Senin, 23 Februari 2009

Uskup Denpasar Ditahbiskan

Kamis, 19 Februari 2009 12:43 WIB
Laporan wartawan Frans Sarong

DENPASAR, KAMIS — Setelah lowong lebih dari setahun, Keuskupan Denpasar yang meliputi Bali dan Nusa Tenggara Barat akhirnya memiliki uskup baru, Mgr Silvester San Pr. Penahbisannya sedianya akan berlangsung sore ini oleh Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr, di Gereja Katedral Roh Kudus Denpasar, Bali.
Mgr Silvester San Pr menggantikan uskup sebelumnya, Mgr Benyamin Yosef Bria Pr, yang meninggal saat perawatan di Singapura, 18 September 2007.
Sebagaimana diakui Yoseph Yulius Diaz dari panitia, penahbisan Uskup Silvester San dihadiri antara lain Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Leopoldo Girelli, Kardinal Julius Kardinal Darmaatmadja Sj, Ketua KWI Mgr Martinus D Situmorang OFMCap bersama 31 uskup se-Indonesia. "Mudah-mudahan hujan tidak turun hingga upacara penahbisan berjalan nyaman," tutur Yoseph Yulius Diaz, Kamis (19/2) siang.
Mgr Dr Silvester San (48) asal Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Roben Robo dan Katharina Nere.
Doktor Teologi Biblis Urbanianum (1997) itu terakhir menjabat sebagai Praeses (Rektor) Seminari Tinggi Filsafat St Petrus Ritapiret di Kabupaten Sikka, Flores.

Uskup Baru Denpasar Prioritaskan KBG

Denpasar, Bali (UCAN) -- Pada 22 November, Takhta Suci mengumumkan pengangkatan Pastor Silvester San Tungga sebagai uskup Denpasar, lebih dari setahun setelah kematian pendahulunya. "Perasaan saya, saat mendapat kepercayaan ini, terkejut dan awalnya merasa berat juga, sebab jabatan uskup membutuhkan tanggung jawab yang besar," kata Uskup-terpilih San, rektor Seminari Tinggi St. Petrus di Ritapiret, bagian timur Pulau Flores, kepada UCA News via telepon pada 24 November. Keuskupan Denpasar yang berbasis di Denpasar, Bali, mencakup semua propinsi yang mayoritas berpenduduk Hindu itu dan Propinsi Nusa Tenggara Barat yang mayoritas berpenduduk Muslim.Uskup-terpilih itu mengakui bahwa ia hanya tahu bahwa umat Katolik di Keuskupan Denpasar merupakan minoritas, yang berjumlah 32.000 orang dari 6,9 juta penduduk."Dengan kondisi seperti ini maka perlu dibangun hubungan yang baik dengan umat mayoritas," katanya. Situasi di Flores yang mayoritas Katolik sungguh berbeda.Ketika ditanya tentang fokus pelayanan pastoralnya, Uskup-terpilih San mengatakan bahwa ia ingin mengembangkan Komunitas Basis Gerejani (KBG) seperti diimbau pada Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005. "Saya berharap agar Komunitas Basis Gerejani tidak sekedar sebagai kelompok doa, tetapi anggotanya harus saling memperhatikan dan memberdayakan," jelasnya.Mengomentari pengangkatan tersebut, Pastor Yosef Casius Wora SVD, yang menjadi administrator Keuskupan Denpasar sejak Uskup Benyamin Yosef Bria meninggal 18 September 2007, mengatakan kepada UCA News: "Perasaan saya senang, karena kita saat ini memang memerlukan seorang pemimpin dan Tuhan memberikannya tepat pada waktunya."Seraya menceritakan bahwa ia dan uskup yang baru diangkat itu pernah belajar di Seminari Tinggi St. Paulus di Ledalero, Flores, Pastor Wora mengatakan bahwa uskup yang baru diangkat itu "orang yang tekun dan tidak banyak bicara."Administrator itu berharap bahwa setelah mengetahui lebih banyak tentang situasi lokal, uskup baru itu akan meningkatkan persatuan di kalangan umat Katolik setempat dan memperteguh iman mereka. "Saya juga berharap Bapak Uskup nanti dapat bekerjasama dan menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah setempat. Semoga beliau mampu membawa keuskupan kita menjadi lebih baik di masa depan."Bernardus I Gusti Wisnu Purwadi, seorang Katolik asli Bali, ingin agar uskup baru itu melebur dalam budaya lokal. "Dari mana pun datangnya uskup yang baru, saya berharap (ia) bisa mengakar dalam budaya setempat, paling tidak dapat memahami budaya Bali sehingga Keuskupan Denpasar ini dapat berkembang dengan mengakar pada budaya setempat," kata pria awam itu.Seorang umat Katolik lainnya, Christina Herman, mengharapkan bahwa ia bisa bekerjasama dengan uskup baru itu untuk melanjutkan karya yang telah dirintis oleh almarhum Uskup Bria. "Saya berharap semoga Bapak Uskup yang baru dapat bekerjasama dalam semangat kasih dengan para karyawan keuskupan untuk meningkatkan pelayanan kepada umat," kata staf Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar itu.Uskup-terpilih San lahir 14 Agustus 1961 di Mauponggo, Kabupaten Ngada. Ia ditahbiskan menjadi imam untuk Keuskupan Agung Ende pada 29 Juli 1988. Ia kemudian berkarya di Seminari Menengah St. Yohanes Berchmans di Mataloko, Flores bagian tengah, hingga 1990. Di saat yang sama, ia juga menjadi pastor pembantu di Paroki Roh Kudus di Mataloko.Sejak 1990 hingga 1992, ia belajar teologi Kitab Suci dan mendapat gelar licentiat di Universitas Urbaniana Kepausan di Roma. Ia kemudian mengajar Kitab Suci di Seminari Tinggi St. Paulus hingga akhir 1994, dan kemudian kembali ke Universitas Kepausan Urbaniana untuk mengikuti program doktoral bidang teologi Kitab Suci. Sekembalinya ke Indonesia tahun 1997, ia mengajar di Seminari Tinggi St. Petrus, di mana ia diangkat sebagai rektor pada 2005.***
Sumber: UCANews

Tahbisan Uskup Baru



Written by KD at Tuesday, 17 February 2009

Uskup Keuskupan Denpasar Mgr. Dr. Silvester San, Pr akan ditahbiskan sebagai Uskup pada Kamis 19 Februari 2009 di Gereja Katedral Roh Kudus Denpasar.Misa tahbisan akan berlangsung pada pukul 15.00 Wita sampai selesai dengan Uskup pentahbis Mgr. Vinsensius Sensi Potokota, Uskup Agung Ende dan Uskup pendamping Mgr. Kherubim Pareira, SVD, Uskup Maumere dan Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, Uskup Larantuka.Tahbisan Uskup Keuskupan Denpasar Mgr. Dr. Silvester San, Pr akan berlangsung di Gereja Katedral Roh Kudus, Jl. Tukad Musi no. 1 Renon, Denpasar. Rangkaian acara tahbisan adalah Rabu tanggal 18 Februari 2009 dilaksanakan upacara Salve Agung, Kamis 19 Februari 2009 pukul 15.00 Wita Upacara Tahbisan, dan Jumat 29 Februari 2009, pukul 16.00, Misa Pontifical. Semua rangkaian acara ini dihadiri oleh Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Gireli, Ketua KWI Mgr. Martinus Dogma Situmorang, Julius Kardinal Darmaatmaja, para Uskup, para Imam, biarawan dan biarawati serta ribuan umat Katolik.Uskup Dr. Silvester San, Pr. Diangkat oleh Paus Benediktus XVI menjadi Uskup Denpasar dan diumumkan oleh Tahta Suci Vatican pada tanggal 22 November 2008. Mgr. Silvester San, Pr, lahir di Mauponggo Kabupaten Nagekeo Flores, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 14 Agustus 1961. Beliau adalah putera ke tiga dari Sembilan bersaudara, dari pasangan Roben Robo (ayah) dan Katharina No’o Nore (ibu).Mgr.Silvester San, Pr menyelesaikan pendidikan di SDK Maukeli, Seminari Menengah St. Yohanes Berkmans Todabelu Mataloko Ngada (SMP-SMA), Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere dan ditahbiskan menjadi imam praja Keuskupan Agung Ende pada tanggal 29 Juli 1988 oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, Uskup Agung Ende waktu itu.Setelah ditahbiskan sebagai imam beliau ditugaskan sebagai pastor pembantu paroki Roh Kudus Mataloko sambil mengajar di Seminari Todabelu. Pada tahun 1990 ia melanjutkan studi ke Universitas Urbaniarum Roma, mengambil spesialisasi Teologi Biblis dan tahun 1992 memperoleh gelar licenciat dengan tesis “The Mercy of God in the Parables of Luke 15”. Setelah menjadi Pembina para frater di Seminari Tinggi Ritapiret Maumere dan mengajar di STFK Ledalero tahun 1992-1995, ia kembali melanjutkan studi di Universitas Urbaniarum dan memperoleh gelar Doktor Teologi Biblis tahun 1997 dengan disertasi, “The Experience of the Risen Lord in Luke 24:1-35”. Tahun 1998 beliau kembali ke Indonesia dan menjadi staf Pembina Seminari Tinggi Ritapiret serta mengajar di STFK Ledalero. Tahun 2004 diangkat menjadi Praeser Seminari Tinggi Ritapiret. Tanggal 22 November 2008 diangkat menjadi Uskup Denpasar.Pengangkatan Mgr. Dr. Silvester San, Pr sebagai Uskup Denpasar karena tahta Keuskupan Denpasar mengalami Sede Vacante atau ‘Tahta Lowong’ semenjak wafatnya Mgr. Dr. Benyamin Yosef Bria, Pr pada tanggal 18 September 2007 lalu. Dengan pengangkatan Mgr. Dr. Silvester San, Pr sebagai Uskup Denpasar maka sejarah Keuskupan ini telah mencatat enam orang uskup yang secara berturut-turut memimpin umat katolik di wilayah Provinsi Bali dan NTB. Wilayah Gereja Bali dan Lombok ditetapkan oleh Tahta Suci Vatikan menjadi Prefektur Apostolik pada tanggal 10 Juli 1950 dan Mgr. Hubertus Hermens, SVD diangkat menjadi Prefektur Apostolik Denpasar. Mgr. Hubertus Hermens, SVD memilih tempat tinggal di Singaraja. Pada tanggal 3 Januari 1961 Tahta Suci Vatikan meningkatkan status Prefektur Apostolik Denpasar menjadi Uskup Denpasar. Tahta Suci mengangkat Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden, SVD sebagai Uskup Keuskupan Denpasar. Beliau lahir di Larantuka Flores Timur dan ditahbiskan sebagai Uskup tanggal 3 Oktober 1961 di Gereja Palasari. Di tengah siding Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI, kini KWI) tanggal 28 november 1971, Mgr. Dr. Paul Sani Kleden meninggal dunia di Jakarta.Tanggal 12 Januari 1973 Tahta Suci Vatikan menunjuk Mgr. Antonius Tjisen, SVD menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Denpasar. Mgr. Tjissen lahir di Baarle Belanda 26 Mei 1906. Tanggal 7 Juni 1982 Mgr. Antonius Tjissen meninggal dunia di RKZ Vinsensius Surabaya dan tanggal 9 Juni 1982 dimakamkan di Palasari.Pengganti Mgr. Tjissen adalah Mgr. Vitalis Djebarus, SVD. Beliau lahir di Wangkung, Manggarai, Flores tanggal 26 Februari 1929. Tanggal 13 Januari 1981 dilantik menjadi Uskup Keuskupan Denpasar menggantikan Mgr. Tjissen yang mundur dengan alas an kesehatan. Tanggal 22 September 1998 Uskup Denpasar Mgr. Vitalis Djebarus, SVD wafat di RS Katolik Sint Carolus Jakarta. Jenazahnya dibawa ke Denpasar tanggal 24 September1998 dimakamkan di Palasari.Tanggal 18 April 2000 Paus Yohanes Paulus II mengangkat Romo Benyamin Yosef Bria, Pr, imam praja dari Keuskupan Atambua menjadi Uskup Keuskupan Denpasar. Mgr. Dr, Benyamin Yosef Bria, Pr lahir di Oekabiti, Paroki Seon, Kabupaten Belu 7 Agustus 1956. Tahbisan Uskup Denpasar Mgr. Dr. Benyamin Yosef Bria, Pr berlangsung di Katedral Denpasar. Pada tanggal 18 September 2007 Mgr. Benyamin meninggal di Singapura dan dimakamkan di Palasari pada tanggal 22 September 2008.Mgr. Dr. Silvester San, Pr adalah Uskup ke enam yang memimpin umat Katolik di wilayah Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa. Dalam menjalankan pengabdiannya di Keuskupan Denpasar Mgr. Dr. Silvester San, Pr memilih motto “DEUS INCREMENTUM DEDIT” yang artinya “ALLAH YANG MEMBERI PERTUMBUHAN” (1 Korintus 3:7). Motto ini dilatarbelakangi oleh konteks Jemaat korintus yang minoritas dan heterogen; ada kelompok Paulus, Apolos, Kefas, dan lain-lain. Sering terjadi kompetsi antar kelompok-kelompok yang bisa menjurus pada knflik dan perpecahan. Dalam situasi itu Paulus menghimbau untuk bersatu: “Aku Paulus menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan; yang penting bukan yang menanam atau yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.Baik Paulus maupun Apolos adalah rekan-rekan sekerja Allah yang harus bekerja keras dan bekerja sama untuk pertumbuhan jemaat. Tetapi mereka perlu menyadari bahwa pertumbuhan jemaat bukan bergantung sepenuhnya pada mereka, melainkan pada Allah. Keuskupan Denpasar juga heterogen, mungkin motto ini juga cocok. Kesadaran pada peran Allah yang utama membuat kita para fungsionaris pastoral mau bersatu dan bekerja sama untuk pertumbuhan Keuskupan Denpasar tanpa merasa paling penting.****


Selasa, 27 Januari 2009

Paus Rehabilitasi Uskup Penyangkal Genosida Yahudi

Vatican, PK -
Paus Benedictus VII Sabtu merehabilitasi seorang uskup tradisionalis yang menyangkal "holocaust" (genosida atau pembasmian etnis Yahudi selama Perang Dunia Kedua) di tengah ancaman para pemimpin Yahudi yang menyebut keputusan itu secara serius bakal merusak hubungan Gereja Katolik - Yahudi dan membangkitkan sentimen anti Semit (anti Yahudi).
Vatican menyatakan Paus mengeluarkan dekrit yang membebaskan empat uskup tradisionalis dari sanksi pengucilan setelah keempatnya disingkirkan dari Gereja Katolik Roma pada 1988 akibat mengeluarkan tahbis tanpa seizin Vatican.
Keempat uskup ini mengepalai kelompok ultra konservatif di Vatican -- Society of Saint Pius X (SSPX)-- yang beranggota 600 ribu orang dan menolak modernisasi tata cara peribadatan dan doktrin Gereja Katolik.
Vatican mengungkapkan hukuman pengucilan terhadap mereka dicabut setelah para uskup itu menyatakan kesediaannya menerima ajaran Gereja Katolik Roma dan otoritas kepausan.
Dalam upaya menyembuhkan perpecahan berusia 20 tahun yang mencederai Gereja Katolik, dekrit Paus Benedictus ini tampaknya memicu krisis paling serius dalam hubungan Katolik-Yahudi dalam 50 tahun terakhir.
Salah seorang dari keempat uskup, yaitu Uskup kelahiran Inggris bernama Richard Williamson, berulangkali mengeluarkan pernyataan yang menyangkal sepenuhnya klaim telah terjadi "holocaust" (pembasmian etnis) oleh Nazi Jerman terhadap Yahudi Eropa seperti yang diyakini oleh umumnya sejarawan.
Dalam satu pernyataannya di sebuah televisi Swedia Rabu lalu, Richard Williamson berkata, "Saya tidak percaya ada kamar-kamar gas dan hanya sekitar 300.000 orang Yahudi yang binasa dalam kamp konsentrasi Nazi, bukan 6 juta orang."
Sebelum Gereja Katolik Roma mengumumkan pencabutan hukuman pengucilan terhadap para uskup itu, Kepala Rabbi Roma menyatakan bahwa rehabilitasi atas Uskup Richard Williamson akan membuka satu luka mendalam.
CRIF, payung organisasi Yahudi Prancis, menyebut sang uskup sebagai "seorang pendusta tercela yang hanya ingin membangkitkan kebencian berabad-abada terhadap Yahudi."Williamson membalas: "Saya percaya bahwa bukti sejarah menyangkal (klaim) 6 juta (orang) telah dibinasakan dalam kamar gas sebagai sebuah kebijakan penghapusan (Yahudi) oleh Adolf Hitler."
Vatican Bertahan
Saat ditanya mengenai pernyataan-pernyataan Richard Williamson, Kepala Juru Bicara Vatican Pastor Federico Lombardi mengatakan bahwa semua pernyataan sang uskup sepenuhnya tidak bisa dikaitkan dengan pencabutan sanksi pengucilan padanya.
"Hukum ini menyatakan mencabut periode pengucilan (kepada empat uskup tradisionalis)," kata Lombardi."
Itu tidak ada kaitannya dengan pendapat pribadi seseorang yang semuanya terbuka untuk dikritik, tapi tidak bertalian dengan dekrit ini," tandas Lombardi.
Elan Steinberg, Wakil Presiden American Gathering of Holocaust Survivors and their Descendants (Kumpulan Warga Amerika Korban Selamat Holocaust dan Garis Keturunannya), sebelum Vatican mengumumkan dekrit sudah menyebut keputusan itu melukai bangsa Yahudi.
"Untuk orang Yahudi dan semua orang yang kesakitan melewati tahun-tahun Shoah (malapetaka, istilah resmi Yahudi untuk "holocaust") yang penuh marabahaya, perkembangan (dari Vatican) ini menandai satu ledakan berbahaya terhadap dialog antaragama dan mempersubur para penjual kebencian dimanapun."
"Setiappastor Katolik yang mengikuti penyangkal 'holocaust' anti Semit adalah cabul," kata Abe Fixman, Direktur Liga Anti Defamasi di Amerika Serikat.
"Keputusan itu akan merusak hubungan Katolik-Yahudi dan ingatan jutaan orang Yahudi yang percaya karena mereka orang Yahudi."
Rabbi David Rosen, kepala hubungan antar agama pada Komite Yahudi Amerika (American Jewish Committee) meminta klarifikasi dari Vatican.
"Ini memang urusan internal Gereja, (namun) setiap pengakuan terhadap seorang penyangkal 'holocaust' adalah sangat mengganggu," katanya.
Hubungan Katolik-Yahudi pernah sangat tegang dibawah kepemimpinan Paus Pius XII (semasa Perang Dunia Kedua) yang dituduh orang Yahudi telah membutakan diri dari "holocaust.
"Kaum Yahudi meminta Vatican, yang kemudian ditolak Gereja, untuk membekukan prosedur bagi penganugerahan kesucian Paus Pius XII dengan mengkaji perannya selama Perang Dunia Kedua.
Paus Benedictus telah membuat beberapa isyarat untuk berekonsiliasi dengan kelompok-kelompok penyempal, termasuk mengizinkan pengembalian tanpa syarat tata cara Misa Latin gaya lama.
Langkah Vatican itu juga membuat marah orang Yahudi karena seremoni ini memasukkan doa Jumat Agung yang dianggap kontroversial oleh orang Yahudi. (antara)

Marsi,Bagaimana berhenti merasa iri terhadap Orang Kaya tetapi menjadi Orang Kaya!


Marsi,
Kebanyakan orang iri terhadap orang Kaya & Sukses dan menyangkal dirinya sendiri untuk menjadi kaya seperti mereka, Karena Mereka tidak percaya bahwa mereka juga mempunyai hak untuk menjadi Kaya, Mereka juga bisa menjadi Kaya.

Yang perlu mereka katakan pada diri mereka adalah:

Saya PATUT MENDAPATKAN-nya
Saya MEMERLUKAN-nya
Saya BERKOMITMEN untuk Mendapatkannya
Saya BISA Melakukannya.

Daripada hanya Berharap, Bermimpi, dan Melihat.
Rencanakan diri Anda untuk menjadi KAYA antara 5 - 7 Tahun dari sekarang dengan menggunakan alat paling kuat di Bumi - WAKTU

Melebihi Menghasilkan / Menciptakan, Bagaimana Mengendalikan, Daya Ungkit, Nilai Kali, Proteksi, Pertumbuhan, Jalan Keluar,

Marsi Ragaleka, Anda perlu mengetahui:
Rahasia dari Jutawan

Mengetahui apakah Anda akan menjadi Miskin atau Kaya dalam Hidup ini
Cetak Biru uang Anda
Pola dari Orang Kaya
Pernyataan Kekayaan Keuangan Anda

Strategi dari Orang Kaya menggunakan Bisnis, Properti, Stocks/Opsi
Strategi untuk menghasilkan $1Juta dalam 10 tahun dengan menggunakan $2500 setiap tahun
Bagaimana menghasilkan 30% - 4000% dalam 5 tahun
Dimana tempat terbaik untuk berinvestasi dalam Properti
Last but not Least - Anda tidak perlu Pintar untuk menjadi Kaya

Semoga Bermanfaat.

Salam Dahsyat!
Dahsyat.com
TDW Resources(021) 547 6677 - HUNTING
Jl Janur Hijau I, Blok AA-5 No. 16
Tangerang Banten 15810
Indonesia

Kamis, 15 Januari 2009

Big coffee drinkers hallucinate more: study

Wed Jan 14, 8:11 am ET

LONDON (AFP) – People who drink more than seven cups of coffee a day tend to hallucinate more than less caffeine-driven colleagues, according to a study published Wednesday.
Those with a high caffeine intake are three times more likely to have heard a non-existent person's voice than those who drink one cup a day, said the research by psychologists at Durham University.
But the study noted that the tendency to hear voices or have other hallucinations may not be caused by caffeine, but simply reflect the kind of people who drink lots of coffee.
"This is a first step towards looking at the wider factors associated with hallucinations," said Simon Jones, the PhD student who led the study.
"Previous research has highlighted a number of important factors, such as childhood trauma. Many such factors are thought to be linked to hallucinations, in part because of their impact on the body's reaction to stress."
Co-author Charles Fernyhough stressed that the study did not confirm a causal link between caffeine intake and hallucinations, noting also that three percent of people regularly hear voices in their head.
"One interpretation may be that those students who were more prone to hallucinations used caffeine to help cope with their experiences," he said.
"More work is needed to establish whether caffeine consumption, and nutrition in general, has an impact on those kinds of hallucination that cause distress."
The researchers now plan to study the impact of other forms of food and drink on hallucinations.
"It's surprising that there has been so little research into nutrition and hallucinations. In some countries high consumption levels of sugar and saturated fat are linked to poor mental health outcomes," said Jones.
"Given the link between food and mood, and particularly between caffeine and the body's response to stress, it seems sensible to examine what a nutritional perspective may add."

The study appears in the journal Personality and Individual Differences.

Mendidik Anak

Pepatah menyatakan "Anak adalah titipan dari yang kuasa" seperti juga pujangga besar Khalil Gibran, dalam sebuah puisinya yang sangat popular menyebutkan".... Mereka adalah putra putri kehidupan. Dari kita mereka ada...tetapi mereka bukanlah milik kita.....dst .Sesungguhnya, setiap manusia (anak atau dewasa), memiliki hak-hak yang melekat sejak dia menghirup oksigen di muka bumi ini. ". Ironisnya, banyak orang tua yang sering memperlakukan anak-anak mereka dengan semena-mena, otoriter, dengan anggapan, sampai kapanpun anakku adalah anak-anak, yang harus menuruti segala kehendak orang tua. Walaupun yang disebut anak itu mungkin saat ini telah memiliki anak-anak mereka sendiri. Orang tua = hakim ??
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, maka mendidik anak adalah seni kehidupan yang sangat unik dan spesifik. Setiap hari menyaksikan ulah anak-anak, dan begitu kenakalan terjadi, hati dan pikiran kita bereaksi, mau diapain anak ini? Cukup diberi pengertian? Atau diperingatkan keras? Atau harus dicubit? Atau .....?Saat itulah kita siap memvonis bagai seorang hakim. Maka, emosi, kebijaksanaan dan wawasan berpikir sebagai orang tua sangat menentukan, apakah anak merasa diperlakukan secara wajar dan adil oleh orang tuanya terhadap ulah mereka.
Pada sebuah seminar, ada seorang peserta yang bertanya tentang bagaimana kami mendidik anak? Dengan cara baru atau lama? Nah lho, mendidik anak dengan cara baru? (setiap anak melakukan kesalahan, cukup diberi pengertian). Dan cara lama? Dengan pukulan atau kekerasan! Menurut saya, mendidik anak tidak ada cara baru atau lama. Karena kita yang paling tau karakter anak-anak kita, maka cara apapun, asal tidak ekstrim, tidak masalah.
Apakah dalam mendidik anak perlu dipukul? Atau tindakan fisik?
Bagi saya, bila memang diperlukan, bisa saja dilakukan pemukulan (bukan dalam taraf membahayakan). Sekali lagi, kita lah yang paling tau karakter anak sendiri, selama niatnya baik dan kemudian diberi pengertian benar, saya yakin, sebuah pendidikan tidak berbatas pada vonis pemukulan berarti tindak kekerasan dalam rumah tangga. Tetapi lebih dari itu, mendidik anak berarti menghantar mereka dalam pembentukan karakter dan kepribadian sebagai bekal menjadi diri mereka sendiri. Sehingga dikemudian hari, mereka mampu tampil sebagai pribadi yang baik, berguna bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.
Karena setiap anak memiliki karakter khas yang berbeda satu sama lain, maka temukan metode dan mendidik anak sesuai dengan karakter mereka masing-masing sehingga anak tidak hanya mampu memperbaiki diri dari sebuah kesalahan tetapi juga terdorong untuk senang secara terus-menerus mengembangkan sisi baiknya. Penutup.
Keluarga adalah basis pendidikan yang paling utama, dan orang tua merupakan figure utama pendidik dalam keluarga. Keteladanan orang tua merupakan pola pendidikan yang paling ringkas, simple dan efektif. Kasih sayang dan komunikasi antar anggota keluarga ditambah dengan contoh nyata dari figure orang tua merupakan unsur penting dalam mendidik buah hati kita. Orang tua yang luar biasa adalah orang tua yang disegani, ditaati dan diteladani oleh anak-anaknya.

Selamat mengarungi samudra pendidikan anak.Salam sukses luar biasa !!!!