These are the names of the some romantic countries in the world.
H.O.L.L.A.N.D Hope Our Love Lasts And Never Dies.
I.T.A.L.Y. I Trust And Love You.
L.I.B.Y.A. Love Is Beautiful; You Also.
F.R.A.N.C.E. Friendships Remain And Never Can End.
C.H.I.N.A. Come Here.. I Need Affection.
B.U.R.M.A. Between Us, Remember Me Always.
N.E.P.A.L. Never Ever Part As Lovers.
I.N.D.I.A. I Nearly Died In Adoration.
K.E.N.Y.A Keep Everything Nice, Yet Arousing.
C.A.N.A.D.A. Cute And Naughty Action that developed into attraction
K.O.R.E.A. Keep Optimistic Regardless of Every adversity.
E.G.Y.P.T. Everything's Great, You Pretty Thing!
M.A.N.I.L.A. May All Nights Inspire Love Always.
P.E.R.U. Phorget (Forget)Everyone... Remember Us.
T.H.A.I.L.A.N.D. Totally Happy. Always In Love And Never Dull.
JAKARTA.........................................????????????????????????????????????????????
Blog ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mengetahui lebih jauh dan memiliki keinginan untuk berbagi cerita, ide, pendapat, mimpi, cita-cita dalam hidup ini. SEMOGA....
Senin, 17 November 2008
Jumat, 14 November 2008
Mantan Uskup Lugo Tolak Menerima Gaji Presiden
Kompas, Sabtu, 16 Agustus 2008 00:22 WIB
Asuncion, Jumat - Mantan Uskup Katolik Fernando Lugo resmi menjadi Presiden Paraguay dalam sebuah upacara di Asuncion, Paraguay, Jumat (15/8). Lugo, yang dikenal sebagai ”Uskup Kaum Papa”, bertekad tidak menerima gaji presiden.
Acara pelantikan Lugo disaksikan sejumlah pemimpin sosialis dari Amerika Latin yang dikenal sangat anti-Amerika. Mereka yang hadir antara lain Hugo Chavez dari Venezuela, Luiz Inacio Lula da Silva dari Brasil, Cristina Kirchner dari Argentina, Michelle Bachelet dari Cile, Evo Morales dari Bolivia, dan Rafael Correa dari Ekuador.
Lugo, yang sering membantu kaum papa di negaranya, mengakhiri kekuasaan Partai Colorado selama 61 tahun di Paraguay. Dia memenangi pemilu April lalu, untuk memimpin negara paling miskin di Amerika Latin, yang berpenduduk 5,6 juta orang.
Sukses Lugo, yang kini pensiun sementara sebagai uskup, karena dia selama ini dikenal sebagai pemimpin berbagai demonstrasi antipemerintah. Dia juga dikenal sangat vokal memperjuangkan hak-hak petani tanpa tanah.
Pada malam sebelum upacara pelantikan untuk masa jabatan lima tahun, Lugo mengatakan akan menolak menerima gaji presiden sekitar 4.000 dollar AS (sekitar Rp 37 juta) per bulan. Seruan ini mendapat sambutan meriah dari ribuan pendukungnya yang berkumpul di sebuah stadion olahraga.
”Begitu Lugo mulai mengubah berbagai hal, serangan akan dimulai. Bersyukur karena kami mendapat dukungan rakyat kami. Angin baru sedang berembus di Amerika Latin, yang sebenarnya sedang menjalani sebuah era baru,” kata Presiden Ekuador Rafael Correa saat tiba di Asuncion.
Presiden Bolivia Evo Morales menyebut Lugo sebagai seorang kakak yang menjadi bagian dari transformasi di kawasan itu. Presiden Venezuela Hugo Chavez, yang dikenal sangat vokal anti- Amerika, juga hadir.
Lugo sepertinya akan berbeda dari Chavez dan sekutunya. Sekalipun bertekad akan memerintah bagi kaum papa, Lugo mengirim pesan akan lebih probisnis. Dia mengatakan akan mengurangi kontrol negara atas perekonomian.
Dua tetangga raksasa Paraguay, Brasil dan Argentina, yang cenderung lebih sosialis moderat, juga memberikan dukungan bagi Lugo. Namun, para pemimpin negara-negara yang konservatif dan pro-Amerika, yakni Kolombia, Meksiko, dan Peru, hanya mengirim utusan ke Asuncion.
Tugas berat
Tugas pertama mantan uskup yang kini mendapat cuti dari Vatikan ini adalah berupaya menghindarkan terjadinya kekacauan politik dan kerusuhan sipil di negara itu. Sejauh ini, muncul segelintir kelompok kiri dan kanan yang mulai menentang Lugo.
Mantan uskup pertama yang menjadi presiden ini sudah mulai dicobai dengan masalah ketika pekan lalu dia kesulitan memperoleh solar untuk mobil jipnya. Pasokan obat di sejumlah rumah sakit umum juga dilaporkan habis. Sejumlah petani tak bertanah dilaporkan telah merampas tanah milik swasta. Aksi ini mengancam terjadinya gelombang invasi.
Kondisi ini diduga ditimbulkan pemerintahan Partai Colorado sebelum mereka menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Lugo. Mereka mencoba merongrong jabatan Lugo bahkan sebelum dia resmi memerintah, dengan membiarkan pasokan bahan bakar minyak dan obat habis.
Lugo hanya memenangi 40 persen suara dalam pemilu presiden bulan April lalu. Pemerintahan Partai Colorado selama enam dekade yang korup, penuh nepotisme dan kolusi, membuat rakyat Paraguay menaruh harapan besar kepada Lugo.
Penerima Hadiah Nobel Ekonomi 2001 asal AS, Joseph Stiglitz, yang kini menjadi anggota tim penasihat ekonomi Lugo, telah menyarankan penerapan pajak 10-15 persen pada ekspor kedelai dan daging sapi guna meningkatkan pendapatan pajak Paraguay yang rendah. (AFP/AP/DI)
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved
Istana untuk Kaum Miskin (Wawancara dengan Fernando Lugo)
Kompas, Sabtu, 16 Agustus 2008 00:22 WIB
Rikard Bagun
Rikard Bagun
Kaki saya sudah berdiri untuk kaum miskin. Tidak mungkin kaki yang sama berdiri untuk dua tempat berbeda. Kalau saya berada di istana kepresidenan, posisi berdiri saya tetap untuk kaum miskin.
Semangat keberpihakan kepada kaum miskin itu antara lain ditegaskan Fernando Lugo Mendez dalam wawancara khusus dengan wartawan Kompas, Kamis (14/8) di Rumah Induk Sociedad del Verbo Divino (SVD) di Asuncion, Paraguay, sehari sebelum pelantikannya menjadi presiden.
Malam sebelumnya mantan uskup itu membuat beberapa orang terperangah. Tidak lama setelah tiba di rumah pribadi milik keluarga di pinggiran Asuncion, Lugo bergegas meminta rekan dekatnya dalam gerakan sosial, Martin Bhisu asal Flores, Nusa Tenggara Timur, yang sudah menunggu lama, untuk cepat-cepat ke Rumah Induk SVD.
Tanpa pengawalan apa pun, Lugo menumpang mobil setengah pick-up, kendaraan operasional Martin Bhisu, menjelang tengah malam itu. Di samping Martin, duduk tokoh muda Indonesia, Budiman Sudjatmiko, sementara Lugo duduk di belakang bersama Kompas dalam perjalanan sekitar 40 menit itu.
Terasa sedikit tegang karena ”nasib” pemimpin yang sedang populer di Amerika Latin itu berada di tangan tiga orang Indonesia. ”Aduh, kalau terjadi apa-apa,” terdengar suara bergumam setengah kecut.
Kamar tidur Lugo di Rumah Induk SVD kebetulan pula berdampingan dengan Martin Bhisu dan kamar Kompas, bahkan berhadapan langsung dengan kamar penginapan Budiman.
Sama sekali tidak terlihat petugas keamanan khusus ketika Lugo berada di Rumah Induk SVD, tempat yang sering diinapinya sekalipun sudah terpilih menjadi presiden, April lalu. Kamarnya sangat sederhana, dengan tempat tidur kayu yang ditutupi busa tipis.
Kesederhanaan Lugo juga terlihat pada rumah kediaman yang dihibahkan keluarganya di pinggiran Asuncion, kota berpenduduk sekitar 600.000 jiwa itu.
Dalam rumah berukuran 70 meter persegi itu tidak terlihat perabot baru. Kursi-kursi serba usang lebih menunjukkan semangat asketik pemiliknya.
Dalam wawancara di Rumah Induk SVD di pinggiran Asuncion, kota indah dan sejuk, Lugo didampingi Martin Bhisu, sekretaris pribadinya saat masih menjadi uskup. Martin yang mengikuti kiprah dan pemikiran Lugo mengatakan bahwa tokoh pergerakan itu mengetahui Pancasila dan ajaran Soekarno, yang antara lain menekankan keadilan sosial dan kedaulatan bangsa yang kini sedang diperjuangkan secara nyata di Paraguay dan kebanyakan negara Amerika Latin.
Sesekali dalam wawancara itu tokoh muda Indonesia, Budiman Sudjatmiko, terlibat dalam pembicaraan dengan Lugo tentang gerakan sosial dan politik progresif di Amerika Latin, termasuk kemungkinan pengaruhnya ke Asia dan Afrika.
Berikut hasil wawancara dengan Lugo.
Malam sebelumnya mantan uskup itu membuat beberapa orang terperangah. Tidak lama setelah tiba di rumah pribadi milik keluarga di pinggiran Asuncion, Lugo bergegas meminta rekan dekatnya dalam gerakan sosial, Martin Bhisu asal Flores, Nusa Tenggara Timur, yang sudah menunggu lama, untuk cepat-cepat ke Rumah Induk SVD.
Tanpa pengawalan apa pun, Lugo menumpang mobil setengah pick-up, kendaraan operasional Martin Bhisu, menjelang tengah malam itu. Di samping Martin, duduk tokoh muda Indonesia, Budiman Sudjatmiko, sementara Lugo duduk di belakang bersama Kompas dalam perjalanan sekitar 40 menit itu.
Terasa sedikit tegang karena ”nasib” pemimpin yang sedang populer di Amerika Latin itu berada di tangan tiga orang Indonesia. ”Aduh, kalau terjadi apa-apa,” terdengar suara bergumam setengah kecut.
Kamar tidur Lugo di Rumah Induk SVD kebetulan pula berdampingan dengan Martin Bhisu dan kamar Kompas, bahkan berhadapan langsung dengan kamar penginapan Budiman.
Sama sekali tidak terlihat petugas keamanan khusus ketika Lugo berada di Rumah Induk SVD, tempat yang sering diinapinya sekalipun sudah terpilih menjadi presiden, April lalu. Kamarnya sangat sederhana, dengan tempat tidur kayu yang ditutupi busa tipis.
Kesederhanaan Lugo juga terlihat pada rumah kediaman yang dihibahkan keluarganya di pinggiran Asuncion, kota berpenduduk sekitar 600.000 jiwa itu.
Dalam rumah berukuran 70 meter persegi itu tidak terlihat perabot baru. Kursi-kursi serba usang lebih menunjukkan semangat asketik pemiliknya.
Dalam wawancara di Rumah Induk SVD di pinggiran Asuncion, kota indah dan sejuk, Lugo didampingi Martin Bhisu, sekretaris pribadinya saat masih menjadi uskup. Martin yang mengikuti kiprah dan pemikiran Lugo mengatakan bahwa tokoh pergerakan itu mengetahui Pancasila dan ajaran Soekarno, yang antara lain menekankan keadilan sosial dan kedaulatan bangsa yang kini sedang diperjuangkan secara nyata di Paraguay dan kebanyakan negara Amerika Latin.
Sesekali dalam wawancara itu tokoh muda Indonesia, Budiman Sudjatmiko, terlibat dalam pembicaraan dengan Lugo tentang gerakan sosial dan politik progresif di Amerika Latin, termasuk kemungkinan pengaruhnya ke Asia dan Afrika.
Berikut hasil wawancara dengan Lugo.
Apa yang mendorong Anda meninggalkan jabatan keagamaan sebagai uskup dan masuk dalam dunia politik yang keras sampai terpilih menjadi presiden?
Saya terpanggil berpolitik dan berjuang menjadi presiden karena desakan keadaan Paraguay. Sudah lebih dari 61 tahun negeri ini berada di bawah rezim yang korup. Paraguay tidak mungkin terus bertahan jika korupsi terus merebak luas, yang membuat jumlah orang miskin dan menderita semakin meningkat.
Lawan-lawan politik Anda didukung oleh kalangan pengusaha dan media besar, sementara dukungan utama Anda kaum miskin. Bagaimana persoalan kepemimpinan Anda?
Setelah terpilih, saya dengan sendirinya menjadi pemimpin untuk semua rakyat Paraguay, kaya atau miskin. Namun, keberpihakan saya jelas tetap terhadap kaum miskin dan menderita.
Apa prioritas pemerintahan Anda?
Peningkatan pelayanan publik dengan pertama-tama melakukan depolitisasi birokrasi. Akan dilakukan pula kontrol ketat atas pengelolaan keuangan negara untuk mencegah korupsi. Akan dilakukan perubahan tata kepemilikan tanah, landreform, serta menciptakan kedaulatan energi.
Anda termasuk penganut neososialisme khas Amerika Latin. Apa yang Anda perjuangkan bersama tokoh Amerika Latin lainnya dari sosialisme baru itu?
Kami selalu belajar dan berjuang agar sosialisme tidak hanya menetap pada tataran konseptual atau gagasan, tapi menjadi gerakan politik efektif untuk mengubah nasib masyarakat secara nyata dan langsung. Ajaran sosial dan nilai-nilai luhur, seperti diajarkan berbagai agama, perlu diwujudkan nyata bagi masyarakat lapis bawah yang umumnya telantar atau ditelantarkan.
Posisi Anda sendiri dalam gerakan sosialisme baru itu?
Saya memandang diri saya sebagai bagian dari sejarah yang sedang berkembang di Amerika Latin. Apa yang terjadi di Amerika Latin merupakan fenomena global dan anak zaman. Bisa-bisa neososialisme yang menekankan praktik, bukan wacana, ini akan segera bertiup di Asia dan Afrika.
Apa pengaruh Teologi Pembebasan bagi gerakan politik Anda?
Terus terang, saya pengagum dan peminat Teologi Pembebasan, yang antara lain telah membuat saya mampu memahami realitas kemiskinan dan ketimpangan sosial.
Lantas, apa hubungannya dengan politik?
Teologi Pembebasan memang bukan gerakan politik dengan wadah partai politik, namun memberikan inspirasi bagi tindakan politik saya. Ketika berpolitik, saya bertindak sebagai warga negara, bukan sebagai penganut Teologi Pembebasan.
Bagaimana Anda merefleksikan kehidupan selama ini, terutama sebagai biarawan, setelah berada di puncak kekuasaan?
Pergulatan keagamaan saya sangat memengaruhi pilihan dan keberpihakan politik saya. Saya anak Gereja dan dibesarkan di dalamnya. SVD adalah ibu yang membesarkan saya. Saya patut berterima kasih atas nilai yang saya peroleh untuk persaudaraan, keadilan, kemanusiaan yang bersifat universal dan lintas budaya.
Anda selama ini bergaul dan hidup dengan orang pinggiran, bahkan dijuluki Uskup Kaum Papa. Apa perasaan Anda ketika memasuki dan hidup di istana?
Saya tidak akan berubah. Sebaliknya, saya ingin mengubah politik dengan nilai-nilai kebaikan yang saya dapatkan dari lingkungan keluarga, kongregasi saya, SVD, dan pergaulan dengan masyarakat miskin. Kaki saya sudah berdiri untuk kaum miskin. Tidak mungkin kaki yang sama berdiri untuk dua tempat berbeda. Kalau saya berada di istana kepresidenan, posisi berdiri saya tetap untuk kaum miskin.
Setelah selesai menjadi presiden, apakah kembali ke biara?
Saya akan kembali bekerja sesuai dengan panggilan hidup saya sebagai rohaniwan, tapi dengan cara lain. Saya akan tetap sebagai seorang religius, tapi bukan dalam pastoral aktif. Mungkin akan memilih cara hidup yang lebih meditatif dan reflektif agar bisa membagi pengalaman hidup berpolitik dan religius, terutama kepada kelompok masyarakat miskin dan lemah.
Men Sana In Corpore Sano
Ungkapan "di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, telah mendorong kami (beberapa dosen muda untuk membentuk sebuah klub futsal. Kami selalu menghabiskan waktu setiap Jumat sore (jam 4-5) untuk bermain futsal di lapangan futsal Gerlong. Kami benar-benar menikmati permainan yang banyak menguras energi dan mengundang gelak tawa ini. Maklum, hampir semua pemainyan berperut buncit.......
Beberapa waktu yang lalu, kami mengikuti pertandingan Futsal PHRI Cup, karena fisik dan teknik pas-pasan, kami akhirnya "dibantai" 11-5 oleh tim futsal dari savoy Homman yang memiliki skil dan tenaga di atas rata-rata.
Kadang-kadang kami juga bertanding futsal melawan mahasiswa....
Walaupun kalah kami tetap memegang teguh nasihat dari Om Zidane Pudin bahwa Kalah menang hal biasa, bisa main futsal luar biasa......
Semoga tercapai cita-cita Men sana in corpore sano dan lingkar perut semakin mengecil.... wk ka....kak....kak...ka
Sertifikasi TEDQUAL
Hari Kamis 13/11/08, ada kegiatan penilaian untuk sertifikasi Tedqual (Tourism Education Quality) yang merupakan kegiatan sertifkasi untuk pendidikan kepariwisataan. Sertifikasi ini diawasi oleh UNWTO (United Nation -World Tourism Organization). Penilai yang datang bernama Mrs. Antonio Ramires (Spanyol).Anggota Tim penilai yang lain / dari Australia sedang berada di Bali. Ini semua gara-gara eksekusi Si Amrozi. Ceritanya, saat i bomber akan dieksekusi, Pemerintah Australia melarang warganya untuk ke Indonesia selain ke Pulau Bali. So, anggota tim lainnya yang nota bene warga Australia tidak bisa mengunjungi STP Bandung.
Kami semua terlibat dalam persiapan penyambutan sang penilai ini. Semua daya upaya juga dilakukan untuk dapat memberikan yang terbaik.....
Setahu saya, baru ada dua institusi pendidikan pariwisata di Indonesia yang mengikuti sertfikasi ini yakni Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung & Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.
Semoga kedua saudara STP ini berhasil dalam kegiatan Sertifikasi ini.
Go... Pariwisata Indonesia. Maju terus.....!!!
Semangat Baru
Hari ini, saya berketetapan hati untuk kembali mengisi kembali blog ini. Rupanya saya terlalu asyik untuk membaca blog orang lain.
Hari ini, kami mendapat kunjungan dari alumni Tours & Travel (TnT) angkatan '99. Ada Ari, Tomy, Philipus, dan Gita.. Mereka berkesempatan untuk saling berbagi ide, gagasan, pengalaman yang mereka punyai setelah tamat kuliah dengan mahasiswa semeseter 1&7 (sem.3 sedang fieldtrip ke Yogyakarta dan semarang). Ary membagi pengalaman sebagai seorang Hotel Consultan di Singapura dan Qatar diselingi dengan paparan tentang kecenderungan yang terjadi di dunia pariwisata saat ini dengan cerita tentang Kelinci dan Kura-kura dengan moral of story yang sangat baik. Bahwa kita harus bekerja dengan strategi yang baik. Apapun profesi kita, mahasiswa, karyawan, dosen ataupun wirausaha. Gita membagi cerita tentang pekerjaannya di dunia hiburan (event pertama yang Gita gelar adalah pertunjukan music yang menampilkan artis Glenn Fladly). Gita berpesan, bahwa kerjakan segala sesuatu dengan baik, apa yang ada di depan mata. Gita bergelut di dunia hiburan bukan berarti Gita tidak mencintai TnT....... Philipus men-share pengalamannya sebagai seorang tour operator di sebuah Biro Perjalanan Wisata. Pesannya: work smart. (Rupanya Apus masih selalu mengingat pesan-pesan dari Mantar Ketua STPB/Pak Bendhi yang selalu berpesan work smart-learn smart di setiap kesempatan apapun di lingkungan STPB). Terakhir Tomy membagi pengalamannya sebagai seorang wirausaha di bidang TnT. Saat ini Tomy yang sudah menyelesaikan S-2 TnT di STPB sedang mengelola sebuah Biro Perjalanan Wisata di Bandung.
Sayapun merasa tergugah untuk kembali melakukan kontak-kontak dengan alumni TnT. Pasti akan ada banyak info, gagasan, pengalaman yang dapat kami peroleh....
Hari ini, saya juga mendapat khabar bahwa sepupu saya Yanto Lena yang baru tiba di Surbaya (datang dari Kampung) akan mengunjungi kami di Bandung. Nanti sore naik bis dan tiba di Bandung Sabtu pagi.. Semoga Tuhan melindungi mereka dalam perjalanan.......
Hari ini, kami mendapat kunjungan dari alumni Tours & Travel (TnT) angkatan '99. Ada Ari, Tomy, Philipus, dan Gita.. Mereka berkesempatan untuk saling berbagi ide, gagasan, pengalaman yang mereka punyai setelah tamat kuliah dengan mahasiswa semeseter 1&7 (sem.3 sedang fieldtrip ke Yogyakarta dan semarang). Ary membagi pengalaman sebagai seorang Hotel Consultan di Singapura dan Qatar diselingi dengan paparan tentang kecenderungan yang terjadi di dunia pariwisata saat ini dengan cerita tentang Kelinci dan Kura-kura dengan moral of story yang sangat baik. Bahwa kita harus bekerja dengan strategi yang baik. Apapun profesi kita, mahasiswa, karyawan, dosen ataupun wirausaha. Gita membagi cerita tentang pekerjaannya di dunia hiburan (event pertama yang Gita gelar adalah pertunjukan music yang menampilkan artis Glenn Fladly). Gita berpesan, bahwa kerjakan segala sesuatu dengan baik, apa yang ada di depan mata. Gita bergelut di dunia hiburan bukan berarti Gita tidak mencintai TnT....... Philipus men-share pengalamannya sebagai seorang tour operator di sebuah Biro Perjalanan Wisata. Pesannya: work smart. (Rupanya Apus masih selalu mengingat pesan-pesan dari Mantar Ketua STPB/Pak Bendhi yang selalu berpesan work smart-learn smart di setiap kesempatan apapun di lingkungan STPB). Terakhir Tomy membagi pengalamannya sebagai seorang wirausaha di bidang TnT. Saat ini Tomy yang sudah menyelesaikan S-2 TnT di STPB sedang mengelola sebuah Biro Perjalanan Wisata di Bandung.
Sayapun merasa tergugah untuk kembali melakukan kontak-kontak dengan alumni TnT. Pasti akan ada banyak info, gagasan, pengalaman yang dapat kami peroleh....
Hari ini, saya juga mendapat khabar bahwa sepupu saya Yanto Lena yang baru tiba di Surbaya (datang dari Kampung) akan mengunjungi kami di Bandung. Nanti sore naik bis dan tiba di Bandung Sabtu pagi.. Semoga Tuhan melindungi mereka dalam perjalanan.......
Rabu, 23 April 2008
Masa Kuliah
Langganan:
Komentar (Atom)