Selasa, 25 November 2008

Mgr Sylvester San Tungga : Uskup Baru Keuskupan Denpasar (Mgr Puja)


Teman-teman Ytk.,
SMS telah saya terima dari Nuncio, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girelli tentang pengangkatan Rama Sylvester San Tungga menjadi Uskup Keuskupan Denpasar Bali.


"Excellency, I am pleased to inform you that the Holy Father has appointed as Bishop of Denpasar the Rev. Silvester San, currently Rector of Major Seminary, Ritapiret. The announcement is today, noontime in Rome, 6.00 PM in Jakarta. Until that time the news is embargoed. Regards, Nuncio", 22/11/2008 8:52 am


Siang hari baru saya haturkan limpah terimakasih kepada Nuncio atas informasi tersebut.
"Your Excellency, thanks a lot for the information. May God be glorified. Best regards," + J. Pujasumarta 22/11/2008 11:28 am

Pengangkatan Uskup Keuskupan Denpasar terjadi karena Tahta Keuskupan Denpasar kosong sejak wafat Mgr. Benjamin Yosef Bria di RS Mount Elisabeth Singapura, 18 September 2007, pada usia 51 tahun.
Rama Sylvester San Tungga menjadi Rektor Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret yang dibangun pada tahun 1955.

Semoga Tuhan dimuliakan, dan dengan demikian seluruh alam raya bersuka cita dalam Tuhan. Proficiat umat Keuskupan Denpasar Bali. Salam, doa 'n Berkat Tuhan.

Sumber: www.ratnaariani.wordpress.com

Mgr. Tung Kiem San : Dalam Doa Saya Menjawab YA

PAUS Benediktus XVI telah resmi menunjuk Romo Dr. Silvester San, Pr, sebagai Uskup Denpasar, Sabtu (22/11/2008) . Semalam wartawan Pos Kupang di Maumere, Novemy Leo, mewawancarai Romo San melalui hand phone-nya. Berikut petikan wawancara tersebut:

Pos Kupang (PK) : Selamat malam Romo San. Proficiat untuk tugas baru sebagai Uskup Denpasar. Bisa disampaikan seperti apa perasaan Romo sekarang?
Romo San: Saya kaget dan seperti sudah saya sampaikan kepada Duta Vatikan untuk Indonesia (Mgr. Leopoldo Girelli, Red). Saya merasa berat menerima tugas baru ini. Apalagi saya belum mengenal dengan baik wilayah Keuskupan Denpasar. Tetapi saya percaya, dukungan umat dan para imam akan membantu saya menggembalakan umat di Keuskupan Denpasar.
PK: Sejak kapan Romo mengetahui informasi ini?
Romo San: Saya sudah mengetahui kabar itu dari Duta Vatikan, Selasa (18/11/2008) siang
PK: Bagaimana reaksi awal Romo saat itu?
Romo San: Pada saat mendengar kabar itu, saya terkejut, kaget dan spontan menolak. Namun beliau (Duta Vatikan, Red) mengatakan kepada saya untuk tidak langsung memberikan jawaban. Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girelli meminta saya untuk merenungkan dalam doa dan memberi jawaban malam harinya. Pada malam harinya, saya menelepon Mgr. Leopoldo, dan tetap menyatakan keberatan. Tetapi, dia masih meminta saya untuk merenung, berdoa dan refleksi lagi agar bisa memberikan jawaban keesokan harinya. Lalu, keesokan harinya, Rabu pagi, saya menerima sebagai tanda ketaatan dan kepatuhan saya terhadap Takhta Suci Vatikan.
PK: Barangkali ada sesuatu hal yang mau disampaikan Romo?
Romo San: Berita ini rencananya disampaikan kepada seluruh umat di Keuskupan Maumere, Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Denpasar, besok (hari ini, Minggu, 23/11/2008 -Red) melalui mimbar gereja dan melalui radio setempat. Di Ritapiret sudah diumumkan Sabtu (22/11/2008) di Kapela Seminari dan seluruh komunitas menyambut gembira pengumuman ini.Akhirnya, seperti sudah saya sampaikan pada awal tadi, saya menyatakan persetujuan saya karena saya menyadari ada umat dan rekan imam yang mendukung saya dalam mengemban tugas baru sebagai gembala umat.
Biografi :

* Nama Lengkap : Dr. Silvester Tung Kiem San, Pr. (dipanggil Romo Silvester San atau Romo San, kini Mgr Silvester atau Mgr San)
* Tempat/Tanggal Lahir : Mauponggo, 11 Juli 1961- Anak ketiga dari sembilan bersaudara
* Ayah : Roben Robo* Ibu : Katharina Nere
* Pendidikan:- SDK Maukeli, Ngada- Seminari Toda Belu- Mataloko (SMP-SMA) 1974-1980- Tahun Rohani di Ritapiret, Kabupaten Sikka tahun 1980- Studi Filsafat dan Teologi di STFK Ledalero, Kabupaten Sikka
* Tahbisan imam: 29 Juli 1988 oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, di Maumere (dalam rangka perayaan tahun Maria) sebagai imam projo Keuskupan Agung Ende.
* Kembali ke Mataloko sebagai Pastor Pembantu Paroki Roh Kudus sambil mengajar di Seminari Mataloko selama dua tahun.
* Melanjutkan studi ke Roma pada Universitas Urbanianum, Spesialisasi Teologi Biblis.
* Gelar Licenciat diperoleh tahun 1992 dengan tesis The Mercy of God in the Parables of Luke 15.
* Kembali ke Ritapiret. Setelah sejenak kembali ke Ritapiret sebagai Pembina para Frater dan pengajar di STFK Ledalero.
* Kembali ke Roma pada tahun 1995 untuk melanjutkan studi program S3 pada Universitas Urbanianum dalam Teologi Biblis , sampai selesai pada tahun 1997 dengan tesis The Experience of the Risen Lord in Luke 24: 1-35.
* Kembali dari Roma pada tahun 1998 dan menjadi pengajar di STFK Ledalero dan pembina Frater di Ritapiret.
* Pada tanggal 11 Desember 2004 diangkat menjadi Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret periode 2004-2007.
* Diangkat lagi Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret periode kedua pada tahun 2007 - sekarang.
* Dipilih sebagai Uskup Denpasar (22 November 2008)
(Sumber Utama: Sosok Alumni Seminari Mataloko. Seribu Wajah Satu Hati)

Senin, 24 November 2008

USKUP SAN DARI MAUKELI

Suasana gembira hadir dalam diri dan hati segenap umat Paroki Maukeli dan umat Keuskupan Denpasar. Romo Silvester San, Pr, Putera Maukeli ditunjuk oleh Tahta Suci Vatican sebagai Uskup Denpasar. Berita gembira tersebut juga saya dan keluarga Besar Maukeli Jakarta & Banten rasakan ditengah resepsi pernikahan Lestin (Liwo) di Cikenda. Beberapa sanak keluarga mendapat informasi dari Rm Cyl Meo Mali, Pr.
Sosok Rm. San (Praeses Seminari Ritapiret Maumere) tidak asing bagi masyarakat Nagekeo - Ngada dan sekitarnya. Ayahanda Rm. San adalah seorang pengusaha sukses dengan armada angkutan SUTERA ALAM.

Sosok rendah hati dan murah senyum dan bersahaja dari Rm. San begitu membekas dalam diri setiap orang yang pernah bertemu dengannya. Beberapa cerita menarik tentang Rm. San saya peroleh dari beberapa Kakak Tingkat saya di Seminari Todabelu.
Saya dan beberapa teman pernah "meramal" kalau Rm. San akan menjadi seorang Uskup. Dalam pembicaraan di "warung kopi", kami sempat membicarakan profil Rm. San yang punya kharisma sebagai seorang gembala.
Cerita menarik tentang Rm. San juga saya peroleh dari kerabat saya, kalau Rm. San saat masih kecil dan saat di Seminari Mataloko sering menjadi ana wi kaba (penarik kerbau saat membajak sawah atau ladang). Ana wi kaba akan selalu menjadi sumber kemarahan bagi Juru Luku (tukang bajak sawah) kalau saat menari kerbau tidak sesuai dengan jalur bajak...
Akhirnya seorang Ana Wi Kaba jadi seorang Uskup.....
Selamat melayani Bapak Uskup. Doa kami menyertaimu.
Kaju Bhaga Rala , Tau KuA BuA Rua
Tali PEte NEte, Tau FEta BEta wutu.

Jumat, 21 November 2008

Uncivilized People

Akhir-akhir ini Petugas Kantib ramai melakukan razia terhadap perokok yang merokok tidak pada tempatnya. Banyak yang ditangkap di tempat-tempat umum. Media massa ramai memberitakan kegiatan ini......Banyak komentar yang menyatakan setuju dengan kegiatan tersebut. Adapula sebagian orang yang merasa pesimis dengan keberhasilan program ini.......
Petugas Kepolisian juga saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan razia terhadap preman.... (asal kata Preman dari mana ya.....???) Beberapa komentar mengatakan pesemis dengan Ada info juga kalau Polri juga akan membangun pos-pos pengamanan preman di tempat-tempat yang dianggap rawan.
Teman saya memberi nama bagi orang yang merokok, membuang sampah tidak pada tempatnya sebagai Uncivilized People. Mungkin ada benarnya, kalau orang orang yang merokok, membuang sampah tidak pada tempatnya adalah orang yang tidak beradab.......
Ada juga perilaku yang tidak beradab adalah orang yang menelepon sembari berkendaraan.........
Ha.....ha.... Weke....kekek...kekek Apalagi koruptor.......

Tu'u" Belis di Nusa Lontar

SELAMA beratus tahun, kematian dan pernikahan di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, adalah pesta pora. Bukan pesta biasa, tetapi ritual minum dan makan daging berhari-hari. Puluhan hingga ratusan domba, babi, sapi, atau kuda dikorbankan.Bagi keluarga bangsawan, itulah waktunya ”mengerahkan” sumber daya untuk pesta bernilai ratusan juta rupiah. Kemeriahan pesta adalah mutlak, tak peduli empunya pesta si kaya atau miskin. Kemeriahan tak mengenal status ekonomi. Semakin tinggi status sosial keluarga, pesta makin meriah. Seperti dialami keluarga Tolasik, salah seorang bangsawan di Kota Ba’a (sekarang nama ibu kota kabupaten).
Ratusan ternak dikorbankan bagi pesta kematian. Tiada hari tanpa makan daging dan minum. ”Dari keluarga menyiapkan 60 ekor kerbau dan babi, belum termasuk ternak sumbangan,” kata Meslik Tolasik, salah satu cucu mendiang, ketika dikunjungi Kompas dan tim dari World Vision Indonesia (WVI) akhir September 2008.Secara adat, ”genderang” pesta kematian ditabuh saat buka neneik (tikar), sesaat setelah ada anggota keluarga meninggal. Berhari-hari, kerabat, kenalan, dan tokoh sebaya anggota keluarga yang meninggal duduk- duduk, ngobrol, dan berpantun mengenang mendiang.
Sementara itu, rangkaian pesta pernikahan dimulai saat kedua keluarga calon mempelai memastikan tanggal pernikahan. Saat itulah besaran belis (mas kawin) diketahui.Umumnya, belis mencapai Rp 20 jutaan, yang ditanggung keluarga besar melalui serangkaian pertemuan tu’u belis (kumpul ongkos kawin). Tahapan itu untuk memastikan kesanggupan kerabat soal besaran sumbangan.Sumbangan, baik uang maupun ternak, dicatat; nama penyumbang, jumlah uang, hingga kondisi ternak (lingkar perut atau gemuk-tidaknya ternak). Pada setiap tahapan tu’u, pesta daging tak pernah absen.Setidaknya ada tiga tahapan tu’u belis, yakni tu’u daftar (mendaftar keluarga yang akan diundang), tu’u kumpul keluarga (membicarakan sumbangan yang akan diberikan), dan tu’u penyetoran (menyerahkan sumbangan). Barulah puncak acara tiba; pesta nikah.Nama penyumbang dan sumbangan disimpan rapi untuk pengembalian.
Mengembalikan sumbangan wajib hukumnya. Kalau tidak? ”Yang bersangkutan akan dipermalukan dengan pengumuman saat pesta,” kata Maneleo (kepala suku) Nusak Ba’a John Ndolu (45).Saling sumbang bernilai jutaan rupiah menjerumuskan warga pada jeratan utang, yang bahkan diwariskan. Dengan kata lain, mempelai langsung menanggung utang secara adat.
Di Rote, tak sedikit kasus putus sekolah karena tak ada biaya. Namun, jangan sampai tak ada uang untuk menyumbang pesta.Untuk pesta kematian atau pernikahan, tak ada istilah miskin. Warga lebih malu tiada pesta daripada anak-anaknya putus sekolah. ”Bisa dibilang, orang pergi bekerja bukan untuk uang sekolah, tetapi membayar ketentuan adat,” kata Kepala Desa Oelunggu Adrianus Tulle.
Angin perubahan
Beratus tahun eksis, berembus angin perubahan budaya tu’u belis kematian dan pernikahan. Kelompok pembaru atau perevitalisasi budaya muncul.John Ndolu, Maneleo Nusak Ba’a, adalah tokoh di balik itu. ”Kami hanya menyederhanakan praktik-praktik budaya yang berlebihan. Nilai-nilainya tetap bertahan,” kata maneleo, pilihan warga pada Januari 2006 itu.
Revitalisasi budaya didukung WVI, organisasi nirlaba yang di antaranya mendukung pendidikan dan nutrisi anak. Pesta pora kematian dan pernikahan melanggengkan kemiskinan. ”Kesejahteraan warga dan pendidikan anak-anak terkena dampaknya,” kata Manajer WVI Program Rote Sugiyarto. Cikal bakal WVI di Rote hampir 15 tahun lalu.Revitalisasi budaya memangkas ongkos pesta belasan juta rupiah. Mas kawin yang dulunya Rp 20 jutaan, disepakati warga cukup Rp 3,65 juta. Pesta pun disepakati sekali dengan menyembelih satu hewan besar dan satu hewan kecil. Dulu, minimal puluhan ekor! ”Pesta pada saat ucapan syukur,” kata John.
Pesta daging pada setiap kumpul keluarga pun ditiadakan. Jika ada, cukup kue dan teh.Penerimaan warga di luar dugaan, termasuk kerelaan hati memutihkan piutang ternak yang dulu mereka sumbangkan. Sanksi pun diatur, berupa denda Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Contoh pelanggaran, menyembelih ternak berlebihan, atau menyediakan daging mentah untuk dibawa pulang.”Beberapa orang pernah mencoba melanggar, termasuk menyuap saya dengan bawaan daging mentah. Saya tolak!” kata John. Perlahan tetapi pasti, revitalisasi dipatuhi.
Sejak tahun 2003
Revitalisasi budaya di Rote dimulai tahun 2003. Gerakan itu makin kuat ketika John Ndolu terpilih sebagai Maneleo Nusak Ba’a. Ia memimpin lima leo (kumpulan marga), setara dengan sekitar 1.200-an keluarga.Dimulai komunitas warga Kunak, lima tahun lalu, kini tiga nusak mengadopsi (nusak Lole, Ba’a, dan Lelain atau Lobalaen). Rote Ndao terdiri atas 19 nusak.Saat ini, sejumlah nusak mulai merevitalisasi meskipun belum sepenuhnya. Namun, lebih banyak nusak yang masih menolak. Beberapa warga asli Rote di luar pulau pun masih ada yang menolak. Satu alasan, warisan leluhur patut terus dijaga.
Sebenarnya, pesta kematian dan pernikahan masih dijalankan warga ”Nusa Lontar”. Mereka hanya ingin memutus rantai kemiskinan.
(Sumber : kompas.com/19 November 2008)

Kamis, 20 November 2008

Kebutuhan SDM Berkualitas di Bidang Kepariwisataan Merambah pada Tingkat Perencana, Peneliti, dan Akademis

Menbudpar Jero Wacik mengingatkan, tuntutan akan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas di bidang kepariwisataan kini tidak hanya pada tingkat pelayanan saja, melainkan sudah merambah pada tingkat perencana, peneliti, dan tingkat akademis. Oleh karena itu, dengan diakuinya ilmu pariwisata sebagai ilmu mandiri akan menjadi prasyarat dalam memenuhi tuntutan tersebut.

"Pangakuan formal terhadap status keilmuan pariwisata hanyalah merupakan salah satu prasyarat dari tumbuh-kembangnya ilmu pariwisata. Pengakuan sesungguhnya akan datang dari masyarakat, dan akan diuji oleh waktu," kata Menbudpar Jero dalam sambutannya pada acara Penyerahan Statuta kepada Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali, I Made Sudjana, SE,MM di Kampus STP di Nusa Dua, Bali, Jumat pagi (14/11).


Statuta tersebut adalah sebagai pedoman dasar penyelenggaraan kegiatan yang dipakai menjadi bahan acuan untuk merencanakan, mengembangkan program, dan penyelenggaraan fungsional STP Bali sesuai dengan yang diamanahkan oleh Peraturan Pemerinah (PP) No.60 Tahun 1999. Secara resmi pada 31 Maret 2008 Ditjen Pendidikan Tinggi Diknas telah menerbitkan rekomendasi pembukaan program studi strata satu (S-1) pariwisata pada STP Bali dan STP Bandung. Dengan terbitnya surat rekomendasi itu sekaligus telah mensejajarkan Ilmu pariwisata sebagai ilmu mandiri.


Upaya untuk mensejajarkan ilmu pariwisata dengan ilmu-ilmu lainnya pernah diprakarsai oleh para praktisi dan pakar di tahun 1980-an, namun di era itu usaha tersebut telah membentur tembok yang kokoh; sehingga pariwisata telah diputuskan bukan merupakan suatu disiplin ilmu. Pada saat saya mulai memimpin Depbudpar, saya minta kepada jajaran saya, khususnya kepada Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata untuk kembali memperjuangkan usaha yang sudah pernah dilakukan oleh para pakar dan praktisi di era 80-an, agar pariwisata dapat diakui sebagai ilmu mandiri mengingat kebutuhan SDM yang handal dan berkualitas di semua tingkatan sudah sangat dibutuhkan, kata Menbudpar. Upaya itu juga diikuti para stakeholder pariwisata yang melakukan Deklarasi Ilmu Pariwisata di gedung Sapta Pesona Jakarta pada 24 Agustus 2006, dan puncak dari perjuangan itu pada 31 Maret 2008, akhirnya ilmu pariwisata diakui sebagai ilmu mandiri.


Menbudpar mengharapkan, STP Bali yang berada di bawah naungan Depbudpar, harus terus menerus mengupayakan dirinya menjadi salah satu pusat keunggulan akademik, memiliki daya saing, internasional, penggerak modernisasi dan pembaruan. (Pusformas)

'Visit Indonesia Year: MICE & Marine Tourism' Tahun 2009 Sebagai Kelanjutan Program VIY 2008

Pemerintah (Depbudpar) bersama pelaku bisnis, asosiasi, dan para pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata telah sepakat untuk melanjutkan program Visit Indonesia Year (VIY) 2008 pada tahun depan (2009) dengan fokus pada MICE dan marine tourism.
"Program VIY 2008 kita lanjutkan pada tahun 2009 dengan Visit Indonesia Year: MICE and Marine Tourism. Dua produk unggulan; wisata bahari dan wisata konvensi menjadi primadona untuk meraih target 8 juta kunjungan wisman tahun 2009," kata DR.Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Depbudpar kepada pers di gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (5/11) sehubungan akan diselenggarakannya "2nd Internasional Conference on Intellectual Property and the Creative Industries dan Seminar Nasional Perlindungan dan Pengembangan Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional" di Bali pada 2-4 Desember 2008.
Menurut Sapta Nirwandar, program Visit Indonesia Year: MICE and Marine Tourism cukup kuat dan relevan mengingat tahun 2009 Indonesia akan melakukan pesta demokrasi (Pemilu) dan menjadi tuan rumah konferensi dunia World Ocean Conference (WOC) di Manado, Sulut.

Konfensi WIPO: Kegiatan konferensi internasional "2nd Internasional Conference on Intellectual Property and the Creative Industries" yang akan diikuti 300 peserta dari 13 negara tersebut merupakan hasil kerjasama Depbudpar, Depkumham, dan World Intellectual Property Organisation (WIPO) "organisasi di bawah PBB yang dibentuk tahun 1967.
Sejumlah isu aktual mengenai Hak Kekayaan Intelektual yang di dalamnya mengandung nilai-nilai moral sebagai pengakuan akan karya dan daya kreasi seseorang/kelompok/perusahaan, serta nilai ekonomi di mana karya tersebut menjadi suatu komoditi yang dapat diperjualbelikan sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi si penciptanya akan dibahas dalam konferensi tersebut. Konferensi pertama Intellectual Property and the Creative Industries diadakan WIPO tahun 2007 di Jenewa, Swiss.


Dirjen Pemasaran Sapta Nirwandar menilai, konferensi internasional ini selain akan memberikan wawasan dan informasi kepada kita mengenai perkembangan Hak Kekayaan Intelektual secara internasional, juga memberi dampak positif terhadap pariwisata terutama untuk kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Indonesia dan Visit Indonesia Year 2008. (Pusformas)

Sumber : www.budpar.go.id