Blog ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mengetahui lebih jauh dan memiliki keinginan untuk berbagi cerita, ide, pendapat, mimpi, cita-cita dalam hidup ini. SEMOGA....
Sabtu, 27 Desember 2008
Bagaimana Nasib Anda Tahun 2009?
You Don't Think Who You Are, You Are What You Think
Pernahkah Anda mendengar sebuah kalimat bijak, "You don't think who you are, you are what you think"? Kalau dijabarkan secara harafiah, hal ini berarti kita tidak perlu berpikir siapa kita, namun kitalah yang menentukan diri kita dengan apa yang kita pikirkan. Sederhananya, apa yang kita yakini dalam pikiran kita, itulah yang akan menjadi kenyataan.
Ya, keyakinan adalah modal dasar kita menuju kesuksesan. Dengan sebuah keyakinan 100 persen, ditambah kerja keras, perjuangan pantang menyerah, keuletan, kedisplinan dalam memperjuangkan apa yang kita yakini tersebut, jalan menuju sukses akan dapat kita raih. Hal itu sudah saya buktikan sendiri.
Keyakinan saya bahwa "success is my right!" yang sangat kuat membuat saya selalu mau berjuang keras untuk mewujudkan semua cita-cita saya. Maka, ketika dulu kehidupan saya miskin, dengan perjuangan sepenuh hati dan dilandasi keyakinan kuat tersebut, saya akhirnya bisa meraih semua apa yang saya impikan.
Memang tidak mudah meraih semua itu. Berbagai halangan dan tantangan, pasti akan menghadang. Namun, dengan sebuah keyakinan yang kuat, maka berbagai ujian dan cobaan justru akan menjadi batu loncatan yang mampu membuat kita dapat melompat lebih tinggi. Dengan keyakinan yang kuat, kita akan memperoleh energi yang luar biasa untuk dapat mengatasi semua masalah dan persoalan yang timbul dalam usaha meraih sukses.
Untuk itu, mari kuatkan kembali keyakinan kita untuk mewujudkan semua impian. Dengan begitu, kita akan dapat terus memupuk semangat terus maju, pantang mundur.
Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso
Rabu, 24 Desember 2008
Vatikan "Merehabilitasi" Nama Galileo Galilei
TEMPO Interaktif, Vatikan: Otoritas Katolik tertinggi dunia merehabilitasi nama Galileo Galilei, ilmuwan Italia yang menjalani tahanan rumah atas perintah Vatikan karena menyatakan bumi mengitari matahari. Nama Galileo menjulang lagi tahun-tahun ini karena sekarang tepat 400 tahun usia teleskop buatannya--teleskop pertama yang digunakan untuk astronomi--dan PBB sudah menetapkan 2009 sebagai Tahun Astronomi. Vatikan, yang memerintahkan tahanan rumah bagi ilmuwan yang dianggap pembuka jalan teknologi muktahir itu, belakangan ini seperti merehabilitasi nama Galileo.
Paus Benediktus XVI, pada Minggu (21/12), memuji Galileo dan ilmuwan lain karena membuat orang beriman lebih memahami dan lebih merenungkan dengan takjub hasil kerja Tuhan. Pada Mei mendatang, beberapa pejabat Vatikan akan terlibat konferensi untuk menelaah kembali kasus Galileo. Seorang pejabat tinggi Vatikan malah sudah menyatakan Galileo disebut patron dialog agama dan akal. Uskup Agung Gianfranco Ravasi, kepada radio Vatikan, mengatakan, "Galileo bisa menjai patron ideal untuk dialog ilmu pengetahuan dan iman."Langkah ini berkebalikan dengan sikap Vatikan saat terakhir Galileo (1564-1642) masih hidup. Galileo menggunakan teleskop ciptaannya untuk membuktikan bahwa bumi berputar mengitari matahari.
Gereja Katolik saat itu menyatakan ajaran Galileo sesat. Dalam kepercayaan gereja saat itu, matahari yang mengitari bumi. Maka, pada 1633, Galileo dijatuhi hukuman seumur hidup sebelum akhirnya diubah menjadi tahanan rumah.Ingatan hukuman Vatikan terhadap Galileo ini masih terasa di kalangan ilmuwan dunia, terutama di tanah kelahiran ilmuwan itu, Italia. Januari silam, misalnya.
Bulan itu Paus Benediktus membatalkan rencana pidato di Universitas La Sapienza, Roma. Pembatalan dilakukan setelah sekelompok profesor--dengan mengutip cerita Galileo dan mencap Paus Benediktus sebagai tokoh yang menentang ilmu pengetahuan--menyatakan ia mestinya tidak berbicara di kampus.
AP/NURKHOIRI
Selasa, 23 Desember 2008
Langkah Kedua menuju Peak Performance
Mari kita Lanjutkan apa yang dimaksud oleh Anthony Robbins dengan rumus keberhasilan optimal atau Peak Performance. Langkah Kedua adalah bertindak kecuali kalau Anda menginginkan itu tetap tinggal sebagai mimpi. Anda harus memilih jenis tindakan yang diyakini mempunyai kemungkinan terbesar dapat menghasilkan apa yang diinginkan. Tindakan yang dilakukan tidak selalu menghasilkan apa yang diinginkan.Salam Dahsyat!!!
Tung Desem Waringin
Dahsyat.com
Senin, 22 Desember 2008
ROH SUNDA KECIL: Pendekatan Budaya sebagai Perekat Kawasan
Oleh KHAERUL ANWAR
Kompas, Friday, 19 December 2008
KOMPAS — Bali sepantasnya prihatin jika kembarannya, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, merana. Karena itu, Bali perlu bersinergi untuk mendorong kemajuan para saudara kembarnya.
Harapan yang mengemuka dalam Seminar ”50 Tahun Sunda Kecil Berlalu” itu bukan tanpa alasan mengingat ketiga provinsi ini pernah tergabung dalam Sunda Kecil dan memiliki kemiripan sumber daya alam. Hanya saja, keterbatasan infrastruktur serta akses transportasi dan telekomunikasi membuat NTB dan NTT berjalan lamban dalam segala aspek pembangunannya.
Adapun Bali ditunjang infrastruktur dasar yang memadai, kinerja pembangunan ekonominya melejit berkat sektor pariwisata. Dalam konteks inilah sejumlah narasumber melihat Bali punya daya dorong untuk berperan dan bersinergi dengan kedua saudaranya di timur.
Narasumber dari NTB mengakui, provinsi itu memerlukan daya ungkit untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam serta mobilisasi barang dan jasa. ”Daya ungkit itu ada pada Bali,” ujarnya sambil meminta kebijakan rencana tata ruang nasional Jawa-Bali, seperti kebijakan listrik Jawa-Bali, ditinjau ulang.
Sayang, curahan hati sejumlah pemakalah tidak didengar langsung oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika yang saat itu berhalangan hadir karena mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Bali.
”Namun, kami bertiga (Gubernur Bali, Gubernur NTB, dan Gubernur NTT) sudah berjanji akan saling kunjung, terutama hari raya khusus provinsi masing-masing, seperti HUT provinsi,” kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya.
Kesepakatan saling kunjung mungkin sebuah awal yang baik untuk mewujudkan cita-cita pembangunan terpadu kawasan Nusra. Apalagi, tiga provinsi itu memiliki keunggulan komparasi sekaligus modal saling mendukung dalam menggerakkan roda perekonomian kawasan.
NTT, misalnya, mempunyai rumput laut yang sentra produksinya berada di Pulau Sabu, Sumba, Kupang, dan Kepulauan Alor. Rumput laut asal Pulau Sabu tergolong kualitas nomor satu.
Begitu pula jambu mete yang antara lain dibudidayakan di Flores Timur dan Lambata. Produk jambu mete Flores Timur tergolong kualitas nomor dua setelah jambu mete Afrika.
Flores Timur sebagai daerah baru, didukung cuaca dan kondisi tanahnya, menghasilkan jambu mete yang matang. Dengan kualitas yang tidak berbeda, produksi jambu mete NTT kini sekitar 2.000 ton-3.000 ton per tahun, di bawah NTB yang produksi jambu metenya 7.000 ton per tahun.
Belum lagi potensi vanili di Manggarai dan Ngada, dengan produksi rata-rata 200 ton per tahun, lebih tinggi dibandingkan produksi NTB yang berkisar 50 ton-100 ton per tahun.
NTB tetap mengedepankan sektor pertanian sebagai andalan utama untuk menggerakkan perekonomian daerah, disusul pariwisata dan pertambangan sebagai penunjang. Alasannya, sumbangan sektor pertanian dalam produk domestik regional bruto (PDRB) NTB sebesar 26,52 persen, jika pertambangan dan pariwisata digabung, kontribusinya baru mencapai 22,97 persen.
Untuk menggerakkan segenap potensi dan persebaran sumber daya, mobilitas barang dan jasa, NTB dan NTT membutuhkan lokomotif penarik. Peran ini diharapkan dilakukan Bali yang ketersediaan infrastruktur transportasi dan komunikasinya lebih lengkap.
Saat ini sejumlah komoditas untuk keperluan Bali dipasok dari NTB dan NTT melalui darat dan laut. Sebaliknya, Bali merupakan pintu gerbang masuknya barang dan jasa dari arah barat bagi NTB dan NTT.
Jika mimpi keterpaduan kawasan Nusra terwujud, bukan tak mungkin sampai pada sindikasi antar-Bank Pembangunan Daerah dalam bentuk pelayanan terbuka bagi nasabah di tiga provinsi itu. Misalnya, nasabah BPD kawasan Nusra bisa bertransaksi melalui BPD di Bali, NTB, atau NTT. Sindikasi seperti itu kini baru berjalan di beberapa BPD di Kalimantan dan Sumatera.
Pendekatan budaya
Model kemitraan terpadu pembangunan di kawasan Nusra memerlukan kajian bersama dari berbagai aspek. Yang tidak kalah pentingnya adalah upaya membangun hubungan emosional antartiga wilayah. Konkretnya, perlu pendekatan budaya mengingat warga di tiga daerah itu memiliki persamaan tradisi menghormati leluhur, peninggalan purbakala, dan lainnya. Juga kesamaan dari peralatan dan bentuk seni tabuh mereka.
Lewat festival kesenian Sunda Kecil atau apa pun namanya, tiga daerah di kawasan Nusra dapat menemukan persamaannya. Selanjutnya akan melahirkan sebuah ikatan batin dan solidaritas sosial guna membangun pengertian dan kebersamaan.
Seorang pemakalah yang budayawan berpendapat, diperlukan kerelaan dan kepedulian dari Bali untuk mau ”mengasuh yang kecil”. Dengan misi kebudayaan yang rutin, selain akan tercipta rasa saling asah, saling asih, dan saling asuh, juga akan menjadi fondasi kuat membangun kebersamaan serta menemukan benang merah dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Model pendekatan seperti itu pernah dilakukan menjelang pemekaran Sunda Kecil menjadi tiga provinsi tahun 1954, mungkin sebagai ajang pisah-kenal. Sebagai contoh, saat Sunda Kecil dipimpin Susanto Tirtoprodjo, gubernur era tahun 1954 itu pernah membawa kesenian Bali untuk dipentaskan di Lombok, Sumbawa, dan Flores. Pementasan dilakukan bersama dengan kesenian daerah setempat.
Kegiatan serupa dilanjutkan pengganti Susanto, Gubernur Sarimin Reksodihardjo. Seusai menghadiri Kongres Pemuda di Surabaya tahun 1957, Sarimin bersama tim keseniannya melakukan pementasan keliling, mulai dari Singaraja, Lombok, Sumbawa, hingga beberapa lokasi di Flores.
Semangat membangun dari sisi kebudayaan itu hendaknya terus dijaga, bahkan dilestarikan. Wujudnya mungkin lewat festival kesenian/budaya dari ketiga provinsi yang digelar secara bergilir. Dengan semangat itu pula, tiga provinsi tersebut bisa sehati membangun kepentingan bersama.
Kerja Sama NTT, NTB, dan Bali Bisa Jadi Model Pluralitas
KUPANG, SABTU — Kerja sama pembangunan antara Provinsi NTT, NTB, dan Bali dapat menjadi contoh dalam menumbuhkan semangat pluralitas di Indonesia di masa depan, kata Gubernur NTB KH M Zainul Majdi, MA di Kupang, Sabtu.
Menurut dia, kerja sama itu dapat menyatukan Bali yang mayoritas penduduk beragama Hindu, NTB dengan mayoritas penduduk beragama Muslim, dan NTT dengan mayoritas penduduk beragama Kristen. Dia mengemukakan pandangan itu ketika menyinggung tentang nilai positif yang bisa dikembangkan melalui hubungan kerja sama pembangunan Sunda Kecil untuk kepentingan nasional di masa depan. Menurut dia, dalam suatu masa nanti akan ada kejenuhan di wilayah bagian barat Indonesia dan kawasan Sunda Kecil akan menjadi alternatif untuk menumbuhkan semangat pluralisme.
"Kerja sama ini bisa menjadi model atau contoh dalam menumbuhkan semangat pluralitas di Indonesia khususnya di kawasan Indonesia timur," katanya.
Tiga provinsi di bagian timur Indonesia itu yakni NTT, NTB, dan Bali telah menandatangani kesepakatan kerja sama pembangunan Sunda Kecil.
Penandatangan kesepakatan kerja sama pada hari ulang tahun emas NTT itu dilakukan Gubernur NTT Drs Frans Lebu Raya, Gubernur NTB KH M Zainul Majdi, MA, dan Ketua DPRD Bali Ida Bagus Wisnawa yang mewakili Gubernur Bali.
Menurut dia, tiga wilayah ini memiliki kesamaan baik secara geografis, geostrategis maupun geopolitik. Ia mengatakan bahwa semangat pluralitas harus dihidupkan kembali di kawasan Sunda Kecil yang diharapkan dapat menjadi model pembangunan di Indonesia di masa depan.
