Jumat, 28 November 2008

Arkeolog Teliti Usia Fosil Gajah Purba di Ngada


KUPANG, PK-- Para arkeolog yang tergabung dalam satu tim akan melanjutkan penelitian tentang peninggalan arkeologi dan fosil di Metamenge, Mengeruda, Kabupetan Ngada. Tim ini beranggota lima orang, dua diantaranya berkebangsaan Denmark dan Belanda. Mereka akan meneliti secara khusus usia benda-benda peninggalan prasejarah mulai Kamis-Minggu (27-30/11/2008).Tim ini terdiri dari Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi Nusa Tengga Timur (NTT), Dra. Jublina Tode Solo, Gert van Den Bergh dari Wollongong University-New South Wales- Australia, Giten Jansen dari Quard Lab Roskilde University-Denmark dan Fahrul Aziz dari Museum Bandung.
Gert van Den Bergh yang didampingi Jublina Tode Solo di Kupang, Rabu (26/11/2008) malam, menjelaskan, penelitian terhadap fosil gajah purba dan peninggalan manusia purba di Mengeruda sudah dilakukan pada tahun 2007. Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui asal gajah purba dan peralatan manusia yang hidup pada zaman pleistosen (antara 1,6 juta tahun hingga 10 ribu tahun lalu).
Sementara penelitian yang dilakukan saat ini lebih fokus pada usia berbagai temuan itu. "Kita pernah ke sana tahun 2007, dan kedatangan kita ini tidak melakukan penggalian seperti tahun lalu. Kita hanya ambil contoh material di tempat itu untuk melakukan penelitian usia dari benda-benda temuan, seperti fosil gajah purba dan peralatan milik manusia yang hidup pada zaman itu," jelas Van Den Bergh.
Menurutnya, penentuan umur dari fosil tersebut untuk memastikan tahun hidup binatang tersebut. Demikian juga peralatan seperti pisau dari batu. Penelitian ini untuk memperkuat penelitian sebelumnya, bahwa manusia Flores sudah hidup pada zaman pleistosen.
Menjadi pertanyaan, demikian Van Den Bergh, asal-usul manusia yang menghuni dataran Mengeruda. Penelitian ini penting agar bisa diketahui apakah manusia Flores sudah ada pada zaman itu atau belum. Sebab, ada pula anggapan bahwa manusia belum ada pada zaman tersebut.
Dijelaskannya, dalam tim tersebut terdapat ahli umur arkeologi, Giten Jansen. Menurutnya, penelitian dilakukan dengan metode menguji bahan material sisa vulkanik.
Selain di Kabupaten Ngada, tim juga akan melakukan penelitian di Atambua. Sama dengan di Ngada, penelitian di Kabupaten Belu juga pernah dilakukan pada tahun 2006, sementara pada penelitian kali ini lebih fokus pada usia peninggalan manusia pada masa lalu. (alf)

Bupati Aoh Mulai Sosialisasi Visi dan Misi


MBAY, PK -- Bupati Nagekeo, Drs. Yohanes Samping Aoh dan wakilnya, Drs. Paulus Kadju selama dua hari, Senin dan Selasa (24-25/11/2008), mensosialisasikan visi dan misi kepada para kepala desa (kades), lurah, camat, pimpinan dinas, badan dan bagian lingkup di Setda Nagekeo. Sosialisasi visi dan misi itu dilakukan di Pondok SVD Danga-Mbay. Sosialisasi tersebut dilaksanakan untuk menyamakan persepsi semua aparat pemerintah tentang arah dan sasaran pembangunan di Nagekeo, lima tahun ke depan.
Demikian hasil pantauan Pos Kupang di Pondok SVD Danga-Mbay, Selasa (25/11/2008) pagi. Saat itu Bupati Nani Aoh mengibaratkan kondisi Nagekeo sekarang ini seperti pesawat yang akan take off (lepas landas) di bandara, dimana pilotnya masih mencari posisi agar pesawat bisa lepas landas dengan mulus dan sampai tujuan dengan selamat.
Bupati Aoh menjelaskan, mekarnya Nagekeo dari kabupaten induk, Ngada, bertujuan mengangkat harkat dan martabat masyarakat Nagekeo melalui pendekatan pelayanan pelayanan oleh pemerintah.
"Agar kerja itu baik dan berhasil, perlu ada kebersamaan dan solidaritas dalam membangun Nagekeo dengan motto 'Ingatkan yang Lupa, Benahi yang Tercecer dan Jemput yang Tertinggal'. Saling mengingatkan jika ada yang lupa, lalai dalam melaksanakan tugas dalam membangun. Sarana dan prasarana umum seperti jalan, air bersih yang belum dibenahi, harus kita benahi. Dengan begitu kita bisa mengejar ketertinggalan," kata Mantan Bupati Ngada ini.
Dia meminta semua pejabat pemerintah mulai dari kades/lurah, camat sampai pimpinan dinas/badan/bagianharus bisa membuat terobosan dalam melaksanakan tugas agar bisa membawa kemajuan.
Sesuai jadwal kegiatan sosialisasi yang diperoleh Pos Kupang, di hari pertama, Bupati Aoh dan Wabup Kadju mensosialisasikan visi dan misi serta memberi pembekalan kepada semua kades/lurah dan para camat. Semua tujuh camat dan 100 kepala desa/lurah hadir dalam acara tersebut.
Sedangkan di hari kedua, sosialisasi dan pembekalan diikuti para asisten, kepala dinas, kepala badan, kepala bagian dan semua PNS di Setda Nagekeo. (ris)

Kamis, 27 November 2008

Garuda Raksasa Nan Memukau di Cileungsi


Nurul Hidayati - detikNews

Kamis, 27/11/2008 09:40 WIB



Jakarta - Jika Anda rajin blogwalking atau menjenguk milis, mungkin Anda telah menemukan ini: bangunan raksasa Garuda Pancasila di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Anda layak berdecak kagum, tak habis pikir ternyata ada orang kita yang memiliki ide membangun Garuda Pancasila raksasa.Bangunan ini sejatinya sudah lama berdiri. Namun kedahsyatannya baru diketahui publik luas setahunan ini berkat teknologi google earth. Dari angkasa, bangunan itu memukau dengan desain Garuda Pancasila yang cukup jelas. Ada sayap, kepala, maupun perisai berlambang 5 sila.Bangunan apakah itu? Nama resminya adalah Graha Garuda Tiara. Jika ingin menyaksikannya, silakan masukkan koordinat S 6.417919 E 106.957672 ke google earth atau google map. Dengan mudah, tampilan bangunan Garuda Pancasila itu kentara.Sejumlah blogger telah menampilkan bahasan Graha Garuda Tiara ini dalam blognya. Disebutkan bahwa bangunan itu milik keluarga Cendana yang dibangun sekitar 1995 namun macet pada 1997. Para remaja yang terlibat Kirab Remaja Nasional, program reguler Orba, sering diinapkan di sini."Tampaknya kompleks gedung ini tidak lagi dipergunakan dan terbengkalai, tersangkut kasus dana Jamsostek senilai 75 milyar," tulis blog beralamat ryosaeba.wordpress.com.Sedangkan blog Arief di katawaktu.multiply.com mengisahkan bahwa kompleks Graha Garuda Tiara itu direncanakan rezim Soeharto sebagai kompleks olahraga, lengkap dengan hotel, yang konon untuk menandingi Senayan, kompleks olahraga peninggalan Soekarno.Arief menceritakan, dulu dia memiliki seorang teman yang bekerja sebagai front desk di Hotel Garuda Tiara Convention, Cileungsi. "Dari penuturannya, teman saya menceritakan bahwa hotel tersebut cukup mewah dan banyak dihuni oleh para ekspatriat yang bekerja di kawasan Bekasi, Cibinong dan sekitarnya," tulisnya. Seiring jatuhnya Soeharto dari kekuasaan, berakhir sudah riwayat Graha Garuda Tiara. Dari peta google earth, yang telihat hanya rumput ilalang yang memenuhi kawasan ratusan hektar itu. "Bangunan hotel yang tadinya berdiri megah kini menjadi rumah hantu," tulis Arief.(nrl/iy) -->

Monumen Banceuy yang Tak Bertuan


Kamis, 27/11/2008 09:03 WIB

Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Jalan Banceuy, jalan yang terletak di sebelah utara alun-alun Bandung ini menyisakan jejak sejarah perjuangan Presiden RI pertama Ir Soekarno. Soekarno pernah dibui di penjara Banceuy yang diabadikan melalui monumen penjara Banceuy.Tapi ketika menyusuri jalan ini tak tampak tanda-tanda atau petunjuk yang mengarahkan pada monumen bersejarah ini. Hanya deretan toko dan roda-roda penjual makanan yang tampak. Kuncinya adalah bertanya. Para pedagang yang sudah tak asing lagi dengan monumen tersebut akan menunjukan arahnya. Melalui jalan belakang Factory, gang yang berada di pinggiran Jalan Banceuy akan memapah pada gang lain yang terletak di sebelah kiri. Di antara bagian belakang bangunan-bangunan pertokoan, di situlah monumen penjara Banceuy ditemukan.Dikelilingi pagar-pagar besi pendek dengan dua bendera merah putih berkibar di sisi kiri dan kanan, monumen ini tampak begitu sepi. Seperti tak bernyawa, tak ada tulisan atau kata-kata apapun. Seolah Monumen Banceuy Tak Bertuan.Hanya tiga buah bangunan bercat putih yang mewakili nilai sejarah yang pernah ada di tempat ini. Satu menara penjagaan, satu lagi monumen yang di atasnya disimpan batu besar dan sebuah kamar nomor 5, tempat di mana Soekarno menghabiskan waktu delapan bulan di penjara ini.Bau pesing yang menyengat adalah ciri khas lain. Beberapa buah tulisan di tembok melarang siapa pun untuk buang air sembarangan. Monumen bersejarah ini pun kini jadi tempat jemuran. Entah milik siapa, tampak beberapa pakaian dijemur di sekeliling pagar.Penjara Banceuy dibangun pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1877. Di tempat ini terdapat dua macam sel, yaitu sel tahanan politik di lantai atas dan sel tahanan kriminal di lantai bawah. Para tahanan ditempatkan secara berurutan dari nomor 5 sampai 11.Soekarno ditangkap bersama empat kawannya yang lain di PNI. Soekarno menempati kamar di Blok F no 5 yang kini masih diabadikan di monumen Banceuy. Bendera merah putih tampak terlihat di salah satu dinding kamar berukuran 1x1,5 meter tersebut.Di sel sempit itu lah Soekarno memanfaatkan waktu menuliskan pembelaannya yang berjudul Indonesia Menggugat di pengadilan Landraad (sekarang Gedung Indonesia Menggugat) 30 Agustus 1930.Dalam catatannya, selama delapan bulan di penjara Banceuy Soekarno memaparkan dirinya berada dalam penahanan yang keras. Namun Soekarno juga menyebutkan di sini pula dirinya berkembang. 'Ruang penjara adalah sekolahku', demikian salah satu tulisan Soekarno.Sekolah Soekarno itu kini seperti tak bertuan, tak terawat. Sepi tanpa catatan. Padahal seyogyanya situs sejarah bisa menjadi sekolah bagi generasi selanjutnya. Seperti halnya Soekarno yang memanfaatkan tempat ini bagi dirinya belajar.

Selasa, 25 November 2008

Selamat Uskup San


Oleh FRANS OBON


Umat Katolik Keuskupan Denpasar boleh bergembira. Karena dalam waktu tidak terlalu lama, mereka mendapatkan uskup baru menggantikan almarhum Uskup Benyamin Yosef Bria, yang meninggal setahun lalu. Tahta Suci Paus Benediktus XVI, Sabtu (22/11) mengangkat Romo Silvester San Pr, Praeses Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere jadi Uskup Denpasar. Pengumuman pencalonannya di istana Keuskupan Maumere yang disiarkan melalui Radio Keuskupan Rogate disambut gembira umat Katolik. Pengangkatannya diumumkan juga di keuskupan-keuskupan di Flores.Romo San meraih doktor dalam bidang Teologi Biblis dari Universitas Urbanianum Roma, Italia (1995-1997). Dia ditahbiskan imam, 29 Juli 1988 di Maumere. Romo San lahir di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, 14 Agustus 1961. Uskup San meminta dukungan doa dari umat Katolik di Flores untuk tugas kegembalaannya di Keuskupan Denpasar nanti.Umat Katolik menyambut gembira pengangkatan seorang uskup bukan karena jabatan uskup itu sebuah prestise, melainkan karena tugasnya membimbing, menuntun umat Katolik menuju Guru Agung Yesus Kristus cukup sentral. Karena Uskup dengan tongkat kegembalaannya menuntun kawanannya di tengah arus zaman globalisasi yang begitu deras sekarang ini. Tugas uskup menjadi tidak ringan di tengah dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan duniawi, di tengah situasi sekularisme dan kapitalisme yang menggurita, di tengah transisi politik Indonesia menuju demokrasi. Seorang uskup harus dengan tekun merenungkan Sabda Tuhan, memelihara perbendaharaan iman (depositum fidei) dan menyiarkannya kepada orang-orang zaman ini. Seorang uskup yang dengan tekun berdoa dan mendengar bisikan Roh Kudus mewartakan iman dan moral kepada dunia zaman ini dan ajaran iman dan moralnya didengarkan sehingga menimbulkan ketaatan iman dan moral pula. Ketaatan iman dan moral itu tentu perkara ke dalam kehidupan Gereja Katolik sendiri. Tentu lebih berat lagi adalah bagaimana ajaran iman dan moral Gereja Katolik bergema di tengah kehidupan masyarakat yang makin plural, sehingga menarik orang-orang zaman ini.Dalam hal tertentu, pengangkatan ini adalah kebanggaan iman umat Katolik Flores. Kebanggaan keluarga-keluarga Katolik di Flores. Kebanggaan seminari-seminari di Flores. Flores kembali memberikan sumbangannya pada kepentingan Gereja Lokal di Indonesia. Bahkan kepada kepentingan Gereja universal. Kebanggaan ini tentu sekaligus menuntut tanggung jawab yang lebih besar agar keluarga-keluarga Katolik di Flores sungguh menjadi tempat persemaian iman Katolik yang benar di bawah bimbingan para uskup. Seminari-seminari menjadi tempat persemaian yang subur. Tempat para calon ditempah untuk mampu menjawab tuntutan zaman ini. Kita bangga, tapi serentak memberi kita tanggung jawab. Selamat kepada Uskup San.

Uskup Pertama Nagekeo, “Cina Toto”, Orangtua Berlatar Kong Ho Chu

Oleh: Beny Uleander
seminaritodabelumataloko.co.cc, Senin, 24 November 2008

Setelah lama menanti, akhirnya Keuskupan Sufragan Denpasar memiliki uskup baru. Paus Benediktus XVI mengangkat Rm. Dr. Silvester San Tungga, Pr asal Maukeli, Mauponggo, Nagekeo, NTT sebagai uskup Denpasar keenam untuk meneruskan tugas kegembalaan yang telah ditinggalkan mendiang Mgr Benyamin Yosef Bria, Pr.Saat ini, Rm San, demikian sapaannya, bertugas Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Maumere, Kabupaten Sikka dan dosen teologi di STFK Ledalero.Pengumuman resmi Takhta Suci Vatikan itu disampaikan secara oleh Administrator Keuskupan Denpasar, Rm Yosef Wora, SVD usai homili misa pertama di Katedral Renon, Denpasar, Minggu pagi, (23/11). Berita gembira tersebut disampaikan juga para pastor se-Keuskupan Denpasar saat misa hari Minggu.Hal yang mengejutkan, saya melihat reaksi dan respon umat saat mendengar pengumuman tersebut biasa-biasa saja. Memang ada tepukan tangan dari umat, tapi cuma sesaat lalu gereja kembali senyap. Tak ada aplaus meriah dan sikap antusiasme. Padahal kalau di Flores, pengumuman uskup baru disambut dengan tepukan tangan super meriah, suasana gereja menjadi gaduh, riuh seperti suara lebah, wajah umat terlihat gembira, ada ekspresi haru dan ada pula yang langsung menangis gembira karena sudah ada uskup baru.Saya bertanya-tanya dalam hati, ada apa? Kog datar-datar saja reaksi umat yang hadir misa pagi itu! Padahal sudah berminggu-minggu, umat di Keuskupan Denpasar setiap hari Minggu dalam perayaan ekaristi selalu berdoa mohon kehadiran uskup baru sesegera mungkin.Saya sendiri kaget campur haru mendengar pengumuman resmi tersebut. Pasalnya, Rm San pernah menjadi tim prefek (staf pembina) saat saya duduk di kelas satu SMP Seminari Mataloko selama setahun, 1989-1990. Langsung saya mengirim pesan singkat (SMS) ke Rm Feliks Djawa, Pr, Rm Vincent Delo Betu, OCarm, Rm, John Dhae, Pr, serta sejumlah rekan-rekan saya di Maumere dan Bajawa.Sempat terlintas di pikiran saya, jangan-jangan Rm San akan kembali menghadapi situasi serupa saat Mgr Benyamin Bria ditunjuk sebagai uskup baru Denpasar menggantikan Mgr Vitalis Djebarus, SVD. Yaitu reaksi penolakan secara halus dari “sekelompok” umat karena Takhta Suci tidak menunjuk ‘putra daerah’ keuskupan Denpasar menjadi uskup Denpasar. Saya sempat mendengar ceritera dari Pak Agus Thuru saat masih menjadi wartawan Fajar Bali, bahwa Mgr Benyamin Bria awal kehadirannya sempat disambut dingin. Bahkan pihak Vatikan pernah mewanti-wanti bahwa Gereja Katolik bersifat universal. Setiap imam atau pejabat gereja harus siap dan sepenuh hati mengembangkan tugas kegembalaan di mana saja di bawah kolong langit sesuai dengan penugasan otoritas gereja.Memang reaksi dingin umat dalam gereja yang mendengar pengumuman uskup baru itu benar-benar mengganggu kosentrasi doa saya. Saya kembali berusaha untuk berpikir positif. Apa mungkin karena umat di Bali sama sekali tidak tahu sosok calon uskup baru mereka. Ada pepatah mengatakan “tak dikenal maka tak disayang”.Saya kembali teringat akan Mgr Benyamin Bria yang dengan ketenangan, kesabaran, dan kewibawaannya berhasil memikat hati umatnya. Ia akhirnya disayangi, dirindukan kehadirannya dan didengar suara maupun pesan-pesan kegembalaannya. Eh..tau-tahu, Tuhan dengan cepat memanggil Mgr Benyamin untuk menjadi pendoa kita di rumah Bapa. Mgr Benyamin meninggal dunia di RS Mount Elisabeth, Singapura, 18 September 2007. Ia meninggal pada usia 51 tahun akibat penyakit lever yang dideritanya. Padahal sebelum jatuh sakit, Uskup Benyamin sempat menerima audiensi Solidaritas Jurnalis Katolik Bali (SJKB) yang saat itu diketuai Eman Djomba dan Apolo Daton. Kepergian Mgr Benyamin Bria yang masih muda dan energik meninggalkan rasa kehilangan mendalam di hati umat Keuskupan Bali. Prosesi pemakamannya dipadati ribuan umat Katolik. Semua itu menjadi tanda bahwa Mgr Benyamin telah menjadi bapa rohani mereka. Suaranya yang khas seakan masih bersemayam di langit-langit Katedral Renon.Saya berharap kehadiran Rm San kelak tidak menimbulkan sikap pro dan kontra. Karena kemarin sore saya sempat ke warung RW Atambua di areal taman bunga Hayam Wuruk (kebetulan saya menggelar syukuran atas anugerah kesembuhan ibu saya). Saat saya datang, sudah ada orang-orang timor yang berdiskusi soal uskup baru, Rm Silvester San. Ada orang Bali “blasteran” (Bali-NTT) yang berkomentar minor. “Kenapa gereja mengangkat orang yang tidak tidak punya latar belakang budaya Ngada? Kan dia orang Cina Toto? Agama leluhurnya Kong Ho Chu? Apa karena gereja kekurangan uang sehingga orang Cina diangkat menjadi uskup. Atau jangan-jangan uang-uang gereja akan parkir di bank tertentu?Saya termangu diam. Kog, ada ya umat yang pikirannya sempit…alias sepotong-sepotong. Ya sudah…anjing menggonggong, kafilah berlalu. Bagi orang Bajawa, anjing menggonggong berarti tidak lama lagi akan dijadikan “erwe”…he..he..he…Desas-desus bahwa uskup baru Denpasar lagi-lagi akan datang dari NTT sudah lama saya dengar. Saat berdiskusi dengan tokoh umat asal Flores, Bpk Paul Edmundus Tallo, saya mendengar kemungkinan besar calon uskup baru Denpasar adalah orang Bajawa. Ada tiga kandidat: P Hubert Muda, SVD (antropolog), Rm Bene Daghi, Pr (islamilog) atau Rm Silvester San, Pr (teolog biblis). Ketiganya pernah studi di Roma atau bergelar doktor di bidang teologi/filsafat. Akhirnya, Rm San lah yang dipilih Tuhan menjadi uskup Denpasar.Usai bertugas di Mataloko, Rm San setahu saya meneruskan studi teologi khusus mendalami kitab suci perjanjian lama di Roma. Saya kembali bertemu Rm San saat beliau didapuk sebagai staf pengajar teologi biblis di STFK Ledalero sekitar tahun 1998. Ia mengajar kami sejarah kitab-kitab Deuteronomis.Selama di seminari Mataloko, Rm San sangat disegani. Saya pernah gemetaran saat berbohong kepada Rm San. Saat itu, saya dan beberapa teman di antaranya Ever Longa, Hans Separ, Cici Ire, Elton Tenga, dan beberapa teman saya sudah lupa “pura-pura” sakit. Kami tidur-tiduran di asrama. Padahal saat orang belajar, kami di kamar tidur menggelar pesta “makan-makan kue”.Maklum saat itu, kami baru pulang liburan Natal dan tahun baru. Siswa seminari membawa banyak oleh-oleh dari kampong halamannya. Hampir setiap hari pasti ada “pesta meja” alias makan enak. Tong sampah sudah pasti dipenuhi sayur kol ulat yang tidak pernah dicicipi anak seminari. Saat makan, semua anak asrama memamerkan sambal ikan, dendeng buatan orangtua, dll.Saat asyik kami berpesta, tiba-tiba Rm San datang tanpa kami tahu. Langkah kakinya tak pernah kami dengar. Tau-tau Rm San sudah berada di dalam kamar tidur yang luas itu. Beruntung menjelang sore, suasana ruang tidur gelap. Lampu-lampu kamar tidur tidak dinyalakan saat siswa seminari belajar. Kami lari berhamburan ke tempat tidur masing-masing..pura-pura tidur alias sakit. Tanpa saya duga Rm San datang di samping tempat tidur saya.“Kamu tidak belajar,” tanya Rm San dengan nada dingin.“Saya sakit Romo,” jawab saya dengan suara dibuat-buat kayak orang demam. Padahal saya gemetar ketakutan.“Kamu tipu kan..pura-purat sakit,” sergah Rm San.Saya diam seribu bahasa sambil berdoa penuh harap mudah-mudahan saat itu juga Tuhan membuat saya jatuh sakit….Saya tidak tahu kapan Rm San berlalu dari samping tempat tidur saya. Yang pasti esok hari, pagi-pagi saya bangun dengan semangat juang 45, ke kapela untuk misa dan siap mengisi tahun ajaran baru. Semuanya saya buat karena takut “bertemu” Rm San di tempat yang salah. Kan bisa dicedok alias dikeluarkan dari seminari. Apalagi itu pengalaman awal saya berani-beraninya berdusta kepada seorang pastor. Mengerikan...suara hati jadi berantakan tidak karuan...Rasa salah menghantui diri saya. Setiap kali berpapasan dengan Romo San di lorong-lorong asrama saya tidak berani melihat wajahnya!Rm San terkenal sebagai pembina yang berjalan tanpa suara. Tanpa banyak omong. Dia hanya melihat lamaaaa sekali siswa seminari yang ribut atau berbuat onar. Sampai kami salah tingkah dan tidak tahu buat apa karena terus dipelototi oleh Baba Romo.Itulah sepenggal kisah saya dan Rm San yang masih tersimpan di memoriku. Seorang pastor praja keturunan Cina Toto, putra Baba Roben Robo, pengusaha asal Maukeli. Kulitnya jelas putih, suka bermain sepak bola dengan siswa seminari.Feeling bisnisnya juga tajam, mungkin pengaruh darah Cinanya. Koperasi Seminari yang dikelolanya sempat berkembang pesat. Banyak barang di kios koperasi, termasuk jajanan ringan yang membuat anak seminari jadi jarang bolos ke Boa Dona atau ke kios Mimosa Mataloko. Rm San kami mengucapkan proficiat.
Selamat ya Romo! Terima kasih Tuhan, kami di Bali sudah ada uskup baru!

Romo San Jadi Uskup Denpasar


KUPANG, PK -- Takhta Suci Vatikan telah menunjuk Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, Kabupaten Sikka, Romo Dr. Silvester San, Pr, menjadi Uskup Denpasar keenam menggantikan mendiang Mgr. Benyamin Bria, Pr. Paus Benediktus XVI mengumumkan pengangkatan Romo San di Vatikan, Sabtu (22/11/2008) pukul 12.00 waktu setempat (Roma, Italia) atau sekitar pukul 18.00 Wita.
Demikian informasi yang dihimpun Pos Kupang dari beberapa sumber semalam. Administrator Keuskupan Denpasar, P. Yoseph Wora, SVD, yang dihubungi Pos Kupang melalui hand-phone (HP)-nya dari Kupang ke Denpasar semalam mengatakan, umat Keuskupan Denpasar menyambut gembira penunjukan Romo San menjadi Uskup Denpasar. "Kami sudah sampaikan kepada semua pastor agar mengumumkan berita gembira ini hari Minggu (23/11/2008) dalam perayaan misa di gerejanya masing-masing, termasuk di Gereja Kathedral Denpasar," kata Pater Yoseph Wora.
Suasana gembira juga dirasakan komunitas Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Sikka. Salah seorang pembina di seminari yang mendidik calon imam diosesan ini, Romo Siprianus Hormat, Lic, menuturkan, para frater dan seluruh keluarga besar Ritapiret sudah mendengar pengumuman itu segera setelah takhta suci resmi mengumumkan penunjukan Romo San sebagai Uskup Denpasar.
"Bapak Uskup Maumere (Mgr. Kherubim Parera, SVD) yang meminta agar para frater harus mengetahui lebih dahulu hari ini. Karena itu, tadi di kapela ketika hendak latihan nyanyi, Romo Herman Yosef sudah membacakan kabar gembira tersebut. Suasana gembira sangat terasa sampai di meja makan dan jam rekreasi sekarang," kata imam asal Keuskupan Ruteng tersebut sekitar pukul 20.00 Wita.
Ia menjelaskan, Romo San adalah imam yang dari semua aspek pantas menjadi gembala umat. Menurutnya, ia mengenal Romo San sebagai dosen dan pendamping selama dirinya dibina di Ritapiret dan selanjutnya sebagai rekan pendamping saat ini. "Kepribadiannya yang kebapakan, disiplin dalam segala hal, tegas dan komunikatif. Romo San juga punya latar belakang akademik yang bagus (doktor dalam bidang kitab suci), anggota Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dan dosen di STFK Ledalero," tambahnya.
P. Yoseph Wora mengatakan, dengan pengangkatan Romo Dr. Silvester San menjadi Uskup Denpasar, berarti sudah enam uskup yang memimpin Keuskupan Denpasar. Uskup pertama, Mgr. Hermens, SVD (sebagai Perfect Apostolik), berturut-turut Mgr. Paulus Sani Kleden, SVD, Mgr. Antonius Theisen, SVD, Mgr. Vitalis Djebarus, SVD, dan Mgr. Benyamin Yosef Bria, Pr.
Untuk diketahui, Mgr. Benyamin Yosef Bria, Pr, meninggal dunia di sebuah Rumah Sakit Mount Elisabeth - Singapura, 18 September 2007. Ia meninggal pada usia 51 tahun akibat penyakit lever yang dideritanya.Keuskupan Denpasar mencakup Propinsi Bali yang mayoritas Hindu dan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mayoritas Islam. Keuskupan itu memiliki 24 paroki dan umat Katolik berjumlah 32.000 jiwa dari 6,9 juta total penduduk di kedua propinsi itu. (dar)


Sumber: Pos Kupang