Selasa, 27 Januari 2009

Marsi,Bagaimana berhenti merasa iri terhadap Orang Kaya tetapi menjadi Orang Kaya!


Marsi,
Kebanyakan orang iri terhadap orang Kaya & Sukses dan menyangkal dirinya sendiri untuk menjadi kaya seperti mereka, Karena Mereka tidak percaya bahwa mereka juga mempunyai hak untuk menjadi Kaya, Mereka juga bisa menjadi Kaya.

Yang perlu mereka katakan pada diri mereka adalah:

Saya PATUT MENDAPATKAN-nya
Saya MEMERLUKAN-nya
Saya BERKOMITMEN untuk Mendapatkannya
Saya BISA Melakukannya.

Daripada hanya Berharap, Bermimpi, dan Melihat.
Rencanakan diri Anda untuk menjadi KAYA antara 5 - 7 Tahun dari sekarang dengan menggunakan alat paling kuat di Bumi - WAKTU

Melebihi Menghasilkan / Menciptakan, Bagaimana Mengendalikan, Daya Ungkit, Nilai Kali, Proteksi, Pertumbuhan, Jalan Keluar,

Marsi Ragaleka, Anda perlu mengetahui:
Rahasia dari Jutawan

Mengetahui apakah Anda akan menjadi Miskin atau Kaya dalam Hidup ini
Cetak Biru uang Anda
Pola dari Orang Kaya
Pernyataan Kekayaan Keuangan Anda

Strategi dari Orang Kaya menggunakan Bisnis, Properti, Stocks/Opsi
Strategi untuk menghasilkan $1Juta dalam 10 tahun dengan menggunakan $2500 setiap tahun
Bagaimana menghasilkan 30% - 4000% dalam 5 tahun
Dimana tempat terbaik untuk berinvestasi dalam Properti
Last but not Least - Anda tidak perlu Pintar untuk menjadi Kaya

Semoga Bermanfaat.

Salam Dahsyat!
Dahsyat.com
TDW Resources(021) 547 6677 - HUNTING
Jl Janur Hijau I, Blok AA-5 No. 16
Tangerang Banten 15810
Indonesia

Kamis, 15 Januari 2009

Big coffee drinkers hallucinate more: study

Wed Jan 14, 8:11 am ET

LONDON (AFP) – People who drink more than seven cups of coffee a day tend to hallucinate more than less caffeine-driven colleagues, according to a study published Wednesday.
Those with a high caffeine intake are three times more likely to have heard a non-existent person's voice than those who drink one cup a day, said the research by psychologists at Durham University.
But the study noted that the tendency to hear voices or have other hallucinations may not be caused by caffeine, but simply reflect the kind of people who drink lots of coffee.
"This is a first step towards looking at the wider factors associated with hallucinations," said Simon Jones, the PhD student who led the study.
"Previous research has highlighted a number of important factors, such as childhood trauma. Many such factors are thought to be linked to hallucinations, in part because of their impact on the body's reaction to stress."
Co-author Charles Fernyhough stressed that the study did not confirm a causal link between caffeine intake and hallucinations, noting also that three percent of people regularly hear voices in their head.
"One interpretation may be that those students who were more prone to hallucinations used caffeine to help cope with their experiences," he said.
"More work is needed to establish whether caffeine consumption, and nutrition in general, has an impact on those kinds of hallucination that cause distress."
The researchers now plan to study the impact of other forms of food and drink on hallucinations.
"It's surprising that there has been so little research into nutrition and hallucinations. In some countries high consumption levels of sugar and saturated fat are linked to poor mental health outcomes," said Jones.
"Given the link between food and mood, and particularly between caffeine and the body's response to stress, it seems sensible to examine what a nutritional perspective may add."

The study appears in the journal Personality and Individual Differences.

Mendidik Anak

Pepatah menyatakan "Anak adalah titipan dari yang kuasa" seperti juga pujangga besar Khalil Gibran, dalam sebuah puisinya yang sangat popular menyebutkan".... Mereka adalah putra putri kehidupan. Dari kita mereka ada...tetapi mereka bukanlah milik kita.....dst .Sesungguhnya, setiap manusia (anak atau dewasa), memiliki hak-hak yang melekat sejak dia menghirup oksigen di muka bumi ini. ". Ironisnya, banyak orang tua yang sering memperlakukan anak-anak mereka dengan semena-mena, otoriter, dengan anggapan, sampai kapanpun anakku adalah anak-anak, yang harus menuruti segala kehendak orang tua. Walaupun yang disebut anak itu mungkin saat ini telah memiliki anak-anak mereka sendiri. Orang tua = hakim ??
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, maka mendidik anak adalah seni kehidupan yang sangat unik dan spesifik. Setiap hari menyaksikan ulah anak-anak, dan begitu kenakalan terjadi, hati dan pikiran kita bereaksi, mau diapain anak ini? Cukup diberi pengertian? Atau diperingatkan keras? Atau harus dicubit? Atau .....?Saat itulah kita siap memvonis bagai seorang hakim. Maka, emosi, kebijaksanaan dan wawasan berpikir sebagai orang tua sangat menentukan, apakah anak merasa diperlakukan secara wajar dan adil oleh orang tuanya terhadap ulah mereka.
Pada sebuah seminar, ada seorang peserta yang bertanya tentang bagaimana kami mendidik anak? Dengan cara baru atau lama? Nah lho, mendidik anak dengan cara baru? (setiap anak melakukan kesalahan, cukup diberi pengertian). Dan cara lama? Dengan pukulan atau kekerasan! Menurut saya, mendidik anak tidak ada cara baru atau lama. Karena kita yang paling tau karakter anak-anak kita, maka cara apapun, asal tidak ekstrim, tidak masalah.
Apakah dalam mendidik anak perlu dipukul? Atau tindakan fisik?
Bagi saya, bila memang diperlukan, bisa saja dilakukan pemukulan (bukan dalam taraf membahayakan). Sekali lagi, kita lah yang paling tau karakter anak sendiri, selama niatnya baik dan kemudian diberi pengertian benar, saya yakin, sebuah pendidikan tidak berbatas pada vonis pemukulan berarti tindak kekerasan dalam rumah tangga. Tetapi lebih dari itu, mendidik anak berarti menghantar mereka dalam pembentukan karakter dan kepribadian sebagai bekal menjadi diri mereka sendiri. Sehingga dikemudian hari, mereka mampu tampil sebagai pribadi yang baik, berguna bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.
Karena setiap anak memiliki karakter khas yang berbeda satu sama lain, maka temukan metode dan mendidik anak sesuai dengan karakter mereka masing-masing sehingga anak tidak hanya mampu memperbaiki diri dari sebuah kesalahan tetapi juga terdorong untuk senang secara terus-menerus mengembangkan sisi baiknya. Penutup.
Keluarga adalah basis pendidikan yang paling utama, dan orang tua merupakan figure utama pendidik dalam keluarga. Keteladanan orang tua merupakan pola pendidikan yang paling ringkas, simple dan efektif. Kasih sayang dan komunikasi antar anggota keluarga ditambah dengan contoh nyata dari figure orang tua merupakan unsur penting dalam mendidik buah hati kita. Orang tua yang luar biasa adalah orang tua yang disegani, ditaati dan diteladani oleh anak-anaknya.

Selamat mengarungi samudra pendidikan anak.Salam sukses luar biasa !!!!

The Choice Is In Your Hand

Siapa yang bertanggung jawab atas semua kondisi hidup Anda sekarang ?
Anda sendiri ? Atau justru Orang lain ?

Banyak orang memilih untuk menyalahkan pihak lain seperti atasan mereka di perusahaan, keluarga atau pasangan hidupnya, sistem pemerintahan, dan ironisnya juga menyalahkan Yang Kuasa atas semua kegagalan yang di alaminya. Sayangnya tidak banyak yang menyadari bahwa peran dan tindakan yang mereka ambil di masa lampau adalah salah satu penentu atas apa yang terjadi pada hidupnya sekarang.

Apapun yang sudah Anda lakukan baik itu positif ataupun negatif, Anda sendirilah yang mengambil pilihan itu dan logikanya semua yang terjadi atas Anda adalah tergantung Anda sendiri bukan orang lain.

Anda beli motor untuk dikendarai, Anda memilih pekerjaan, Anda berasosiasi dengan kelompok tertentu, Anda membaca buku pilihan Anda, Anda menonton acara televisi, bahkan koran yang Anda baca, dan artikel yang Anda baca saat ini semuanya atas dasar pilihan yang telah Anda buat.

Semua pilihan yang Anda buat punya dampak untuk orang lain, terutama untuk diri Anda sendiri. Pilihan yang Anda ambil hari ini akan membawa dampak yang dahsyat untuk masa depan Anda.

Cara pandang dan cara kita memahami sesuatu yang terjadi disekeliling kita, semuanya murni tergantung pada diri Anda. Ketika Anda berkenalan dengan seseorang, Anda bisa memilih untuk melihat sisi baiknya atau fokus kepada kekurangan yang dimilikinya. Anda tentu masih ingat sebuah analogi mengenai gelas yang terisi setengah, manusia memiliki pilihan bagaimana melihatnya. Jika Anda cukup optimis maka Anda akan mengatakan setengah penuh atau jika Anda begitu pesimis Anda akan mengatakan setengah kosong.

Mereka yang optimis akan cukup senang karena dibenaknya berpikir bahwa masih ada setengah gelas air yang dapat saya minum, sementara mereka yang pesimis akan mengeluh karena hanya berpikir setengahnya kosong dan menganggapnya sebagai kekurangan.

Dalam hidup ini, Anda dapat memilih untuk hanya melihat hambatan dan rintangan atau Anda justru memilih untuk melihat sebuah tantangan sebagai pengalaman unik dan baru.

Selamat mengambil pilihan!

Ignatius Muk Kuang
------------------------
"Think and Act like a Winner"

Trainer, Speaker (Motivation, Self-Development, Salesmanship, Presentation, Public Speaking)
Actively write some articles related to People Development

Kamis, 08 Januari 2009

Vatikan Sebut Israel 'Pencipta Kamp Konsentrasi'


Kompas, Kamis, 8 Januari 2009 11:08 WIB

ROMA, KAMIS — Pejabat yang ditunjuk Paus Benediktus untuk masalah keadilan dan perdamaian mengeluarkan kecaman terkeras Vatikan terhadap Israel sejak berkobarnya krisis Timur Tengah terbaru dengan menggambarkan Jalur Gaza seperti kamp konsentrasi besar. Kardinal Renato Martino, pemimpin Dewan Vatikan untuk Keadilan dan Perdamaian, mengeluarkan komentarnya dalam wawancara yang dimuat di surat kabar online Italia, Il Sussidiario.net."Penduduk yang tak berdaya selalu dijadikan korban. Lihatlah keadaan di Jalur Gaza, kian lama kian menyerupai sebuah kamp konsentrasi yang besar," kata Martino. Paus Benediktus telah menyampaikan permohonan terbuka agar kekerasan di Jalur Gaza diakhiri.Namun, Paus belum menyampaikan kritik secara terbuka terhadap Israel. Paus Benediktus direncanakan mengunjungi tempat-tempat suci di Jordania, Israel, dan Tepi Barat Sungai Jordan, yang diduduki-Israel, Mei tahun ini.

Pekerja Pariwisata ASEAN Disetarakan


Rabu, 7 Januari 2009 19:49 WIB
Laporan wartawan Kompas Suhartono

HANOI, RABU — Sepuluh menteri negara-negara ASEAN, di sela-sela pertemuan tahunan bidang pariwisata ASEAN Tourism Forum (ATF), Jumat (9/1) lusa, akan menandatangani perjanjian timbal balik pengakuan kompetensi pariwisata atau mutual recognition arrangement (MRA).
Dengan perjanjian tersebut, ke-10 negara ASEAN dapat saling mengakui adanya perpindahan sumber daya manusia di bidang pariwisata berdasarkan standar kompetensi yang diakui masing-masing negara. Untuk itu, dalam tindak lanjutnya, setiap negara akan membentuk semacam Tourism Profesional Cerfication Board (TPCB).
Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata I Gusti Putu Laksaguna dan Direktur Kerjasama International Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani di Hanoi, Vietnam, Rabu (7/1) malam.
"Dengan ditandatanganinya MRA, perjanjian itu akan menjadi payung hukum 10 negara ASEAN bagi pertukaran jasa pariwisata yang memiliki standar kompetensi yang diakui bersama. MRA itu ditandatangani dengan akan mulai diberlakukannya liberalisasi di bidang pariwisata pada tahun 2010 mendatang," tandas Putu.
Menurut Putu, dengan adanya MRA, maka akan dibuat kurikulum bersama yang memiliki standardisasi sama di setiap lembaga pendidikan kepariwisataan di setiap negara ASEAN. Penerapan dari MRA akan dilakukan dua tahun setelah penandatanganan MRA.
Indonesia siap
Sementara itu, menurut Giri, dengan adanya MRA, setiap orang yang bekerja di bidang pariwisata di Indonesia dan di negara-negara ASEAN harus memiliki sertifikat pariwisata yang diakui oleh negara-negara ASEAN lainnya. "Dengan demikian, tenaga kerja kita akan lebih terbuka peluangnya bekerja di luar negeri, asalkan punya sertifikasi," kata Giri.
Tentang kesiapan Indonesia jika terjadi liberalisasi di bidang pariwisata, Putu menyatakan tidak perlu khawatir. Pasalnya, tenaga kerja Indonesia sudah memiliki Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKN). "Di antara 10 negara ASEAN, Indonesia tergolong negara yang maju karena kita mempunyai SKKN itu.
Memang, di beberapa daerah masih ada yang kurang. Namun, secara umum, kita lebih baik dari negara lain," jelas Putu.
HAR

Selasa, 06 Januari 2009

Pahit Sejarah Emas Majapahit

Kompas, Selasa, 6 Januari 2009 07:40 WIB

SUNGGUH keterlaluan, rentang waktu 25-an tahun ternyata bikin sosok dan rupa orang menjadi kusut dan kisut. ”Masku sudah lima tahunan kena stroke karena hidupnya ngawur. Sekarang tidak aktif nyari dan dagang emas buddho lagi. Doakan saja,” ujar istri rekan yang menyebut Masku untuk suaminya.
Pertemuan bulan Agustus tahun lalu di desa kecil kawasan Mojokerto, Jawa Timur, semacam temu kangenan dengan narasumber lama. Masku yang nama samaran, tahun 1980 sampai 1990-an terkenal sebagai ”pedagang” emas Majapahit, secara hukum memang melanggar hukum, tetapi kok kebal ya. Padahal, Masku pernah mengaku sebagai salah satu bandar dan ”dalang” pencarian relik arkeologis, spesialis di situs kuno bekas Kerajaan Majapahit.
Bagi kolektor dan peneliti arkeologi, Masku itu narasumber paten dan tidak segan-segan memperlihatan hasil ”temuannya” berupa pecahan benda terakota, keramik china, dan terutama benda emas kuno. ”Di kalangan pedagang, emas galian itu kami sebut emas buddho, mungkin karena agamanya orang Mojopait ya,” begitu katanya waktu segar walafiat.
Pasaran emas dagangan Masku dihitung per gram dan selalu minimal lebih dari dua kali lipat harga emas toko. ”Emas cincin ini kadarnya 18 sampai 20 karat. Namun karena hiasannya bagus, harganya lima kali harga emas di toko,” begitu kira-kira kata Masku saat belum stroke.
”Saya bisnis karena permintaan pasar emas antik asal Jawa. Harganya tak pernah turun, tetapi kalau yang ini, cuma dua kali lipat. Namun, saya ragukan keasliannya, ini barang tembakan he-he,” ujarnya.
Masku tidak pernah menuturkan sindikat organisasi pencari emas buddho itu. Padahal, peneliti arkeologi lapangan suka senep melihat rombongan warga Trowulan sering sekali ramai-ramai menjadi tukang ngendang alias tukang gali dan pencari artefak arkeologis. Juga beberapa tahun lalu, pengendang itu tidak segan-segan masih menggali dan mengayak tanah dan lumpur di seputaran Kolam Segaran—kini proyek taman dan Pusat Informasi Majapahit (PIM).
Konon pada masa kejayaan Majapahit, Kolam Segaran itu tempat pesta foya-foyanya keluarga kerajaan. Gelas, pinggan, dan peralatan makan minum dari emas kalau sudah dipakai langsung dilemparkan ke tengah kolam. Makanya, pengendang yang mengobok-obok kolam itu mungkin berdoa menemukan bokor, baki, atau baskom emas buddho.
Sejarah emas pahit
Emas memang daya tarik, bukan zaman sekarang saja, tetapi sejak zadulnya Majapahit sudah merupakan patokan suatu kejayaan dan kekayaan. Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca tahun 1365 menyebutkan dalam beberapa pupuh, hal iring-iringan raja Majapahit yang menghias kereta dengan perhiasan emas.
Juga dalam setiap pesta besar, semua peralatan pesta dan perjamuan terbuat dari emas berhiaskan permata indah, termasuk kotak sirih pinang berbalut emas. John Miksic dalam bukunya, Old Javanese Gold (1989), juga mengutip syair pujangga Majapahit itu, khususnya soal perisai dan hulu keris emas sebagai hadiah penghargaan buat ksatrianya.
Emas memang logam luhur. Bukan hanya Majapahit, tetapi semua kerajaan kuno di Jawa mengagungkan pemanfaatan emas sebagai benda murni dan gengsi. Sebab, sejak lama, ada sebutan Suvarnadvipa yang arti harfiahnya ”Pulau Emas”. Kata ini berbeda dengan Javadvipa yang bermakna ”Pulau Makmur”. Meski ada kata ”java”, kata itu bukan asal muasal nama Pulau Jawa.
Mas Masku di zaman jaya-jayanya pernah memperlihatkan sekotak perhiasan emas cakep- cakep, berbentuk cincin, anting, gelang, bandul, cepuk, semacam kancing, butiran uang emas dan perak, cepuk, cawan, serta perhiasan logam kuning kemerahan emas lainnya. ”Barang ini dari Jawa Tengah dan situs di seputaran Jawa Timur, tidak semua dari Trowulan,” ujar Masku yang saat itu lagi deal business dengan antique dealer dan collector emas buddho dari Singapura.
Awal 1990, Masku juga membisniskan perhiasan emas temuan Situs Wonoboyo, Klaten, Jateng. Tidak segan-segan Masku pun memamerkan ratusan uang emas-perak sebesar jagung pipilan, cincin, cepuk, dan lainnya.
Profesor Doktor Mundardjito yang arkeolog UI, saat itu sempat bingung sedikit. Dia mengaku sejauh ini belum ada penelitian konsep asal muasal emas menjadi ”rajanya” logam mulia. Juga dunia penelitian arkeologi kuno Jawa sejauh ini belum pernah menemukan titik terang mana di mana asal usul pertambangan emas kuno, serta makna keanekaragaman seni- kriya perhiasan emas di wilayah Jawa.
Sejauh ini, catatan klasik hanya menyebutkan nun di arah timur India, ada lokasi yang didatangi saudagar India untuk membeli dan mencari chryse atau emas. Juga dalam peta kuno dalam kitab Geographike Hyphegenesis karya Claudius Ptolomeus buatan abad II Masehi agak jelas menyebutkan di timur India ada Chryse Chora atau Negeri Emas, serta Chryse Chenosenos atau Semenanjung Emas.
Namun, kitab kuno yang mencatat emas dan Jawa ada dalam kitab China yang menulis sejarah Jawa kuno antara abad VIII-IX Masehi. Sejarah T’ang Baru menulis: ”Raja Jawa mengenakan pakaian emas dan permata”. Lalu suatu kronik China bertarikh 992 menyebutkan, serombongan utusan tiba di China, membawa hadiah persembahan dari seorang Raja Jawa berupa: ”sebilah pedang pendek berhulu emas”, serta ”kain tenun benang emas”. Bahkan, ada tambahan kalimat, di antara rombongan utusan itu, ada orang mengenakan ”rantai emas melilit di leher, serta gelang emas di pergelangan tangannya”.
Soal uang emas juga tercatat dalam berita China bertarikh 1406, ketika sekitar 170 prajurit China yang terbunuh dalam ”perang saudara” di Majapahit. Lalu utusan Majapahit pun mendatangi China seraya membawa ”upeti maaf” senilai 60.000 tail emas. Sementara itu, pelaut Portugis, Tome Pires, melaporkan, pada tahun 1515 ”orang di Jawa itu sangat kaya raya, begitu makmurnya sampai-sampai kalung anjing pun dari emas”!
Emas, emas, emas, itu kata- kata sejak zaman Majapahit sampai zaman rada pahit. Emas buddho di zaman Masku bisnis emas ilegal katanya masih tetap dicari di seputaran situs kuno yang terus terang sulit dijaga dan dirawat.
Bahkan, kalau melihat sekilas peta pembangunan Gedung PIM, di sekitaran situs permukiman kuno Kerajaan Majapahit, wah rada-rada pahit.
Sebab, dari pengalaman serta informasi Mundardjito dan Masku, justru di situs itulah orang-orang sering menemukan benda arkeologis berharga.
Benda itu bernilai tinggi, khususnya bagi koleksi sejarah Nusantara. Namun, anehnya pembangunan ambisius PIM di situs tersebut justru tidak pedulikan kandungan ”isi lahan” di bawah proyek itu.
Kalau Masku cs pernah menggali liar, kini orang proyek PIM menggali resmi, tetapi sama-sama merusak dan menghilangkan bukti kebesaran sejarah Majapahit.
Ah pahit!
(Rudy Badil Wartawan Senior di Jakarta)