, tentang rencana pembentukan Korem di Flores, banyak keanehan dan pertanyaan belum terjawab. Seorang sahabat yang kini menjadi guest professor di Melbourne Australia ketika mengetahui bahwa sejumlah orang yang disebut tokoh masyarakat Nagekeo yang dipimpin oleh Kornelis Soi,anggota DPRD Nusa Tenggara Timur dari F-PDI Perjuangan mendesak agar Korem segera dibuka di Nagekeo kepada danrem 161/Wirasakti di Kupang beberapa waktu yang lalu menulis: "Saya masih di Melbourne, tapi suka ikut perkembangan di Flores. Banyak unsur yang aneh. Misalnya, 14 pemuda Nagekeo minta supaya Korem didirikan di sana, dan langsung Kupang setuju.Seandainya 14 pastor dari Ledalero minta supaya Korem TIDAK didirikan diFlores, apakah Kupang akan dengar dan bertindak dengan begitu cepat?"Tak harus guest professor yang bisa bertanya seperti itu. Rupanya orang-orang di kampung kelahiran saya, di Wolosoko, Ende yang tak belajar ilmu nalar, juga merasakan keanehan dari pertunjukkan di Kupang itu.
Eman J. Embu SVD Sekretaris Eksekutif Candraditya Research Centre for the Study of Religionand Culture, Maumere, Flores; e-mail: emanembu@gmail.com

Pesan Bapa Suci untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 42 pada 4 Mei 2008

01 Februari 2008 11:41

Media Komunikasi Sosial:
Pada persimpangan antara Pengacuan Diri dan Pelayanan.
Mencari Kebenaran untuk berbagi dengan orang lain.

Saudara-Saudari Terkasih,
1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini –“Media Komunikasi Sosial: Pada persimpangan antara pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain” – menekankan betapa pentingnya peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah Saya tandaskan dalam Pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggungjawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5).
2. Berkat perkembangan teknologi yang meroket, media telah memiliki kemampuan luar biasa yang serempak membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan sampai sekarang. Kita tidak dapat menyangkal sumbangsih yang diberikan oleh media dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi seperti peranannya yang menentukan dalam kampanye pemberantasan buta huruf dan kegiatan sosialisasi, pengembangan demokrasi dan dialog di antara bangsa-bangsa. Tanpa sumbangsih media, akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian di dunia, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa teristimewa bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. Benar bahwa secara keseluruhan media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga menjadi sarana pelayanan bagi terciptanya rasa setia kawan dan keadilan yang lebih besar bagi dunia. Sayangnya betapapun demikian, ia sedang berubah menjadi sistem yang bertujuan mendorong manusia untuk menyerah kepada agenda yang didikte oleh kepentingan-kepentingan digdaya masa sekarang. Begitulah kalau komunikasi digunakan untuk maksud-maksud idiologis atau demi reklame agresif produk-produk konsumen. Dengan dalih untuk menghadirkan realitas, media dapat mengukuhkan atau memaksakan model-model pribadi, keluarga atau kehidupan sosial yang menyimpang. Bahkan, agar bisa menarik perhatian para pendengar dan meningkatkan jumlah khalayak, ia tidak ragu-ragu mempraktikkan berbagai pelanggaran, hal-hal yang tidak sopan dan kekerasan. Media juga dapat memperkenalkan dan mendukung model-model pembangunan yang bukannya memperkecil malah memperbesar jurang teknologi antara negara-negara kaya dan miskin.
3. Umat manusia pada zaman sekarang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berlaku juga untuk media seperti yang telah Saya tandaskan dalam ensiklik Spe Salvi tentang makna ganda kemajuan yang di satu pihak memberikan kemungkinan baru untuk kebaikan tetapi pada pihak lain membuka begitu besar peluang untuk hal-hal yang jahat yang tidak pernah ada sebelumnya (bdk. No.22). Karena itu kita seharusnya bertanya apakah bijaksana membiarkan sarana komunikasi sosial dipakai untuk kemajuan diri sendiri atau membiarkan penggunaannya di tangan mereka yang memanfaatkan untuk memanipulasi kesadaran manusia. Apakah tidak ada suatu prioritas untuk memastikan bahwa media komunikasi itu tetap mengemban misi pelayanan bagi pribadi dan bagi kebaikan bersama dan bahwa media komunikasi membantu mengembangkan ”formasi etis manusia . . . pertumbuhan batin manusia” (ibid.)? Pengaruhnya yang luar biasa dalam kehidupan perorangan maupun dalam masyarakat telah diakui secara luas, tetapi sekalipun demikian, dengan melihat kenyataan sekarang ini, dibutuhkan perubahan peranan media yang radikal dan menyeluruh. Pada masa sekarang, kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa. Perubahan peranan yang membahayakan seperti ini telah diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh banyak pemimpin Gereja. Justru karena kita sedang berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) dimana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis, juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu, pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan, yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.
4. Peran yang dimainkan oleh media komunikasi sosial dalam masyarakat mestinya dianggap sebagai persoalan ’antropologis’ yang muncul sebagai tantangan kunci dalam milenium ketiga. Seperti yang kita saksikan dalam kehidupan manusia, dalam hidup perkawinan dan keluarga serta dalam isu-isu besar modern seperti perdamaian, keadilan, perlindungan terhadap mahkluk ciptaan, begitu juga di sektor komunikasi sosial terdapat matra-matra khas hidup manusia dan dimensi kebenaran yang berkaitan dengan pribadi manusia. Apabila komunikasi kehilangan daya penyangga etis dan menghindari diri dari pengawasan masyarakat maka ia tidak lagi menghiraukan sentra dan martabat luhur pribadi manusia. Dengan akibat, ia akan memberikan pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia, terhadap pilihan putusan manusia dan secara definitif menentukan kebebasan dan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang hakikih bahwa komunikasi sosial harus sungguh-sungguh membela pribadi dan menghormati martabat manusia secara utuh. Banyak orang berpikir bahwa dalam hal ini, dibutuhkan suatu ’info-etika’ sama halnya bio-etika di bidang kedokteran dan di bidang riset ilmiah yang berkaitan dengan kehidupan.
5. Media harus menghindarkan diri untuk menjadi juru bicara aliran materialisme ekonomi dan relativisme etika, bencana serius di zaman kita ini. Walaupun demikian ia dapat dan harus memberikan sumbangsihnya agar kebenaran tentang umat manusia dikenal, membelanya melawan segala yang berkeinginan mengabaikan dan memusnahkannya. Bahkan boleh dikatakan bahwa mencari dan menghadirkan kebenaran tentang manusia adalah panggilan terluhur komunikasi sosial. Dengan memanfaatkan berbagai cara yang dimiliki media untuk maksud dan tujuan seperti ini adalah suatu tugas yang mulia yang pada tempat pertama dipercayakan kepada penanggungjawab dan operator di bidang ini. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu, menyangkut kita semua di zaman globalisasi seperti sekarang, semua kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial. Media baru – secara istimewa telekomunikasi dan internet- sedang mengubah wajah komunikasi; dan barangkali ini merupakan peluang emas untuk mendisain, menjadikan wajah komunikasi menjadi lebih tampak yang oleh Pendahulu Saya Yohanes Paulus II, dianggap sebagai unsur-unsur kebenaran hakiki dan tak tergantikan dari pribadi manusia (bdk. Surat Gemba Perkembangan yang Cepat, 10).
6. Manusia merasa haus akan kebenaran, ia mencari kebenaran; hal ini terbukti melalui minat dan kesuksesan yang dicapai sekian banyak penerbitan, program-program atau film-film bermutu dimana kebenaran, keindahan dan keluhuran manusia termasuk matra keimanan manusia diakui dan ditampilkan secara baik. Yesus mengatakan: ”Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Kebenaran yang memerdekan kita adalah Kristus, karena hanya Ia sendirilah yang dapat memberikan jawaban yang penuh terhadap kehausan akan hidup dan akan kasih yang ada dalam hati manusia. Barangsiapa yang telah menemukan Dia dan dengan senang hati menerima pewartaanNya, ia berkeinginan untuk membagikan dan mengkomunikasikan kebenaran itu. Santu Yohanes menandaskan: ”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup . . .itulah yang kami wartakan kepada kamu, agar kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-NyaYesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1 Yoh 1:1-4).
Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar selalu ada para komunikator yang berani dan saksi-saksi kebenaran yang sejati, percaya akan mandat Kristus dan memiliki minat yang besar terhadap warta iman, para komunikator yang ”tahu menerjemahkan kebutuhan budaya modern, memiliki komitmen untuk menghidupi abad komunikasi tanpa merasa asing dan ragu-ragu tetapi sebagi suatu periode berharga untuk mencari kebenaran serta memajukan persekutuan di antara umat manusia dan di antara bangsa-bangsa”
Dengan tulus hati, Saya menyampaikan berkatku kepada kamu sekalian
Vatikan, 24 Januari 2008, Pesta St. Fransiskus de Sales

PAUS BENEDIKTUS XVI

SPE SALVI (TENTANG HARAPAN)

www.mirifica.net
14 Desember 2007 11:03

Memasuki masa Adven, tepatnya tanggal 30 November 2007, Paus Benediktus XVI mengeluarkan Ensiklik keduanya. Ensiklik itu berjudul, Spe Salvi. Ensiklik tersebut menegaskan kembali pentingnya kebutuhan akan harapan dalam masyarakat modern dan pentingnya umat Kristiani memulihkan arti harapan yang sebenarnya.
Paus memulai ensiklik 75 halamannya dengan menjelaskan bahwa “rahmat, sekalipun itu tidak mudah, dapat dihayati dan diterima jika tertuju kepada suatu tujuan dan jika tujuan itu diyakini benar dalam pencapaiannya”. Spe Salvi merupakan harta karun yang amat kaya dalam pembelajaran Paus, dengan referensi kehidupan para kudus dan Bapa Gereja. Ensiklik tersebut mengulas kebijaksanaan dan keutamaan harapan. Bapa Suci mengatakan, ”Pintu serba gelap tentang waktu, tentang masa depan, telah terbuka. Seseorang yang memiliki harapan akan hidup dengan cara yang berbeda. Seseorang yang memiliki harapan dianugerahi hadiah hidup baru.”
Tentu saja, hal ini memunculkan pertanyaan, apa itu harapan? Paus menulis bahwa untuk mengenal Tuhan, Tuhan yang benar, berarti menerima harapan. Namun harapan kristiani berbeda. Mengacu pada Kitab Suci Perjanjian Baru, Paus menulis, Kekristenan tidak membawa pesan revolusi sosial seperti yang telah membawa sial bagi Spartacus, yang berjuang hingga mengakibatkan pertumpahan darah. Yesus bukanlah Spartacus, Dia tidak mengadakan pertempuran demi pembebasan politis. "Yesus… membawa sesuatu samasekali berbeda, ialah suatu persekutuan dengan Tuhan segala raja, suatu persekutuan dengan Tuhan yang hidup dan yang berkombinasi dengan harapan yang lebih kuat daripada penderitaan para budak. Suatu harapan yang karenanya mengubah hidup dan dunia dari dalam," demikian penjelasannya. "Hal ini jelas bukan menunjuk pada suatu roh dasar alam semesta, yang memerintah umat manusia dan dunia, melainkan Tuhan. Dialah yang menguasai alam semesta. Bukan zat dan evolusi yang menentukan segalanya, tetapi akal budi, kehendak, cinta Allah"
Gagasan Kekristenan semacam itu mempengaruhi dunia, karena, “kuasa dahsyat unsur-unsur material yang tak dapat diubah, tidak lagi berkuasa. Karena manusia bukanlah budak dari alam semesta dan hukum-hukumnya. Manusia justru memiliki kehendak bebas." Umat Kristiani memiliki harapan hanya karena Yesus yang "mewartakan siapakah sebenarnya manusia dan apa yang seharusnya dilakukan manusia agar sungguh-sungguh menjadi manusia bagi sesama”.
Sebagaimana ditulis dalam Kitab Ibrani 11:1, Bapa Suci menunjukkan pengaruh positif iman. "Iman bukanlah melulu suatu upaya menusia mencari sesuatu yang di luar dirinya dan sesuatu yang samasekali tidak jelas. Iman, pada saat ini pun, justru memberi kita sesuatu yang nyata, yang selama ini kita cari. Iman itu pula yang memberi sebuah “bukti” tentang berbagai hal-hal yang masih tidak terlihat. "Iman," tulis Paus, "memberi basis baru dalam kehidupan. Ialah suatu pondasi baru yang di atasnya kita dapat berdiri, sesuatu yang merelatifkan hal-hal material yang selama ini jadi andalan.
Kehidupan Kekal
Ensiklik Paus tersebut bukan sesuatu yang abstrak. Paus memfokuskan pembahasan tentang kehidupan Kristiani modern. Paus mengajukan beberapa pertanyaan penting: Bagaimana kita menghidupi iman Kristiani dalam kehidupan? Apakah itu hidup yang berubah dan hidup yang memelihara harapan?” Bahkan yang lebih penting, ”Apakah kita sungguh-sungguh menginginkan hidup kekal?”
"Barangkali, saat ini banyak orang yang menolak iman hanya karena tidak melihat dan menemukan prospek yang menarik tentang kehidupan kekal,” demikian dugaan Paus, ”Memang yang dibutuhkan manusia tidak hanya hidup kekal, tetapi hidup saat ini, sehingga gagasan hidup kekal dipandang sebagai suatu yang sulit. Karena itu, untuk melanjutkan kehidupan selamanya, sampai akhir, gagasan hidup kekal lalu dipandang sebagai kutuk daripada berkat”
Konsekuensinya, ”ada pertentangan dalam sikap kita, yang menunjuk ke suatu pertentangan eksistensial mendalam dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, kita tidak ingin mati; demikian pula mereka yang mencintai kita, tidak ingin kita mati. Namun di sisi lain, kita ingin melanjutkan hidup dengan tanpa terbatas. Apakah memang dunia diciptakan seperti itu, lalu apa yang sebenarnya kita inginkan?"
Untuk menjawab pertanyaan mendalam seperti ini, Spe Salvi mengacu pada pendapat St. Agustinus, yang mengatakan bahwa, "akhirnya yang sungguh-sungguh kita inginkan hanya satu hal, “hidup yang terberkati, hidup yang sederhana, ialah ' kebahagiaan."
Iman Dan Harapan Jaman Modern
Bapa Suci memulai uraiannya tentang pemahaman Kristiani modern tentang harapan dengan bertanya, apakah harapan umat Kristiani bersifat individual? Dengan kata lain, apakah keselamatan seseorang tergantung hanya pada kehidupan pribadi seseorang, atau tergantung pada pelayanannya kepada sesama? Berkaitan dengan pertanyaan tentang sifat personal keselamatan, Sri Paus bertanya, "Bagaimana kita sampai pada penafsiran semacam ini tentang keselamatan jiwa dan bagaimana cara kita memahami bahwa gagasan Kristen sebagai suatu pencarian egois demi keselamatan yang menolak gagasan melayani sesama?”. "Visi yang terencana telah disempitkan di masa modern dan mengakibatkan krisis iman masa kini yang juga dapat disebut sebagai kisis harapan Kristiani,” kata Paus.
Dalam perkembangan dari tahun ke tahun, ideologi kemajuan menganggap bahwa bahwa kebahagiaan terletak pada hal yang bisa dilihat, sesuai potensi yang ada dalam diri manusia yaitu suatu konfirmasi iman, sebagaimana yang berlangsung saat ini,” Pada saat yang sama, dua kategori semakin popular sebagai ukuran kemajuan, ialah akal budi dan kehendak bebas. Hasil pemikiran ini ialah, “kemajuan selalu terkait dengan perkembangan dominant akal budi, dan akal budi dianggap sebagai suatu kekuatan yang baik dan suatu kekuatan untuk kebaikan.”
”Kemajuan dengan demikian adalah kesalingtergantungan, ialah kemajuan menuju kebebasan yang sempurna." Sehingga, "dua konsep utama, akal budi dan kehendak bebas secara diam-diam telah ditafsirkan secara bertentangan dengan iman dan Gereja," kata Paus. Harus diakui, perkembangan ilmu pengetahuan modern telah mengurung iman dan harapan personal. Namun justru karena itu, semakin kelihatan bahwa dunia dan manusia jaman ini memerlukan Tuhan, ialah Tuhan yang benar. Ilmu pengetahuan memang mendukung kehidupan manusia, tetapi tidak mampu menembus sisi terdalam kehidupan manusia.
Tepatlah jika, manusia ditebus hanya oleh kasih. Kasih itulah yang membingkai hidup sosial sebagai baik dan indah, dilengkapi sebuah harapan yang besar, pasti, penuh, dijamin Allah dan demi Allah yang adalah kasih. Allah itulah yang rela merendahkan diri dalam sosok Yesus, yang memberikan hidupNya demi keselamatan manusia dan di dalam Yesus pula manusia akan kembali pada akhir jaman. Hanya dalam Yesus kita menaruh harapan dan hanya dalam Dia kita menantikan kepenuhan harapan. Bersama Bunda Maria, BundaNya, Gereja menyongsong Sang Pengantin. Karena Yesus lebih dulu melakukan itu semua dengan penuh kasih, harapan dan iman yang ditunjukkan dalam kasih nyata. Sebuah kehadiranNya yang berdaya guna demi keselamatan manusia.
Implikasi Politis
Sebagaimana kita ketahui, gagasan baru tentang kemajuan telah mengakibatkan perubahan bersejarah. "Spe Salvi" menunjuk "dua langkah-langkah penting dalam perwujudan politis tentang harapan. Karena, kedua akal budi dan kehendak bebas, sangat penting dalam pengembangan harapan Kristiani.
Perkembangan yang pertama ialah “Revolusi Perancis - suatu usaha untuk penerapan akal budi dan kehendak bebas sebagai kenyataan politis." Sepanjang abad kedelapanbelas, masyarakat “mempertahankan imannya dalam perkembangan jaman sebagai bentuk baru harapan manusia”. "Meskipun demikian," Puas mengisahkan, "perkembangan teknis dan industrialisasi yang sangat cepat mengakibatkan munculnya situasi sosial baru yang cepat pula: muncul kelas pekerja industri tertindas, yang disebut “kaum buruh industri”.
"Setelah revolusi kaum kaya pada tahun 1789 itu, tibalah giliran munculnya suatu revolusi baru, ialah revolusi kaum buruh"… "Karl Marx menggagas rapat umum dan mempromosikan pemikiran dan analisanya yang tajam untuk membentuk kelompok mayoritas baru ini. Gagasannya tentang sejarah, jelas-jela demi keselamatan manusia. Janjinya, analisanya dan pemikirannya yang jernih tentang perubahan radikal, masih menjadi daya tarik yang belum punah”
Paus menyimpulkan "namun dalam gagasan Marx tentang kemenangan revolusi, justru kesalahan pokok Marx menjadi semakin jelas. Ia lupa bahwa manusia tetaplah manusia. Ia menafsirkan secara salah mengenai manusia dan kebebasan manusia. Ia lupa bahwa kebebasan selalu berpeluang menjadi kebebasan negatif yang sangat liar. Marx berpikir jika suatu saat sistem ekonomi diatur dengan rapi, segalanya akan secara otomatis teratur dengan rapi. Padahal tidak demikian. Kesalahan Marx yang terutama ialah gagasan tentang materialisme: manusia tidak melulu hasil kondisi-kondisi ekonomi dan tidaklah mungkin menebus manusia tanpa menciptakan suatu lingkungan ekonomi baik."
Mungkin Meskipun Sulit
Keutamaan teologal tentang harapan terarah kepada keselamatan dan visi kebahagiaan. Semua itu hanya dapat diperoleh seseorang hanya karena rahmat Tuhan. Hal ini dikatakan profesor filsafat dari University of America, Robert Sokolowski mengomentari Ensiklik baru Paus Benediktus XVI tersebut.
Ia mengatakan, "St. Thomas Aquinas, mempunyai beberapa keterangan sangat bagus tentang harapan. Ia menunjuk bahwa hal itu mengacu pada hal-hal yang mempunyai dua unsur: mungkin untuk mencapai, tetapi sulit. Jika sesuatu mustahil untuk dicapai, tentu kita tidak mengharapkan itu. Kita mungkin ingin bisa menjangkaunya, tetapi keinginan itu tipis akan berhasil. Tetapi kemudian pasrah.
Kita mengetahui bahwa kita tidak bisa mencapai kebaikan yang baik semacam itu."Sebaliknya, jika sesuatu itu mungkin dan mudah untuk dicapai, maka kita tidak mengharapkannya. Kita akan berlalu begitu saja dan melakukan begitu saja. Aku tidak berharap bahwa aku akan makan siang hari ini, kecuali jika aku dalam situasi sangat putus-asa, atau aku baru saja makan siang,” demikian ia mencontohkan.
Peran Iman
Pada jaman ini, pemahaman keutamaan teologal tentang harapan diarahkan pada visi kebahagiaan dan keselamatan manusia. Iman merupakan keutamaan teologal yang menyingkapkan kemungkinan itu kepada kita. .Iman mewahyukan kebenaran bahwa Tuhan telah menebus manusia dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Iman membuat segala sesuatu mungkin dan dapat dimengerti sehingga kita sebaiknya hidup bersatu dalam Tritunggal Mahakudus. ”Kita bersatu dalam keputraan Yesus. Iman Gereja menunjukkan kepada kita bahwa tujuan akhir kita tidak hanya di dunia ini dan dalam komunitas manusia, tetapi persatuan di surga dalam kehidupan Illahi. Sehingga hidup ini menjadi serba mungkin. Namun, hal itu tidak mudah."
Sesungguhnya, tidak hanya sulit tetapi mustahil bagi kita, jika manusia mengandalkan kemampuan diri sendiri. Keselamatan manusia hanya karena karya Tuhan saja. Kita menyebutnya sebagai rahmat Tuhan semata. Karena itu, kita seharusnya tidak berharap di dalam diri kita sendiri, tetapi berharap di dalam Tuhan. Meskipun keselamatan itu karya dan rahmat Tuhan semata, namun berkatNya boleh kita alami.
Iman, Bukan Optimisme
"Keutamaan teologal tentang harapan berbeda dengan optimisme. Karena optimisme sifatnya duniawi. Layaknya sikap, di mana kita mengharapkan 'berbagai hal akan terjadi. Tentu hal ini bukan disposisi yang buruk, meskipun tidak realistis. Namun, hal-hal seperti itu merupakan suatu harapan duniawi, dalam kodrat manusia. Kita cenderung berpikir bahwa jika orang-orang melakukan kebebasan, akan tercipta kebaikan bersama. Inilah manfaat yang baik tentang harapan di balik gagasan demokrasi atau republik. Keduanya tampaknya tipe yang baik dalam urusan manusia, karena semakin banyak orang menyumbangkan talenta demi kebaikan bersama. Namun, "Teologi harapan meyakinkan tidak dalam konteks kodrat manusia, tetapi dalam relasi dengan Tuhan. Bukan pertama-tama dalam hubungan dengan manusia, tetapi dalam hubungan dengan keselamatan kekal”.

Dengan demikian, harapan kebaikan bersama menuntut syarat adanya keutamaan imanen, ialah menerima kebenaran-kebenaran Illahi, yang mewahyukan kepada kita dimensi yang sangat mungkin dari harapan. Karena, harapan pada gilirannya menggerakkan seseorang kepada cinta kasih, di mana manusia menanggapi kasih Tuhan. Manusia membalas mengasihiNya dan mengamalkan kasih kepada sesama. Itu semua hanya terjadi karena rahmat Tuhan semata. (A. Luluk Widyawan, Pr dari berbagai sumber)

Korem Flores:Banyak Pertanyaan yang Belum Terjawab

http://www.mirifica.net/. (28 September 2007 16:28)

Rencana pembentukan Korem di Flores jalan terus. "Korem Flores, DanremMinta 66 Hektare Tanah", ini headline sebuah koran lokal baru-baru ini."Masyarakat Flores itu sekian ratus ribu, kalau yang menolak 50 orang ngapain kita pedulikan. Dia (masyarakat) boleh menolak, saya boleh juga bangun rumah (Korem) saya untuk kepentingan orang lebih banyak." Kata-kata tegas ini berasal dari mulut Panglima Kodam IX Udayana usai upacara HUTKodam IX Udayana, bulan Mei lalu (Detik.com 28/05/2007).Apa yang dikatakan tadi mirip dengan kata-kata Jenderal TNI Wiranto tatkala menanggapi penolakan pembentukan Korem di Flores pada tahun 1999 lalu. "Jadi itu bukan penolakan dari seluruh masyarakat, itu hanya reaksi dari beberapa masyarakat yang belum memahami permasalahan. Malah Korem mendapat tawaran tanah dari masyarakat setempat, itu kan luar biasa" (FP8/10/1999). Di atas basis hak dan kebebasan warga negara dan demi terciptanya TNI yang profesional, alasan-alasan di balik rencana pembentukan Korem di Flores yang kini muncul lagi harus diperiksa dengan saksama. Satu, ketika kita membandingkan statemen dari dua petinggi militer dari waktu yang berbeda itu, terang-benderang terlihat bahwa sikap dasar dalam memahami diri dan kekuasaan serta relasinya dengan warga tak ada perubahan signifikan. Masih seperti yang itu-itu juga. Kata-kata seperti "ngapain kita pedulikan"dalam komunikasi dengan rakyat rasanya menyebarkan aroma, maaf, tabiat arogansi. Dua, apa yang diperlihatkan kepada warga adalah suatu simplifikasi persoalan yang kebablasan. Rupanya ia adalah buah dari olah nalar antah-berantah. Masa, urusan pembentukan Korem di suatu pulau disahkan dengan hibah tanah dari seorang warga untuk tentara. Atau karena TNI sudah memiliki sekian hektar tanah. Atau, juga, dilegitimasi dengan desakan mereka yang disebut tokoh masyarakat dari Nageko itu dalam pertemuan dengan Danrem Wiraksakti Kupang baru-baru ini. Aneh, kalau bukan konyol.Tiga, total populasi Flores menurut BPS 2006 sebanyak 1.678.826 orang,kalau ditambah Lembata, harus ditambah lagi 98.646 orang. Pertanyaannya,dengan alat ukur apa kita tahu bahwa mereka yang menolak pembentukan Koremdi Flores itu jumlahnya 50 orang saja? Katakanlah ini adalah pernyataan retoris, yang dimaksudkan bahwa yang menolak kehadiran Korem di Flores itu hanyalah jumlah minoritas dari total populasi; dari mana kita tahu bahwa pernyataan ini benar? Jeblok dalam menjawab pertanyaan ini dengan data dan argumentasi yang kokoh yang terbuka pada ujian publik berarti membenarkan tuduhan bahwa adanya muslihat untuk melegitimasi suatu kepentingan yang bukanlah empunya rakyat kebanyakan.Pada masa Ordenya Jenderal TNI AD (purn.) Soeharto kita tahu bahwa KomandoTeritorial (Kodam, Korem, Kodim, Koramil, Babinsa) adalah salah satu pilar militerisme yang paling represif ketimbang pilar-pilar yang lain (FadjroelRachman, Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat, 2007). Sejujurnya, mengapa dan untuk apa Korem akan dibentuk di Flores? Demi stabilitas dan keamanan? Apa sesungguhnya ancaman riil terhadap stabilitas dan keamanan itu? Dalam ordenya Sang Jenderal tadi, alasan stabilitas dan keamanan itu dipakai secara manipulatif untuk melegitimasi berbagai tindakan kekerasan, dan itu tidak hanya satu, tetapi seribu satu. Empat, Rakyat sering diatasnamai dan tak jarang dikibuli. Kalau pembangunan Korem di Flores itu adalah demi kepentingan orang banyak, apa kandungan dari kepentingan orang banyak itu? Bukanlah tugas seorang petinggi TNI untuk menetapkan mana yang menjadi kepentingan orang banyak di Flores dan mana yang tidak. Tak boleh ada intimidasi. Bukankah, harga diri, hak dan kebebasan rakyat adalah suatu yang asasi dan tak boleh dikangkangi, walaupun pembetukan Korem di Flores itu dibuat atas nama kebaikan dan kepentingan umum yang senyatanya?S emoga warga dan TNI sendiri tidak sesat menafsir mandat dan tugas yang diberikan oleh rakyat kepada TNI. Tugas TNI mempertahankan kedaulatan bangsa adalah soal yang satu, memaksakan kehendak kepada rakyat, termasuk dengan kilah bahwa rakyat tak paham atau bodoh adalah soal yang lain. Dan ketika yang kedua ini terjadi, maka meminjam istilah penyair miskin kerontang Wiji Thukul, hanya satu kata: lawan. Ketika substansi statemen tadi, dan pernyataan-pernyataan yang mengesahkan kehadiran Korem di Flores pada waktu-waktu sebelumnya, tak dilandasi datayang valid dan analisis yang sahih tahulah kita bahwa statemen-statemenitu tak lain adalah pemaksaan kehendak kepada rakyat, khusunya di Flores.Yang ada di balik pemaksaan seperti itu adalah klaim monopoli kebenaran. Bukankah kita belum sepenuhnya keluar dari kebangkrutan yang dibuat oleh regime Jenderal Besar TNI (purn.) Soeharto, pemilik kebenaran, yang memenjarakan dan menghabisi demokrasi?Tatkala ide tentang pembangunan Korem di Flores itu dipaksakan pada tahun1999 selepas kekalahan militer dan politik Indonesia di Timor Lorosae sebagian besar orang Flores, masyarakat umum, aktivis NGO, mahasiswa,sekolah tinggi dan universitas, tokoh masyarakat, tokoh agama, wakil-wakil rakyat berteriak keras, sangat keras, bilang tidak melalui serangkaian demonstrasi dan berbagai petisi. Dengan alat ukur apa kita tahu bahwa cumadalam beberapa tahun elemen-elemen masyarakat itu kini tunduk angguksetuju dengan pembentukan Korem di Flores? Juga, ketika akhir tahun lalu rencana pembentukan Korem muncul lagi dan hendak dibangun di Moni, Ende, reaksi dan protes keras itu datang lagi.Api perlawanan itu membara, dahulu dan kini. Alasan-alasan yang dikemukakan seperti demi menjaga wilayah pulau-pulau kecil di sekitar NTTyang letaknya berdekatan dengan wilayah negara lain, ancaman dari Australia dan Timor Lorosae, juga kehadiran Korem akan memberikan keuntungan ekonomis bagi warga dipreteli guna melihat secara jelas manafakta, dan mana fiksi. Catatan khusus perlu dibuat tentang keuntungan ekonomis bagi warga yang diklaim melegitimasi kehadiran Korem di Flores. Kita tahu bahwa TNI diberi mandat untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara. Dan ini yangharus jadi alat ukur pokok eksistensi dan profesionalismenya; dia bukanlah sejenis Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) yang membantu uasaha-usaha produktif warga. Dalam soal ekonomi dan secara khusus bisnis, isu pokok yang selalu menjadi sorotan publik bukanlah keuntungan ekonomis bagi wargadimana suatu Korem berada tetapi gurita bisnis milik TNI. Kalau soal NTT yang akan dikonflikkan seperti Ambon dan Poso sebagaimana yang disinyalir oleh TNI baru-baru ini, terlepas dari alasan sinyalir itu nyata atau isapan jempol belaka, bukankah urusan ketertetiban dan keamanan warga itu adalah tanggung jawab aparat kepolisian, dan karenanya profesionalisme polisilah yang harus ditingkatkan? Mengapa tentara?Mengapa Korem? Apakah betul kehadiran tentara dalam jumlah banyak, dengan kulturnya seperti yang kita tahu selama ini, identik dengan terciptanya keamanan?Adanya pertanyaan-pertanyaan tadi bukanlah basis untuk menyimpulkan secara serampangan bahwa kita menolak apalagi mengolok-olok TNI. Tidak.Eksistensi TNI, dengan conditio sine quo non menjunjung tinggi HAM tentunya, dan pembentukan Korem di Flores itu adalah dua hal berbeda. Kitatak rela kalau di pulau kecil seluas cuma 14.000 km2 lebih ini ditempatkan tentara dalam jumlah sangat banyak tanpa urgensi kebutuhan nyata warga dan alasan-alasan yang sahih nalar. Apakah warga yang miskin, kekuarangan lahan dan sering didera rawan pangan ini membutuhkan Korem? Rasanya,orang-orang miskin itu bisa membedakan secara jelas apa yang mereka butuhkan antara tanah, pangan dan tentara.Tentu saja, tentang rencana pembentukan Korem di Flores, banyak keanehan dan pertanyaan belum terjawab. Seorang sahabat yang kini menjadi guest professor di Melbourne Australia ketika mengetahui bahwa sejumlah orang yang disebut tokoh masyarakat Nagekeo yang dipimpin oleh Kornelis Soi,anggota DPRD Nusa Tenggara Timur dari F-PDI Perjuangan mendesak agar Korem segera dibuka di Nagekeo kepada danrem 161/Wirasakti di Kupang beberapa waktu yang lalu menulis: "Saya masih di Melbourne, tapi suka ikut perkembangan di Flores. Banyak unsur yang aneh. Misalnya, 14 pemuda Nagekeo minta supaya Korem didirikan di sana, dan langsung Kupang setuju.Seandainya 14 pastor dari Ledalero minta supaya Korem TIDAK didirikan diFlores, apakah Kupang akan dengar dan bertindak dengan begitu cepat?"Tak harus guest professor yang bisa bertanya seperti itu. Rupanya orang-orang di kampung kelahiran saya, di Wolosoko, Ende yang tak belajar ilmu nalar, juga merasakan keanehan dari pertunjukkan di Kupang itu.


Eman J. Embu SVD Sekretaris Eksekutif Candraditya Research Centre for the Study of Religionand Culture, Maumere, Flores; e-mail: emanembu@gmail.com

Seminari Mataloko Memperkokoh Tradisi Humaniora

Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

TANGGAL 15 September 2004, Seminari Santo Yohanes Berkhmas Todabelu di Mataloko, Ngada, genap berusia 75 tahun. Usia tiga perempat abad itu terhitung sejak sekolah diberkati pendiriannya oleh Uskup Kepulauan Sunda Kecil, Mgr Arnold Vestraelen, SVD di Todabelu (Mataloko) 1929.Sekolah berpelindung St. Yohanes Berkhmans ini sebenarnya adalah relokasi dari tempat awalnya di Kampung Sikka (kini dalam wilayah Kabupaten Sikka, Flores). Dengan lima siswa awalnya, lembaga pendidikan khusus calon imam Katolik ini telah resmi berdiri di Sikka, 2 Februari 1926.Untuk mempersiapkan perayaan 75 tahun itu Romo Bernadus Sebho, Pr, Rektor Seminari Todabelu saat itu, mulai dengan menghimpun alumninya. Termasuk 368 orang yang terpanggil menjadi imam, 13 di antaranya menjadi uskup.Kelompok terakhir ini adalah Mgr. Gabriel Manek, Mgr. Paulus Sani Kleden, Mgr. Gregorius Menteiro, Mgr. Donatus Djagom, Mgr. Vitalis Djebarus, Mgr. Darius Nggawa, Mgr. Isaak Doera, dan Mgr. Antonius Pain Ratu. Lainnya adalah Mgr. Eduardus Sangsun, Mgr. Hilarius Moa Nurak, Mgr. G Khaerubim Pareira, Mgr. Michael Angkur, dan Mgr. Abdon Longinus da Cunha.Romo Bernadus berharap agar alumni berkenan hadir pada acara HUT almamaternya ke-75 itu. Tentu juga harapan pada alumni yang kemudian sukses berkiprah di luar altar gereja, antara lain Dr. Daniel Dhakidae dan Frans Meak Parera (di Jakarta), serta Valens Goa Doy (alm).Di Jakarta sejumlah alumni Seminari Todabelu punya kesibukan sendiri. "Alumni di Jakarta di bawah koordinasi Pak Frans Meak Parera dan Pak Daniel Dhakidae merampungkan buku khusus menangkap momentum 75 tahun Seminari St Berkhmans Todabelu," ujar Romo Bernadus Sebho, Pr.Saat itu, Bernadus Sebho belum memperoleh gambaran jelas perihal buku yang sedang digarap di Jakarta itu. Namun, ia memastikan isi buku itu dalam bentuk bunga rampai. "Kita tunggu saja, mudah-mudahan isi buku menjadi masukan berharga untuk pengembangan Seminari Todabelu ke depan," tuturnya.Sementara Seminari Menengah Todabelu sendiri juga dengan kesibukan serupa. Romo Johanes Songkares Pr, salah seorang pengajar sekolah calon imam itu, hingga pekan kedua Juli sedang larut dalam kesibukan merampungkan penulisan buku sejarah sekolah ini."Saya sangat berterima kasih atas bantuan buku yang kebetulan sangat dibutuhkan mendukung tulisan sejarah sekolah ini," ungkapnya di Mataloko.Buku yang dimaksud adalah Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya (Ignas Kleden, Juni 2004). Johanes Songkares yang akrab disapa Romo Nani mengaku sangat membutuhkan buku karya doktor sosiologi dari Universitas Bielefeld (Jerman) itu. "Saya membutuhkan gambaran lebih konkret perihal kurikulum sekolah seminari yang disebut-sebut mirip gymnasium di Eropa," jelasnya.Ignas Kleden yang kini mengajar pada program S2 dan S3 Jurusan Komunikasi FISIP UI dan program S2 Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara adalah alumni Seminari Menengah San Dominggo Hokeng di Kabupaten Flores Timur (Flotim), ujung timur Pulau Flores. Hokeng sendiri berlokasi sekitar 60 kilometer barat Larantuka, kota Kabupaten Flotim.Buku itu antara lain melukiskan pendidikan di lingkungan seminari merupakan masa latihan dan studi yang intensif. Separuh pendidikannya berorientasi kepada gymnasium di Eropa dan separuh lainnya mengikuti ketetapan pendidikan nasional Indonesia.Yang khusus dipelajari di seminari adalah bahasa Latin yang memakan porsi terbesar, enam kali dalam seminggu. Menyusul olahraga dan musik. Sementara bahasa Indonesia empat kali seminggu, namun pelajaran sastra tidak mendapat perhatian secukupnya.Tentang hal yang sama, Sindhunata (Humanisme dan Kebebasan Pers, 2001) menggambarkan melalui kurikulum yang mirip gymnasium, murid-murid diajak masuk ke dalam alam pikiran klasik. Lalu mendalami sastra klasik entah Latin, Yunani, Caesar, Cicero, Horatius atau Ovidius. Mengutip secara acak, katanya, pengalaman dan pendidikan yang kental dengan tradisi humaniora seperti itu selanjutnya melahirkan pandangan yang humanis.Tercakup di dalamnya adalah pencerdasan dan pencerahan akal budi, pergulatan suara hati, peradaban dan pembangunan kebudayaan.***MATALOKO, termasuk Seminari Todabelu, letaknya sekitar 19 kilometer timur Bajawa, Kota Kabupaten Ngada di Flores. Kawasan ini dikenal berhawa sejuk. Keseharian kawasannya tidak jarang berselimut kabut. Maklum saja karena letaknya di daerah ketinggian- sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.Kondisi itu secara tidak langsung mengharuskan penduduknya selalu berselimut tebal ditambah penutup kepala ala ninja yang lazim disebut "topi dingin" oleh masyarakat setempat. Topi ala ninja itu antara lain selalu dikenakan di kepala Romo Nani.Ketika dikunjungi, kompleks sekolah riuh terutama melalui salah satu gerbang masuk di sebelah timurnya. Suasana itu bersumber dari kesibukan para siswa yang baru kembali ke sekolah setelah sekitar dua minggu liburan.Para siswa tidak langsung masuk asrama yang juga dalam kompleks. Mereka harus menyelesaikan berbagai kewajiban seperti biaya asrama, uang sekolah dan lainnya melalui petugas khusus yang telah menunggu. Selanjutnya dengan kupon yang diperoleh, baru diperbolehkan masuk asrama. "Kompleks sekolah terasa sangat sepi selama siswa liburan," kata Romo Alex Dae, guru Bahasa Indonesia Seminari Todabelu.Seperti sekolah sejenisnya di Flores: Seminari Kisol (Manggarai) atau Seminari Hokeng di Flotim, siswa Seminari Todabelu tidak hanya dari Kabupaten Ngada. Mereka berasal dari seluruh pelosok NTT, bahkan dari Pulau Jawa, Irian Jaya, dan daerah lainnya. "Kalau suasana dan kompleksnya mendukung seperti ini, pantas saja selalu memungkinkan siswa untuk tekun belajar," kata Kepala Dinas Pendidikan Nasional Timika (Irian Jaya), Aloyisius You, spontan ketika mengantar putranya masuk Seminari Todabelu.Kompleks Seminari Todabelu didukung lahan seluas kurang lebih 70 hektar. Di antaranya 10 hektar khusus untuk persekolahan lengkap dengan berbagai fasilitas pendukungnya dari sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) hingga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).Sementara 60 hektar lainnya adalah lahan yang disediakan untuk perkebunan ditanami berbagai jenis buahan, jagung, kopi, cengkih, vanili, dan berbagai jenis tanaman lainnya. "Hasil dari lahan kebun ini diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah," tambah Romo Nani.Sebenarnya kurikulum pendidikan di Seminari Todabelu tidak jauh beda dengan kurikulum yang diterapkan di Seminari Menengah "Pius 12" Kisol (Manggarai), Seminari San Dominggo Hokeng (Flotim) atau sekolah khusus sejenis lainnya. (kcm)

KEBUDAYAAN FLORES


BUDAYA FLORES TIMUR

Flotim merupakan wilayah kepulauan dengan luas 3079,23 km2, berbatasan dengan kabupaten Alor di timur, kabupaten Sikka di barat utara dengan laut Flores dan selatan, laut Sawu.Orang yang berasal dari Flores Timur sering disebut orang Lamaholot, karena bahasa yang digunakan bahasa suku Lamaholot. Konsep rumah adat orang Flotim selalu dianggap sebagai pusat kegiatan ritual suku. Rumah adat dijadikan tempat untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan (wujud tertinggi yang mengciptakan dan yang empunya bumi). Pelapisan social masyarakat tergantung pada awal mula kedatangan penduduk pertama, karena itu dikenal adanya tuan tanah yang memutuskan segala sesuatu, membagi tanah kepada suku Mehen yang tiba kemudian, disusul suku Ketawo yang memperoleh hak tinggal dan mengolah tanah dari suku Mehen.Suku Mehen mempertahankan eksistensinya yang dinilainya sebagai tuan tanah, jadilah mereka pendekar-pendekar perang, yang dibantu suku Ketawo.Mata pencaharian orang Flotim/Lamaholot yang utama terlihat dalam ungkapan sebagai berikut:Ola tugu,here happen, lLua watana,Gere Kiwan, Pau kewa heka ana,Geleka lewo gewayan, toran murin laran.Artinya:Bekerja di ladang, Mengiris tuak, berkerang (mencari siput dilaut), berkarya di gunung, melayani/memberi hidup keluarga (istri dan anak-anak) mengabdi kepada pertiwi/tanah air, menerima tamu asing.


BUDAYA SIKKA

Sikka berbatasan sebelah utara dengan laut Flores, sebelah selatan dengan Laut Sabu, dan sebelah timur dengan kabupaten Flores Timur, bagian barat dengan kabupaten Ende. Luas wilayah kabupaten Sikka 1731,9 km2.Ibu kota Sikka ialah Maumere yang terletak menghadap ke pantai utara, laut Flores. Konon nama Sikka berasal dari nama suatu tempat dikawasan Indocina. Sikka dan dari sinilah kemungkinan bermula orang berimigrasi kewilayah nusantara menuju ke timur dan menetap disebuah desa pantai selatan yakni Sikka. Nama ini Kemudian menjadi pemukiman pertama penduduk asli Sikka di kecamatan Lela sekarang. Turunan ini bakal menjadi tuan tanah di wilayah ini.Pelapisan sosial dari masyarakat Sikka. Lapisan atas disebut sebagai Ine Gete Ama Gahar yang terdiri para raja dan bangsawan. Tanda umum pelapisan itu di zaman dahulu ialah memiliki warisan pemerintahan tradisional kemasyarakatan, di samping pemilikan harta warisa keluarga maupun nenek moyangnya. Lapisan kedua ialah Ata Rinung dengan ciri pelapisan melaksanakan fungsi bantuan terhadap para bangsawan dan melanjutkan semua amanat terhadap masyarakat biasa/orang kebanyakan umumnya yang dikenal sebagai lapisan ketiga yakni Mepu atau Maha. Secara umum masyarakat kabupaten Sikka terinci atas beberapa nama suku; (1) ata Sikka, (2) ata Krowe, (3) ata Tana ai, desamping itu dikenal juga suku-suku pendatang yaitu: (4) ata Goan, (5) ata Lua, (6) ata Lio, (7) ata Ende, (8) ata Sina, (9) ata Sabu/Rote, (10) ata Bura.Mata pencaharian masyarakat Sikka umumnya pertanian. Adapun kelender pertanian sbb: Bulan Wulan Waran - More Duru (Okt-Nov) yaitu bulan untuk membersihkan kebun, menanam, menyusul di bulan Bleke Gete-Bleke Doi - Kowo (Januari, Pebuari, Maret) masa untuk menyiangi kebun (padi dan jagung) serta memetik, dalam bulan Balu Goit - Balu Epan - Blepo (April s/d Juni) masa untuk memetik dan menanam palawija /kacang-kacangan. Sedangkan pada akhir kelender kerja pertanian yaitu bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agustus - September).


BUDAYA ENDE

Batas-batas wilayahnya yang membentang dari pantai utara ke selatan itu adalah dibagian timur dengan kabupaten Sikka, bagian barat dengan kabupaten Ngada, utara dengan laut Flores, selatan dengan laut Sabu. Luas kabupaten Ende 2046,6 km2, iklim daerah ini pada umumnya tropis dengan curah hujan rata-rata 6096 mm/tahun dengan rata rata jumlah hari hujan terbanyak pada bulan November s/d Januari.Daerah yang paling terbanyak mendapat hujan adalah wilayah tengah seperti kawasan gunung Kalimutu, Detusoko, Welamosa yang berkisar antara 1700 mm s/d 4000 mm/tahun.Nama Ende sendiri konon ada yang menyebutkannya sebagai Endeh, Nusa Ende, atau dalam literatur kuno menyebut Inde atau Ynde. Ada dugaan yang kuat bahwa nama itu mungkin sekali diberikan sekitar abad ke 14 pada waktu orang-orang maleyu memperdagangkan tenunan besar nan mahal yakni Tjindai sejenis sarung patola dalam pelayaran perdagangan mereka ke Ende.Ende/Lio sering disebut dalam satu kesatuan nama yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian sikap ego dalam menyebutkan diri sendiri seperti : Jao Ata Ende atau Aku ata Lio dapat menunjukan sebenarnya ada batas-batas yang jelas antara ciri khas kedua sebutan itu.Meskipun secara administrasi masyarakat yang disebut Ende/Lio bermukim dalam batas yang jelas seperti tersebut di atas tetapi dalam kenyataan wilayah kebudayaan (tereitorial kultur) nampaknya lebih luas Lio dari pada Ende.Pola pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula dari keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak) kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim di rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya secara tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun alang-alang.Lapisan bangsawan masyarakat Lio disebut Mosalaki ria bewa, lapisan bansawan menengah disebut Mosalaki puu dan Tuke sani untuk masyarakat biasa. Sedangkan masyarakat Ende bangsawan disebut Ata NggaE, turunan raja Ata Nggae Mere, lapisan menegah disebut Ata Hoo dan budak dati Ata Hoo disebut Hoo Tai Manu.


BUDAYA NGADA

Ngada merupakan kabupaten yang terletak diantara kabupaten Ende (di timur) dan Manggarai (di barat). Bajawa ibu kotanya terletak di atas bukit kira-kira 1000 meter di atas permukaan laut. Masyarakat ini dikenal empat kesatuan adat (kelompok etnis) yang memiliki pelbagai tanda-tanda kesatuan yang berbeda.Kesatuan adat tersebut adalah : (1) Nagekeo, (2) Ngada, (3) Riung, (4) Soa. Masing-masing kesatuan adat mempertahankan ciri kekrabatannya dengan mendukung semacam tanda kesatuan mereka.Arti keluarga kekrabatan dalam masyarakat Ngada umumnya selain terdekat dalam bentuk keluarga inti Sao maka keluarga yang lebih luas satu simbol dalam pemersatu (satu Peo, satu Ngadhu, dan Bagha). Ikatan nama membawa hak-hak dan kewajiban tertentu. Contoh setiap anggota kekrabatan dari kesatuan adat istiadat harus taat kepada kepala suku, terutama atas tanah. Setiap masyarakat pendukung mempunyai sebuah rumah pokok (rumah adat) dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal Ngadhu ulu Sao Saka puu.Rumah tradisional disebut juga Sao, bahan rumah terbuat seperti di Ende/Lio (dinding atap, dan lantai /panggungnya). Secara tradisional rumah adat ditandai dengan Weti (ukiran). Ukiran terdiri dari tingkatan-tingkatan misalnya Keka, Sao Keka, Sao Lipi Wisu, Sao Dawu Ngongo, Sao Weti Sagere, Sao Rika Rapo, Sao Lia Roda.Pelapisan sosial teratas disebut Ata Gae, lapisan menengah disebut Gae Kisa, dan pelapisan terbawah disebut Ata Hoo. Sumber lain menyebutkan pelapisan sosial biasa dibagi atas tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa = kuju, dan golongan rendah (budak). Ada pula yang membagi atas empat strata, Gae (bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja (bangsawan ketiga), dan Bheku (bangsawan keempat).Para istri dari setiap pelapisan terutama pelapisan atas dan menengah disebut saja Inegae/Finegae dengan tugas utama menjadi kepala rumah yang memutuskan segala sesuatu di rumah mulai pemasukan dan pengeluaran.Masyarakat Nagekeo pendukung kebudayaan Paruwitu (kebudayaan berburu), masyarakat Soa pendukung Reba (kebudayaan tahun baru, pesta panen), Pendukung kebudayaan bertani dalam arti yang lebih luas ialah Ngadhu/Peo, terjadi pada sebagian kesatuan adat Nagekeo, Riung, Soa dan Ngada.

BUDAYA MANGGARAI

Manggarai terletak di ujung barat pulau Flores, berbatasan sebelah timur dengan kabupaten Ngada, barat dengan Sealat sapepulau Sumbawa/kabupaten Bima, utara dengan laut Flores dan selatan dengan laut Sabu.Luas wilayah 7136,14 km2, wilayah ini dapat dikatakan paling subur di NTT. Areal pertanian amat luas dan subur, perkebunan kopi yang membentang disebahagian wilayahnya, curah hujan yang tinggi yaitu dalam setahun mencapai 27,574 mm, sepertiga dari jumlah itu (lebih dari 7000mm) turun pada bulan Januari.Ibu kota Manggarai terletak kira-kira 1200 meter di atas permukaan laut, di bawa kaki gunung PocoranakaPembentukan keluarga batih terdiri dari bapak, mama dan anak-anak yang disebut Cak Kilo. Perluasan Cak Kilo membentuk klen kecil Kilo, kemudian klen sedang Panga dan klen besar Wau.Beberapa istilah yang dikenal dalam sistim kekrabatan antara lain Wae Tua (turunan dari kakak), Wae Koe (turunan dari adik), Ana Rona (turunan keluarga mama), Ana Wina (turunan keluarga saudara perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang (saudara perempuan bapak), Ema Koe (adik dari bapak), Ema Tua (kakak dari bapak), Ende Koe (adik dari mama), Ende Tua (kakak dari mama), Ema (bapak), Ende (mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki), dan Enu (saudara wanita atau istri).Strata masyarakat Manggarai terdiri atas 3 golongan, kelas pertama disebut Kraeng (Raja/bangsawan), kelas kedua Gelarang ( kelas menengah), dan golongan ketiga Lengge (rakyat jelata).Raja mempunyai kekuasaan yang absolut, upeti yang tidak dapat dibayar oleh rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang bertugas memungut upeti dari Lengge (rakyat jelata). Kaum Gelarang ini merupakan penjaga tanah raja dan sebagai kaum penyambung lidah antara golongan Kraeng dengan Lengge. Status Lengge adalah status yang selalu terancam. Kelompok ini harus selalu bayar pajak, pekerja rodi, dan berkemungkinan besar menjadi hamba sahaya yang sewaktu-waktu dapat dibawah ke Bima dan sangat kecil sekali dapat kembali melihat tempat kelahirannya.


Sumber :Inang, Hidup dan BaktikuPenerbit TP. PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur1989, Penyunting : Alo Liliweri www.tamanbudayantt.net