Senin, 31 Maret 2008

Alat Musik Tradisional NTT


Alat Musik Tiup
Sumber: www.tamanbudayantt.net
FOY DOA

Kabupaten Ngada Flores yang beribukota Bajawa mempunyai banyak ragam kesenian daerah. antara lain musik Foy Doa.Seberapa lama usia musik Foy Doa tidaklah diketahui dengan pasti karena tidak ada peninggalan- peninggalan yang dapat dipakai untuk mengukurnya. Foy Doa berarti suling berganda yang terbuat dari buluh/bamabu keil yang bergandeng dua atau lebih.Mungkin musik ini biasanya digunakan oleh para muda-mudi dalam permainan rakyat di malam hari dengan membentuk lingkaran. Sistem penalaan, Nada-nada yang diproduksi oleh musik Foy Doa adalah nada-nada tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara, hak ini tergantung selera si pemain musik Foy Doa.Bentuk syair, umumnya syair-syair dari nyanyian musik Foy Doa bertemakan kehidupan , sebagai contoh : Kami bhodha ngo kami bhodha ngongo ngangi rupu-rupu, go-tuka ate wi me menge, yang artinya kami harus rajin bekerja agar jangan kelaparan.Cara Memainkan, Hembuskan angin dari mulut secara lembut ke lubang peniup, sementara itu jari-jari tangan kanan dan kiri menutup lubang suara.Perkembangan Musik Foy Doa, Awal mulanya musik Foy Doa dimainkan seara sendiri, dan baru sekitar 1958 musisi di daerah setempat mulai memadukan dengan alat-alat musik lainya seperti : Sowito, Thobo, Foy Pai, Laba Dera, dan Laba Toka. Fungsi dari alat-alat musik tersebut di atas adalah sebagai pengiring musik Foy Doa.

FOY PAY

Alat musik tiup dari bambu ini dahulunya berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu tandak seperti halnya musik Foy Doa.Dalam perkembangannya waditra ini selalu berpasangan dengan musik Foy Doa. Nada-nada yang diproduksi oleh Foy Pai : do, re, mi, fa, sol.

KNOBE KHABETAS

Masyarakat Dawan peraya bahwa alat musik Knobe Kbetas telah ada sejak nenek moyang mereka berumah di gua-gua. Bentuk alat musik ini sama dengan busur panah. Cara memainkannya ialah, salah satu bagian ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah, dan kemudian udara dikeluarkan dari kerongkongan, sementara tali busur dipetik dengan jari. Meripakan kebiasaaan masyarakat dawan di pedesaan apabila pergi berook tanam atau mengembala hewan mereka selalu membawa alat-alat musik seperti Leku, Heo, Knobe Kbetas, Knobe Oh, dan Feku. Sambil mengawasi kebun atau mengawasi hewan-hewan, maka musik digunakan untuk melepas kesepian. Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik ini digunakan juga untuk upacara adat seperti, Napoitan Li'ana (anak umur 40), yaitu bayi yang baru dilahirkan tidak diperkenankan untuk keluar rumah sebelum 40 hari. Untuk menyonsong bayi tersebut keluar rumah setelah berumur 40 hari, maka diadakan pesta adat (Napoitan Li'ana).

KNOBE OH

Nama alat musik yang terbuat dari kilit bambu dengan ukuran panjang lebih kurang 12,5 cm. ditengah-tengahnya sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang memanjang (semacam lidah) sedemikian halusnya, sehingga dapat berfungsi sebagai vibrator (penggetar). Apabila pangkal ujungnya ditarik dengan untaian tali yang terkait erat pada pangkalujung terseut maka timbul bunyi melalui proses rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.

NUREN

Alat musik ini terdapat di Solor Barat. Orang Talibura di Sikka Timur menyebut alat musik ini dengan nama Sason, apabula disebut seara puitis menjadi Sason Nuren. Secara etimologi Sason berarti jantan, dan Nuren berarti perempuan. Sason Nuren merupakan dua buha suling yang dimainkan oleh seorang sendirian, merupakan sebutan keramat, sakral, kesayangan, alat hiburan. Menurut cerita tua, seorang tokoh legendaris Solor Barat konon berkepala dua sekaligus memiliki rmulut dua. Orang Solor Barat menyebutnya dengan nama Edoreo sedangkan di bagian tengah Solor Barat menyebutnya dengan nama Labaama Kaha. Konon menurut erita ia pernah hidup 3-4 abad yang lalu. Konon menurut erita pula ia mampu meminkan Sason Nuren sekaligus, sehingga apabila sedang maminkan lat musik ini orang mengira ada dua pribadi yang sedang memainkan Sason Nuren. Menurut keperayaan penduduk setempat Sason Nuren merupakan suara para peri (nitun).

SUNDING TONGKENG

Nama alat musik tiup ini berhubungan dengan bentuk serta ara memainkannya, yaitu seruas bambu atau buluh yang panjangnya kira-kira 30 cm. Buku salah satu ujung jari dari ruas bambu dibiarkan. Lubang suara berjumlah 6 buah dan bmbu berbuku. Sebagian lubang peniutp dililitkan searik daun tala. Cara memainkan alat musik ini seperti memainkan flute. Karena posisi meniup yang tegak itu orang Manggarai menyebutnya Tongkeng, sedangkan sunding adalah suling., sehingga alat musik ini disebut dengan nama Sunding Tongkeng. Alat musik ini bisanya digunakan pada waktu malam hari sewaktu menjaga babi hutan di kebun. Memainkan alat musik ini tidak ada pantsngan, keuali lagu memanggil roh halus yaitu Ratu Dita

PRERE

Alat bunyi-bunyian dari Manggarai ini terbuat dari seruas bambu keil sekeil pensil yang panjangnya kira-kira 15 cm. Buku ruas bagian bawah dibiarkan tertutup, tetapi bagian atasnya dipotong untuk tempat meniup. Buku ruaw bagian bawah dibelah untuk menyaluirkan udara tiupan mulut dari tabung bambu bagian atas, sekaligus bagian belahan bambu itu untuk melilit daun pandan sehingga menyerupai orong terompet yang berfungsi memperbesar suaranya. Alat musik ini selain digunakan untuk hiburan pribadi, juga digunakan untuk mengiringi musik gong gendang pada permainan penak silat rakyat setempat. Nada-nada yang dihasilkan adalah do dan re, sehingga nama alat ini disebut Prere.

SULING

Umumnya seluruh kabupaten yang ada di NTT memiliki instrumen suling bambu, seperti di Sumba terdapat suling hidung. Namanya demikian karena suling ini ditiup dari hidung. Kalau di Kabupaten Belu terdapat orkes suling dengan jumlah pemain ( 40 orang. Orkes suling ini terdiri dari suling pembawa melodi (suling keil), dan suling pengiring yang berbentuk silinder yaitu, suling alto, tenor, dan bass. Suling pengiring ini terdiri dari 2 bambu yang berbentuk silinder yaitu, bambu peniup berukuran keil dan bambu pengatur nada berbentuk besar.Suling melodi bernada 1 oktaf lebih, suling pengiring bernada 2 oktaf. Dengan demikian untuk meniptakan harmoni atau akord, maka suling alto bernada mi, tenor bernada sol, dan bass bernada do, atau suling alto bernada sol, tenor mi,dan dan bass bernada do.Cara memainkan : suling sopran atau pembawa melodi seperti memainkan suling pada umumnya, dan suling pengiring sementar bambu peniup dibunyikan, maka bambu pengatur nada digerakkan turun dan naik, yaitu sesuai dengan nada yang dipilih. Keualui pada sulign bass, bambu peniup yang digerakkan turun dan naik.Fungsi alat musik suling ini untuk menyambut tamu atau untuk memeriahkan hari-hari nasional.

Alat Musik Petik

GAMBUS

Alat musik diperkirakan masuk ke Flores Timur sejak masuknya agama Islam sekitar abad 15. Alat musik ini terbuat dari kayu, kulit hewan, senar, dan paku halus. Alat musik petik ini merupakan instrumen berdawai ganda yaitu, setiap nada berdawai dua/double snar. Dawai pertama bernada do, dawai kedua bernada sol. Dan dawai ketiga bernada re, atau dawai pertama bernada sol, dawai kedua bernada re, dan dawai ketiga bernada la. Fungsi alat musik ini untuk mengiringi lagu-lagu padang pasir.

HEO

Alat gesek (heo) terbuat dari kayu dan penggeseknya terbuat dari ekor kuda yang dirangkai menjadi satu ikatan yang diikat pada kayu penggesek yang berbentuk seperti busur (dalam istilah masyarakat Dawan ini terbuat dari usus kuskus yang telah dikeringkan). Alat ini mempunyai 4 dawai, dan masing-masing bernama :- dawai 1 (paling bawah) Tain Mone, artinya tali laki-laki- dawai 2 Tain Ana, artinya tali ana- dawai 3 Tain Feto, artinya tali perempuan- dawai 4 Tain Enf, artinya tali indukTali 1 bernada sol, tali 2 bernada re, tali tiga bernada la dan tali 4 bernada do.

LEKO BOKO/ BIJOL

Alat musik petik ini terbuat dari labu hutan (wadah resonansi), kayu (bagian untuk merentangkn dawai), dan usus kuskus sebagai dawainya. Jumlah dawai sama dengan Heo yaitu 4, serta nama dawainya pun seperti yang ada pada Heo. Fungsi Leko dalam masyarakat Dawan untuk hiburan pribadi dan juga untuk pesta adat. Alat musik ini selalu berpasangan dengan heo dalam suatu pertunjukan, sehingga dimana ada heo, disitu ada Leko. Dalam penggabungan ini Lelo berperan sebagai pembei harmoni, sedangkan Heo berperan sebagi pembawa melodi atau kadang-kadang sebagai pengisi (Filter) Nyanyian-nyayian pada msyarkat Dawan umumnya berupa improvisasi dengan menuturkan tentang kejadian-kejadi an tang telah terjadi pda masa lampau maupun kejadian yang sedang terjadi (aktual).Dalam nyanyian ini sering disisipi dengan Koa (semaam musik rap). Koa ada dua macam yaitu, Koa bersyair dan Koa tak bersyair.

SOWITO

Alat musik pukul dari bambu dari Kabupaten Ngada. Seruas bambu yang dicungkil kulitnya berukuran 2 cm yang kemudian diganjal dengan batangan kayu kecil. Cungkilan kulit bambu ini berfungsi sebagai dawai. Cara memainkan dipukul dengan sebatang kayu sebesar jari tangan yang panjangnya kurang dari 30 cm. Sertiap ruas bambu menghasilkn satu nada. Untuk keperluan penggiringan, alat musik ini dibuat beberapa buah sesuai kebutuhan.

REBA

Alat musik ini berdawai tunggal ini, terbuat dari tempurung kelapa/labu hutan sebagai wadah resonansi yang ditutupi dengan kulit kambing yang ditengahnya telah dilubangi. Dawainya terbuat dari benang tenun asli yang telah digosok dengan lilin lebah. Penggeseknya terbuat dari sebilah bambu yang telah diikat dengan benang tenun yang juga telah digosok dengan lilin lebah.Dalam pengembangannya alat ini dari jenis gesek menjadi alat musik petik, yang juga berdawai satu dimodifikasikan menjadi 12 dawai, serta dawainya pun diganti dengan senar plastik. Reba tiruan ini berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu daerah populer.

MENDUT

Alat musik petik/pukul dari bambu ini berasal dari Manggarai. Seruas bambu betung yang 1,5 tahun yang panjangnya kira-kira 40 m. Kedua ujung bambu dibiarkan, namun salah satunya dilubangi.Cara pembuatannya, di tengah bambu dilubangi persegi empat dengan ukuran 5 x 4 m. Disamping kiri kanan lubang masing-masing dicungkil satu kulit bambu yang kemudian diganjal dengn batangan kayu hingga berfungsi sebagai dawai.Cara memainkan alat musik ini adalah dengan dipetik atau dipukul-pukul dengan kayu kecil.

KETADU MARA

Alat musik petik dua dawai yang biasa digunakan untuk menghibur diri dan juga sebagai sarana menggoda hati wanita. Alat musik ini dipercayai pula dapat mengajak cecak bernyanyi dan juga suaranya disenangi makluk halus.

SASANDO

Fungsi musik sasando gong dalam masyarakat pemiliknya sebagi alat musik pengiring tari, menghibur keluarga yang sedang berduka, menghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta, dan sebagai hiburan pribadi. Sasando gong yang pentatonis ini mempunyai banyak ragam cara memainkannya, antara lain : Teo renda, Ofalangga, Feto boi, Batu matia, Basili, Lendo Ndao, Hela, Kaka musu, Tai Benu, Ronggeng, Dae muris, Te'o tonak.Ragam-ragam tersebut sudah merupakan ragam yang baku, namun dengan sedikit perbedaan ini dikarenakan :(a). Rote terdiri dalam 18 Nusak adat dan terbagi dalam 6 keamatan. Dengan sendirinya setiap nusak mempunyai gaya permainan yang berbeda-beda. (b). Perbedaan-perbendaan ini dipengaruhi oleh kemampuan musikalis dari masing-masing pemain sasando gong. (c). Belum adanya sistem notasi musik sasando gong yang baku.Perkembangan SansandoSasando pada mulanya menggunakan tangga nada pentatonis. Diperkirakan akhir abad ke-18 sansando mengalami perkembangan sesuai tuntutn zaman, yaitu menggunakan tangga nada diatonis. Sasando diatonis khusunya berkembang di Kabupaten Kupang.Jumlah dawai yang digunakan oleh sasando diatonis bervariasi yaitu, 24 dawai, 28 dawai, 30 dawai, 32 dawai, dan 34 dawai. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya yaitu kira-kira 1960 untuk pertam kalinya sasando menggunakan listrik. Ide ini datang dari seorang yang bernama Bapak edu Pah, yaitu salah seorang pakar pemain sasando di Nusa Tenggara Timur.

Alat Musik Bunyi-bunyian

KERONTANG

Pada jaman lampau wilayah pulau komodo masih berhutan, karena itu masih banyak binatang buas perusak tanaman seperti Kera. Untuk mengusir binatang pengganggu tanaman, terciptalah alat musik ini. Alat musik bunyi-bunyian ini terbuat dari tiga belahan kayu bulat kering yang panjangnya 30 cm. Ketiga belahan kayu ini diletakkan di atas kaki pemain yang sedang duduk dan kemudian dipikul dengan batangan kayu sebesar jari tengah.

TATABUANG
Di Tanalein alat musik ini disebut Leto, di Desa Lamanole Flores Timur disebut Tatabuang. Rupanya mirip dengan nama Totobuang alat musik dari Maluku. Kemungkinan besar alat musik ini dibawa oleh suku Kera (Keraf) dari Maluku. Sebutan Tatabuang hanya terdapat di Lemonale, dan di desa ini banyak terdapat orang suku Kera yang menyebut dalam sejarah pelayaran menggunakan perahu kora-kora. Terdapat sebuah erita bahwa asal muasal alat musik ini dari seorang anak yang selalu mau mengikuti orang tuanya ke kebun. Setiap hari sang anak selalu menangis, dan ini sangat mengganggu kepergian mereka kek kebun. Untuk mengatasinya sang ayah membuat alat musik ini untuk sang anak.Di Lemonale permainan Tatabuang melalui dua cara, yaitu digantung seperti Leto dan yang lain diletakkan di atas pangkuan.Tatabuang dibuat dari batangan kayu Sukun yang digantung berbentuk bulat dan hati dari kayu tersebut dikeluarkan. Tatabuang yang digantung bernama Letor di Sikka dan yang dipangku bernama Preson di Wulanggintang.

THOBO

Alat musik tumbuk dari bambu ini berasal Kabupaten Ngada. Seruas Bambu betung yang buku bagian bawahnya dibiarkan, sedangkan bagian atasnya dilubangi. Ara memainkannya ditumbuk ke lantai atau tanah (seperti menumbuk padi). Alat musik ini berfungsi sebagai bass dalam mengiringi musik Foy doa.

GONG

Gong merupakan alat musik yang umum terdapat pada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terbuat dari tembaga, kuningan, atau dari besi. Biasanya digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya untuk pesta adat, mengiringi tarian dalam penerimaan tamu dan sebagainya.Perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain antara lain jumlah gong , ukurannya, cara memainkannya, serta penglarasnya. Khusus penglaras umunya berkisar pada laras pelog dan slendro.
Nama-nama gong pada masing-masing daerah tidak sama, untuk jelas lihat ontoh berikut :a. Gong Sumba Barat
Kelompok pertama yang terdiri dari 4 buah gong kecil (katala meduk) dengan urutan pemukulan sebagai berikut :Mamaalu/gong pertama yaitu gong yang ditabuh/dibunyikan paling pertama, Pahimangu/gong kedua yaitu gong yang dibunyikan setelah mamaulu berbunyi, Pahelungu/gong ketiga yaitu gong yang dibunyikan dengan kecepatan dua kali lebih epat dari gong yang terdahulu, Kabokang/gong keempat yaitu gong yang dibunyikn sama epatnya dengan gong ketiga dan saling mengisi sehingga terdengar bunyi yang harmonis.
Kelompok kedua yang terdiri dari dua gong besar, yang dalam bahasa Anakalang disebut Katalla bakul, namun ada juga menyebut dengan nama Gasa. Katalla Bakul atau Gasa dibunyikan seara berganti-ganti untuk mengimbangi keempat gong di atas (kelompok pertama).b. Gong SabuNama-nama gong sesuai dengan cara menabuhnya, ontoh gong pengiring tari Ledo Hawu :Leko yaitu dua buah gong yang mula-mula ditabuh seara bergantian, Didale ae, Didala Iki, dan Gaha yaitu tiga buah gong yang berukuran agak besar (gong bass) yang juga ditabuh secara bergantian, Wo Peibho Abho yaitu dua buah gong yang ditabuh sebagai pengiring gong Leko, Wo Paheli yaitu dua buah gong yang ditabuh sebagai pengiring Leko dan We Peibho Abho.c. Gong AlorNama-nama gong :- Kingkang yaitu dua buah gong kecil.- Dung-dung/kong-kong yaitu dua buah gong sedang.- Posa yaitu tiga buah gong besar.d. Gong NgadaGong Ngada terdiri dari lima buah dan umumnya berukuran kecil. Nam-nama gong :- Doa yaitu dua buah gong yang dimainkan seara silih berganti.- Dhere yaitu terdiri dari satu gong- Uto-uto yang juga hanya satu gong- Wela yaitu gong yang paling tingi suaranya.e. Gong DawanGong Dawan yang dimaksudkan di sini adalah dari Amanuban tepatnya di Desa Nusa Timor Tengah Selatan. Gong yang digunakan umumnya berjumlah 6 buah. Nama-nama gong :Tetun yaitu dua buah gong keil, namun apabila dari kedua gong ini hanya dibunyikan salah satunya maka namnya berubah menjadi Toluk, Ote' yaitu dua buah gong sedang. Kedua gong ini dibunyikan dengan penuh perasaan, Kbolo' yaitu dua buah gong besar yang dimainkan dengan tidak terlalu cepat.

Selasa, 18 Maret 2008

Eksploitasi Panas Bumi Mataloko

03 Januari 2008
Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

KUPANG, SPIRIT--PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengupayakan eksploitasi panas bumi di Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, segera terealisasi akhir tahun ini."Kami akan berkoordinasi dengan pihak yang mengurus sumur untuk eksploitasi listrik geothermal itu untuk membenahi persoalan di lapangan. Nampaknya ada masalah pada sistem injeksi sehingga belum bisa menghasilkan uap," kata Direktur Utama PT PLN, Eddy Widiono, di Kupang, Sabtu (6/10/2007), sebelum bertolak ke Jakarta untuk mengakhiri Safari Ramadhan PT PLN di wilayah NTT.Ia mengatakan, PLN Wilayah NTT terus mengkaji berbagai kemungkinan yang dapat menghambat proses eksploitasi panas bumi Mataloko agar pemanfaatan listrik geothermal itu dapat terlaksana paling lambat akhir tahun 2007 sesuai target Direktorat Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM).Sesuai perencanaan awal, penyediaan pembangkit listrik tanggungjawab PLN sementara teknis pengoperasian sumur injeksi merupakan kompetensi DESDM.Tahapan konstruksi pembangkit listrik sudah dilakukan dalam tahun anggaran 2005-2006 berupa pemasangan dua unit pembangkit berkekuatan 2,5 MW (2 x 2,5 MW). Potensi geothermal di Mataloko 100-150 Mega Watt (MW)."Pembangkit listrik geothermal yang menjadi tanggungjawab PLN sudah tersedia dan tidak ada masalah. Kendala di lapangan berkaitan dengan pengoperasian sumur injeksi yang bukan kompetensi PLN sehingga perlu dikoordinasikan guna menuntaskan kendala tersebut," ujar Widiono.PT PLN, tambahnya, bersedia mengupayakan tambahan dana jika dibutuhkan untuk mempercepat realisasi pemanfaatan panas bumi Mataloko itu karena pada dasarnya manajemen PLN membutuhkan listrik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.UlumbuProyek pemanfaatan panas bumi di Ulumbu dilaksanakan sejak tahun 1990-an dengan dukungan dana yang bersumber dari APBN. Saat ini, sudah ada dua sumur produksi disertai satu sumur reinjeksi dengan nilai investasi sejak awal hingga tahapan produksi yang direncanakan tahun ini, diperkirakan mencapai Rp 23 miliar.Potensi panas bumi di Mataloko merupakan satu dari 20 titik panas bumi di wilayah NTT yang sudah diekplorasi. Satu titik panas bumi lainnya yang juga sudah dieksplorasi bersamaan dengan Mataloko yakni Ulumbu di Kabupaten Manggarai.Pengeboran panas bumi Ulumbu yang didanai Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam bentuk loan, telah menghasilkan tiga sumur produksi dan satu sumur reinjeksi dan telah diujicoba yang menghasilkan produksi listrik 5,1 MW.Widiono mengatakan, proyek Ulumbu sebenarnya sudah dilakukan pada Agustus 1994, sebagai proyek percontohan yang dikembangkan PLN untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) skala kecil guna melayani masyarakat terpencil di daerah pedesaan.Namun, pada Oktober 1995, dua sumur yang berhasil dibor ditutup kembali dan baru dibenahi kembali pada tahun 2003-2004, tetapi baru satu sumur sehingga sumur yang satu lagi juga harus direhabilitasi.Hasil uji 'long term' pada 9 September 2004 diketahui tekanan kepala sumur ialah 28 barg ketika sumur dibuka 25 persen. Sementara laju uap air (flow rate) 54,61 ton per jam atau ekuivalen dengan daya listrik sebesar lebih kurang 6 MW."Ulumbu memiliki potensi geothermal 100-150 MW, namun sumur produksinya masih harus direhabilitasi. Mudah-mudahan tahun 2008 dapat dieksploitasi," ujar Widiono. (antara)

Diposting oleh Spirit NTT di 1/03/2008 03:04:00 AM

Laporan Aris Ninu, SPIRIT NTT, 14-20 Januari 2008
BAJAWA, SPIRIT--Lokasi air panas Malanage, Desa Dariwali, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada, belum dikelola menjadi obyek wisata yang bisa memberi kontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD). Obyek wisata air panas yang masih 'perawan' ini belum diperhatikan dan ditata pemerintah agar bisa dikunjungi wisatawan.Selain air panas, di Kecamatan Jerubuu, ada obyek wisata budaya berupa Kampung Adat Bena di Desa Tiworiwu dan Gunung Inerie yang cocok untuk wisata pendakian.Pantauan SPIRIT NTT pekan lalu di lokasi air panas Malanage yang berada ditepi ruas jalan ke Desa Naruwolo, air panas yang dihasilkan suhunya jauh lebih panas dibanding dengan air panas Mangeruda.Air panas Malanage mengalir dari lereng bukit yang berdekatan dengan Gunung Inerie. Lokasi air panas ini belum dikelola Pemkab Ngada untuk menjadi sebuah obyek wisata.Di sekitar kawasan ini tumbuh subur tanaman-tanaman keras dan tanaman perkebunan seperti kakao, cengkeh dan tanaman perkebunan lainnya.Fransiskus, warga Dariwali, menuturkan, air panas Malanage lebih panas dari air di Mangeruda. "Jika ada orang yang ingin mandi harus ke tempat pertemuan air panas dan air dingin yang berada di bawah. Air di bagian atas selama ini tidak bisa dipakai rendam badan karena terlalu panas," ujarnya.Menurut Frans, suhu air panas di lokasi itu bisa dipakai untuk merebus telur.Veronica, warga Jerubuu, kepada SPIRIT NTT, mengatakan, air panas Jerubuu bisa dijadikan obyek wisata karena banyak pengunjung lokal dari Kecamatan Bajawa setiap minggu dan hari libur datang ke lokasi ini untuk rekreasi."Saya tinggal di Bajawa namun baru kali ini datang ke Jerubuu. Ternyata ada air panas yang jauh lebih panas dibanding air di Mangeruda. Obyek ini perlu diperhatikan dan dijadikan obyek wisata yang bisa dikunjungi wisatawan," tambah Hendrik, warga Bajawa.Untuk diketahui, Kecamatan Jerubuu mekar dari Kecamatan Aimere pada tahun 2000. Jerubuu terkenal dengan kawasan perbukitan dan lereng gunung yang memiliki potensi alam yang indah guna dijadikan obyek wisata.Kawasan Jerubuu berada di sekitar kawasan gunung berapi Inerie. Obyek lain yang membuat Jerubuu dikenal yakni masyarakat di kecamatan ini masih menghormati leluhur. Budaya dan adat istiadat masih dipegang. Dan di wilayah ini terdapat obyek wisata Kampung Adat Bena di Desa Tiworiwu (18 km dari Bajawa) dengan sejumlah peninggalan leluhur yang bernilai budaya tinggi. Sampai sekarang peninggalan itu masih ada dan dihormati.

Diposting oleh Spirit NTT di 1/18/2008 09:20:00 PM

44.763 Ton mete Aimere diekspor ke Vietnam

04 Januari 2008

Laporan Aris Ninu, Spirit NTT, 31 Desember 2007- 6 Januari 2008

BAJAWA, SPIRIT-- Sejak November 2007, 44.763 ton jambu mete gelondogan dari lima desa di Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, diekspor ke Vietnam melalui seorang pengusaha di Surabaya, Jawa Timur.Volume mete yang diantarpulaukan melalui Pelabuhan Labuan Bajo di Manggarai Barat ke Surabaya untuk ekspor sebanyak 44.763 ton. Dalam jual beli komoditi itu, para petani yang tergabung dalam Koperasi Karya Bersama, menjualnya dengan harga Rp 7.930,00/kg.Hal itu dikatakan Kepala Dinas Perkebunan Ngada, Gerardus Mango, melalui Kasubdin Usaha Tani, Hengky Djawaluna, ketika ditemui SPIRIT NTT di kantornya, Rabu (19/12/2007). Saat itu Djawaluna didampingi Ketua Koperasi Karya Bersama petani mete Aimere, Yohanes Lape Boro.Dia mengatakan, pada Oktober 2007, seorang pengusaha mente bernama Diana Damayanti dari CV Wahana Lintas Niaga Surabaya, datang ke Desa Aimere Timur guna melihat potensi mete yang ada di desa itu.Dalam kunjungannya itu, Damayanti langsung menemui para petani yang tergabung dalam koperasi. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, dimana pengusaha bersedia membeli mete para petani dengan harga Rp 7.930,00/kg dan dibawa ke Surabaya lalu diekspor ke Vietnam.Sekembali dari Kabupaten Ngada, kata Djawaluna, pengusaha tersebut langsung mendapat mete yang dikirim petani Aimere, pada 20 Oktober 2007. Saat itu, volume yang diantarpulaukan itu sebanyak 160.820 ton.Pada 9 November 2007, lanjut dia, para petani mengirim lagi mete sebanyak 14.720 ton. Dan, ketiga, pada 8 Desember 2007 dikirim lagi mete sebanyak 13.962 ton. Jadi, volume hasil pertanian yang telah dikirim ke Vietnam melalui pengusaha itu sejumlah 44.763 ton mete gelondongan. *"Kami bersyukur"KETUA Koperasi Karya Bersama Petani Mete, Yohanes Lape Boro, kepada SPIRIT NTT menjelaskan, para petani yang mengirim mete gelondongan ke Surabaya, adalah mereka yang berdomisili di Desa Keligejo, Aimere Timur, Kelitey, Waebela dan Kelurahan Foa."Jadi, lima desa ini sebagai penghasil mete. Dan, biji mete itu dikirim ke Surabaya untuk selanjutnya diekspor ke Vietnam. Koperasi mete telah terbentuk sejak tahun 2003/2004 dan baru kali ini bekerja sama dengan pengusaha Surabaya mengirim mete ini. Kami juga bersyukur karena mete yang dibeli seharga Rp 7.930,00/kg," ujar Boro, yang juga Kepala Desa (Kades) Aimere Timur ini.Dijelaskannya, dengan kerja sama tersebut harga jambu mete tidak terlalu berfluktuasi. Malah, kerja sama itu membawa dampak positif, yakni petani selalu menjual mete ke koperasi untuk selanjutnya dibawa ke Surabaya. "Yang saya lihat selama ini, ada perubahan yang luar biasa dalam harga mete di Aimere. Makanya, kami akan perluas anggota koperasi ke desa-desa lain di Kecamatan Aimere Timur," kata Yohanes. *)

Diposting oleh Spirit NTT di 1/04/2008 03:15:00 AM

Sabtu, 15 Maret 2008

Manajemen Diri Aktivis Mahasiswa


Opini — Hans 11/3/2008
Oleh : Frend Lutruntuhluy

Mahasiswa pada dua orde belakangan diakui sangat berbeda oleh mahasiswa orde reformasi, atau sering disebut tahun keramat 1998 sampai sekarang. Dikatakan demikian, mungkin karena dengan asumsi perbedaan waktu dan perkembangan zaman. Bisa jua ia, dan bisa juga tidak. Mengapa ia, karena yang bisa beruba pada setiap waktu itu adalah perubahan itu sendiri.
Tetapi mungkin juga tidak, oleh karena, kurikulum pada setiap jenjang pendidikan tinggi tidak pernah beruba secara signifikan sesuai dengan perubahan itu sendiri. Pertanyaannya adalah, dimana posisi tawar mahasiswa sebagai agent of cange itu? Sangat klasik, bila ungkapan ini kembali saya utarakan. Tetapi mestinya yang perlu dilakukan adalah, hindari mereka-mereka yang bersikap pintar namun tidak bisa berbuat apa-apa, atau sebaliknya, jangan pernah mengambil orang yang berlaku rajin namun selalu membuat kesalahan.

Ini yang paling penting untuk diterapkan oleh aktivis mahasiswa (OKP dan Ormawa) untuk menghindari kecolongan dalam setiap kaderisasi dan reorganisasi.
Perlu juga dipikirkan bahwa memang dalam dinamika organisasi (non provit) seperti ini, tidak kala pentingnya ketika ada reorientasi sistem perekonomian global, yang mengakibatkan posisi tawar hingga tahun ini membuat ada banyak kepincangan dan kemandekan organisasi pemuda dan mahasiswa, baik secara internasional, nasional, maupun secara lokal untuk masuk dalam bisnis class. Bukan berarti posisi itu sulit untuk didapati (kecuali diperalat oleh orang lain).
Kesempatan ini, saya tidak melihat dinamika organisasi itu secara global, atau bagaimana mencermati visi dan msisi serta hubungan organisasi itu terbangun. Namun paling tidak, berpikir lokal untuk kepentingan yang besar itu yang saya utamakan.
Berbicara tentang mahasiswa, dan hubungannya dengan aktivis mahasiswa, ada keunikan tersendiri dalam diri mereka. Dan Paling sering orang mengatakan bahwa mahasiswa itu adalah mereka-mereka yang melanjutkan studi pada perguruan tinggi.
Persepsi ini muncul, sesungguhnya karena predikat itu kebetulan ada pada mereka, dan bukan selebihnya mengangkat mereka sebagai sebuah status mahasiswa, yang acapkali disebut sebagai orang yang paling tinggi pada jenjang pendidikan. Kalau dilihat dari tampilan fisiknya, kan tidak beda dengan orang biasa yang berpergian ke semua tempat. Dan mestinya, perbedaan itu hanya bisa dilihat dari dua sisi.
Pertama, secara kuantitatif, mereka bisa terdaftar dimana-mana dengan status itu, dan kedua, secara kualititif, bisa dilihat bagaimana pola pikir, sikap, dan apa yang sudah ia lakukan bagi dirinya, dan untuk bangsa dan negara.
Nah! Bagaimana kita bisa bedakan, dimana letak mahasiswa yang aktivis dan yang bukan aktifis. Kata aktivis, umumnya orang biasa memakai itu disegala tempat, ruang, dan kesempatan, dimana seseorang bisa secara aktif mengikuti dan melakukan suatu pekerjaan yang ia emban.
Tetapi kemuadian, banyak kalangan, khususnya pada organisasi-organisasi pemuda, Ormawa, LSM dan apapun nama organisasinya sering mengatakan bahwa yang namanya aktivis, adalah tidak sekedar menilai seseorang dengan kehadirannya pada setiap kesempatan, namun lebih dari itu, adalah bagaimana dengan kehadirannya itu, mampu memecahkan sebuah persoalan yang dihadapi oleh organisasi, bangsa dan negara, dengan menguji sejauhmana kemampuan daya pikirnya.
Saya tidak mengatakan bahwa saudara, yang notabenenya adalah aktivis (meski nama anda tercatat jelas dalam data base organisasi) namun tidak bisa berbuat apa-apa, (maksudnya daya pikir lemah) bukan aktivis, namun paling tidak orang juga bisa membedakan bahwa namanya mahasiwa yang mengatakan dirinya aktivis dan bukan aktifis itu ada perbedaan dan sikap dan perilaku.Saya mencoba membuat dua kelompok menurut versi yang saya lakukan untuk realitas seperti ini.
Anda mengakui ataupun tidak, memang hanya bukti ketika anda bisa melihat langsung baru dipercaya. Katakanlah, dalam konteks bagaimana pemecahan masalah yang berat (bukan level pemikiran anak SD s/d SMU), sebut saja, mahasiswa.
Dulu, ketika setiap orang yang melanjutkan studi pada Perguruan Tinggi, dianggap sangat hebat (karena tidak semua orang bisa melanjutkan studi setinggi itu). Banyak persepsi yang muncul, bahkan orang tua sekalipun ”memukul dada”, kalau anaknya sudah mahasiswa.
Padahal, di kampus, mahasiswa itu hanya dibekali dengan satu disiplin ilmu saja, hingga mendapat gelar sesuai dengan disiplin ilmu itu. Katakanlah, FKIP Jurusan Ilmu pengetahuan Theologi, maka gelar yang akan ia dapati adalah Sarjana Pendidikan, (S.Pd), dengan disiplin ilmu seperti itu. Dan untuk mendapat gelar ini saja, memakan waktu dan biaya yang cukup banyak. Hingga selesai dengan kemampuannya hanya sebatas mengetahui disiplin ilmu itu sendiri.
Kondisi ini memang sangat berbeda jauh, dengan yang namanya mahasiswa yang aktifis. Mahasiswa seperti ini biasanya, lain dari mahasiswa lainnya. Maksudnya, dari sisi manajemen waktu antara kuliah, dan kesibukan dalam organisasi-organisasi itu berbeda dengan mahasiswa yang lain. Katakanlah, mahasiswa yang aktif pada Organisasi mahaiswa (Ormawa) dan Organisasi kepemudaan (OKP).
Dengan kondisi seperti ini, biasanya banyak aktivis yang terlambat menyelesaikan studi, ataupun gagal, oleh karena manajemen waktu untuk kuliah, dan tanggungjawab yang diembani dalam organisasi itu sendiri. Namun tidak berarti bahwa mereka-mereka yang mengalami kondisi ini sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam hal apa saja.
Sebaliknya, ketika saudara menanyakan dirinya tentang apa saja, entah masalah politik, ekonomi, sosial dll, kemampuan berpikir bisa melebihi seorang doktor sekalipun. Sedangkan bagi mereka yang hanya menamakan dirinya mahasiswa, (bukan aktifis), pemikiran yang ada pada mereka sangat terbatas. Disinilah letak perbedaan antara mahasiswa dan aktivis mahasiswa.
Keunikan lain yang sering didapati bagi mereka-mereka aktivis. Dan mungkin ini menjadi catatan paling penting. Pertama, ada kecendrungan malas dalam belajar (maksudnya disiplin ilmu yang digeluti), karena menganggap diri paling hebat, sebab telah mengetahui banyak hal, meskipun itu sangat terbatas.
Namun kalau untuk masalah organisasi, katakanlah mekanisme rapat, tata cara pemilihan, penyusunan rensra, struktur dan uraian tugas, metode avaluasi dan monitoring dll, itu tak ada batasan waktu ketika bercerita dengan mereka-mereka. Dan tanpa disadari, aktivis seperti ini tidak sadar kalau ternyata keunggulan dalam prestasi akademikpun menjadi jaminan ketika itu dirinya tidak lagi bermahasiswa, dan mencari pekerjaan, karena kemampuan organisasinya sangat kompetitif di masyarakat. Mungkin bagi mereka yang untung-untung sewaktu masih menjadi aktivis di OKP maupun Ormawa, jaringan untuk memperoleh pekerjaan itu sudah ada.
Kedua, akibat dari kondisi seperti ini, maka tidak heran jika banyak aktivis yang tidak mendapat perkerjaan dan menjadi penggngguran intelektual dimana-mana. Selainjutnya, mengambil sikap untuk bergabung bersama orang swata, dan mungkin bagi mereka yang lainnya tidak ada masalah untuk pilihan seperti ini.
Ketiga, akibat point pertama dan kedua, ada kecenderungan mereka yang selalu berada pada sebuah barisan oposisi untuk menentang apa saja, yang menurut mereka salah atau keliru dibuat oleh orang lain. Ini akibat dari idealisme yang berlebihan.
Mohon maaf, bila tulisan ini membuat sebagian dari teman-teman yang merasa kurang puas. Namun paling tidak, kalau tidak lewat seperti ini, maka mungkin juga tidak ada perubahan yang signifikan terhadap dinamisasi organisasi anda selanjutnya.
Penulis adalah Mantan KABID KESMA SMU UKAW Kupang, Periode 2006-2007

Kerajinan Rakyat NTT untuk Optimalkan Pencapaian Target VIY 2008


Kupang, NTT Online
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya mengoptimalkan produk kerajinan rakyat untuk menunjang target `Visit Indonesian Year` (VIY) tahun 2008 yakni mendatangkan tujuh juta wisatawan.
“Optimalisasi produk kerajinan rakyat itu antara lain memotivasi pengusaha hotel untuk membantu memasarkan produk kerajinan rakyat kepada para wisatawan melalui fasilitas `minishop` yang tersedia di hotel-hotel,” kata Kepala Biro Humas Setda NTT, Drs Eduard Gana, M.Si, di Kupang, Sabtu pekan lalu.

Ia mengatakan, program `minishop` cukup efektif dalam memberikan kemudahan pelayanan bagi wisatawan sekaligus membawa pengaruh positif terhadap kelancaran promosi dan penjualan hasil-hasil produk kerajinan rakyat.
Fasilitas `minishop` di hotel-hotel merupakan wadah untuk menampilkan hasil-hasil kerajinan masyarakat yang bisa dipromosikan kepada semua tamu, termasuk wisatawan mancanegara dan domestik.
Pengusaha hotel di NTT terutama pemilik hotel berbintang diminta untuk mendukung program pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) di lingkungan dunia pariwisata.
“Pemerintah sangat berharap usaha-usaha pariwisata makin berperan aktif dalam mempromosikan hasil-hasil kerajinan rakyat agar pengembangan kepariwisataan sejalan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Apalagi, tambah Gana, potensi wisata di NTT ikut menunjang program pencapaian target nasional kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2008 sebanyak tujuh juta orang.
Selain program `minishop`, upaya promosi juga dilakukan dengan cara menyajikan informasi potensi wisata unggulan melalui buku, poster, produk kerajinan maupun alat musik daerah sebagaimana dilakukan di Balai Budaya Indonesia di Canberra, Australia.
Kementerian Koordinator Perekonomian dan Departemen Pariwisata dan Budaya pun telah menetapkan Provinsi NTT sebagai bagian dari target utama pencapaian kunjungan tujuh juta wisatawan mancanegara ke Indonesia, selain Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara serta Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Karena itu, daerah yang memiliki potensi wisata unggulan tentu wajib mempersiapkan berbagai hal yang dibutuhkan dalam menunjang arus kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar Gana.
Khusus di Provinsi NTT, tambahnya, kendala utamanya adalah infrastuktur yang belum memadai karena terbatasnya anggaran pembangunan, termasuk di sektor perhubungan.
“Ada usulan agar penerbangan langsung Darwin-Kupang lebih diintensifkan. Perlu ada penerbangan skala nasional Darwin-Kupang yang terjadwal secara baik karena selama ini hanya bersifat lokal atas inisiatif maskapai penerbangan di Australia, jadwalnya pun berubah-ubah,” ujarnya.
antara

KOMPAS: Matahari Intelektual dari Flores


Oleh SAMUEL OKTORA

Tahun depan usia Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tengara Timur, genap 70 tahun. Masa pengabdian yang cukup tua. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang secara khusus mempersiapkan calon imam, sekolah ini boleh dikata “matahari” intelektual dari timur.

Meski berada di pulau yang merupakan daerah tertinggal dengan segala keterbatasan, dililit kemiskinan, lembaga pendidikan tinggi bidang filsafat dan teologi kontekstual ini justru mampu mengimplementasikan dirinya sebagai “garam” dan “terang” dalam dunia pendidikan.
“Dalam kurun waktu 23 tahun sejak tahun 1983, STFK (Sekolah Tinggi Filsafat Katolik) Ledalero telah mengirimkan mahasiswanya dan lulusannya sebanyak 300 orang ke 37 negara. Penugasan antara lain ke Amerika Latin, Afrika, Eropa, bahkan Rusia. Ini satu catatan menggembirakan yang bisa diperbuat STFK Ledalero,” kata Rektor Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, Pater Dr Philipus Tule SVD.
Sebanyak 300 alumni STFK Ledalero yang telah dikirim ke luar negeri ini merupakan jumlah yang menggembirakan. Perubahan besar juga terjadi untuk tenaga pengajar. Sebab sejak tahun 1980-an, tenaga pengajar didominasi dosen dari luar negeri, terutama dari Eropa.
Pada tahun ini, dari 44 dosen tetap (S-2/S-3), dosen dari luar negeri hanya tiga orang, yang lain dosen Indonesia. Ketiga dosen dari luar negeri itu adalah Pater Dr George Kirchberger SVD dari Jerman, Pater Jozef Pieniazek SVD dari Polandia, serta Pater Dr John M Prior SVD asal Inggris.
Selain itu, dari tradisi penyelenggaraan pendidikan yang mengarahkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan mandiri dalam berbagai hal, seperti yang diterapkan dalam perkuliahan Filsafat, juga telah banyak menghasilkan pemikir, ilmuwan, serta pekerja media di tingkat nasional.
“Lulusan STFK Ledalero antara lain Daniel Dakidae, Ignas Kleden, dan Yohanes Riberu. Yang sekarang juga menjadi anggota DPD Willem Openg, lalu Wakil Ketua DPRD NTT, Kristo Blasin. Umumnya yang drop out dari imam banyak juga yang menjadi birokrat terutama di NTT,” kata Pater Philipus Tule, yang meraih gelar doktor di The Australian National University Canberra, Australia, ini.
“Salah satu faktor mereka mampu eksis di luar itu dimungkinkan karena memiliki modal kuat berupa akal sehat, berpikir kritis, dan mandiri. Selain itu, karena lembaga pendidikan ini juga mempersiapkan calon imam, maka ditunjang pendidikan dengan penekanan pada aspek moral dan etika. Sebab, kemampuan berpikir kritis saja tak cukup. Orang demikian akan banyak musuh. Di sini mahasiswa juga ditekankan ilmu teologi, humaniora, termasuk psikologi, pedadogi, maupun konseling,” ujar mantan Ketua STFK Ledalero periode 1992-1994 ini.
Dialog antaragama
Di lingkungan lembaga pendidikan calon imam yang terletak sekitar 10 kilometer dari kota Maumere, Sikka, ini juga telah dilakukan dialog antaragama, baik dalam tataran teoretis akademis, seminar, maupun dalam tataran praktis lewat relasi, dan komunikasi sehari-hari. Tujuannya antara lain membangun solidaritas lintas agama.
Terobosan lain ialah pelaksanaan Festival Ledalero 2005-2006. Festival dengan tema “Pemuda-Budaya-Komunikasi” ini dibuka tahun 2005 dan ditutup tanggal 30 Oktober 2006. Festival ini diadakan sekaligus sebagai bentuk tanggapan positif STFK dan Penerbit Ledalero terhadap pencanangan “Tahun Budaya Nasional” Tahun 2005-2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam rangkaian festival antara lain digelar pementasan budaya berupa tarian dan musik adat serta lomba karya tulis berupa cerpen, puisi, dan resensi buku. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat turut membangkitkan minat generasi muda pada karya tulis-menulis, buku-buku, serta mencintai seni dan budaya lokal.
Selain itu, festival ini juga bertujuan untuk membuka isolasi informasi dan kebutuhan intelektual selama ini. Kondisi demikian yang membuat intelektual di NTT, khususnya anak-anak muda, tertinggal dalam skala nasional.
Meskipun ada penolakan dari pihak pengelola, yakni Yayasan St Paulus yang berkedudukan di Jalan Katedral Ende, STFK juga mendirikan usaha penerbitan, yaitu Penerbit Ledalero pada tahun 2002. Penolakan atas penerbitan baru ini karena di Ende sudah ada Penerbit Nusa Indah.
Tiap tahun Ledalero rata-rata menerbitkan 10–15 judul buku. Tiap judul bisa dicetak sekitar 2.000 eksemplar. Buku-buku yang diterbitkan seputar teologi, filsafat, sosiologi, maupun antropologi. Buku terbitan Ledalero sebagian besar merupakan karya intern dari para dosen, hasil penelitian, serta ada pula terjemahan, bunga rampai, maupun hasil seminar-seminar.
“Pertimbangan didirikan penerbitan ini, karena sebagai lembaga pendidikan tinggi perlu ada penerbitan akademik khusus yang dikelola langsung oleh akademisi. Sementara otoritas sebuah penerbit untuk sampai pada kegiatan menerbitkan satu buku harus ada dasar keilmuan. Isu-isu yang diangkat Penerbit Ledalero umumnya seputar teologi dan filsafat, kalau hal ini dikelola oleh non-akademisi akan kesulitan, dan bisa memberikan pemahaman atau terjemahan yang terlalu membias,” ujar Pater Tule.
Pendirian Penerbitan Ledalero juga sebagai bentuk apresiasi, dan salah satu upaya memberi ruang seluas-luasnya bagi para dosen di STFK Ledalero untuk membuat karya ilmiah dan membukukannya. “Selama ini karya para dosen hanya dalam bentuk stensilan atau buku diktat. Dengan hadirnya Penerbit Ledalero, banyak bahan pengajaran para dosen yang dibukukan. Namun, kami juga membuka ruang bagi karya-karya sastra,” tutur Pater Philipus Tule, Rektor Seminari Tinggi St Paulus Ledalero ini.
Di sisi lain, guna menunjang aktivitas belajar mengajar, perguruan tinggi ini juga dilengkapi perpustakaan berupa gedung berlantai dua, dengan luas keseluruhan 831 meter persegi.
Perpustakaan ini memiliki koleksi judul buku mencapai 43.274 judul, dan keseluruhan buku berjumlah 69.048 eksemplar. Buku-buku itu dari berbagai bidang seperti filsafat, teologi, ilmu sosial, linguistik, kesenian dan olahraga, kesusastraan, sejarah, geografi, teknologi terapan, ilmu-ilmu murni, ensiklopedi dan kamus. Bahkan, perguruan tinggi ini juga memiliki Museum Bikon Blewut, dengan jenis koleksi dari penemuan dan penggalian sejak tahun 1950 hingga 1965.
Bangunan kokoh STFK Ledalero didirikan di atas lahan sekitar 11 hektar. Lembaga ini juga mengelola lahan pertanian, perkebunan, maupun peternakan untuk kebutuhan mahasiswa dan masyarakat sekitar.
Makna Ledalero
Makna Ledalero sendiri dari kata leda berarti ’sandar’, dan lero adalah ’matahari’ atau ’bukit’. Berarti makna Ledalero adalah bukit sandaran matahari. Menurut Pater Tule, masyarakat sering menyebut demikian, sebab dimungkinkan jika dilihat dari Maumere, saat matahari terbenam, akan tampak seolah-olah matahari bersandar di bukit di kawasan lembaga pendidikan ini berada. “Dulu tempat ini dikenal angker, katanya banyak setan dan masyarakat tak berani untuk menempati. Lalu masuklah para misionaris ke sini,” ujarnya.
STFK Ledalero merupakan peningkatan dari Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, yang didirikan oleh Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), sebagai tindak lanjut dari ensiklik, surat edaran/pesan tertulis dari Paus Benediktus XV, tahun 1919.
Tahun 1935 kegiatan per kuliahan sudah berjalan dengan mahasiswa sebanyak 13 orang. Namun, pada 20 Mei 1937 barulah sekolah tinggi ini disahkan. Tanggal ini sekaligus dijadikan tanggal resmi berdirinya STFK Ledalero. Dua pastor yang pertama ditahbiskan pada tanggal 28 Januari 1941.
Lembaga pendidikan ini menggunakan nama Seminari Tinggi St Paulus Ledalero sampai tahun 1969. Pada Januari 1969 berdiri secara resmi Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (STF/TK) Ledalero sebagai salah satu bagian dari Seminari Tinggi.
Dalam rangka penyesuaian jalur, jenjang, dan program pendidikan perguruan tinggi swasta (PTS), sejak 29 November 1984 sekolah tinggi ini mengambil program studi S-1 dengan status diakui. Baru pada tahun 1990, untuk jenjang S-1, STFK Ledalero mendapat status Disamakan. Tahun 1997, sekolah tinggi ini mendapat status terakreditasi berperingkat B untuk Jurusan Ilmu Filsafat dan Program Studi Filsafat Agama Katolik.
Menurut Ketua STFK Ledalero, Pater Dr Henricus Dori Wuwur SVD, dengan dibukanya kesempatan pendidikan bagi kaum awam tak berpengaruh negatif terhadap pembentukan kepribadian para calon imam.
“Justru situasi demikian merupakan proses pembelajaran yang baik bagi para calon imam, terutama untuk mereka berkomunikasi dengan orang awam atau di luar kelompoknya. Sebab justru kondisi demikian realitas sebenarnya yang nanti akan dihadapi ketika terjun dalam pelayanan. Berbaur dengan kaum awam juga akan menguji mereka, apakah benar-benar siap atau tidak menjadi imam,” tutur Pater Wuwur.
Sekarang ini, bahkan STFK Ledalero telah membuka program pascasarjana gelar (magister/S-2). Program tambahan lain ialah non-gelar di bidang teologi dengan pendekatan kontekstual.
Keindonesiaan dari Bikon Blewut
Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur ternyata aslinya bernama Pulau Ular. Dalam bahasa Lio, Nusa Nipa. Nama Flores ternyata pemberian orang Portugal ketika pertama kali datang ratusan tahun silam. Toh dari pulau yang sayup dari Jakarta ini, keindonesiaan sempat dibina.
Makna sejarah Pulau Flores itu dituangkan dalam bentuk lukisan berjudul “Nusa Nipa” pada sebuah tripleks. Lukisan itu masih terpampang sebagai bagian dari jenis koleksi di Museum Bikon Blewut di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lukisan karya Frater Goris Leki (1993) itu berwarna dasar biru muda. Bentuknya berupa gambar pulau yang dililit seekor ular mengusung sejumlah perhiasan emas, lalu diterangi cahaya matahari.
Almarhum Pater Piet Petu SVD yang meminta Frater Leki untuk melukisnya pada saat itu. Maksudnya agar secuil sejarah Pulau Flores dapat dengan mudah diketahui dan diingat terutama oleh generasi muda.
“Di daratan Flores, kalau orang Manggarai menyebut pulau ini dengan Nuca Nepa Lale (Pulau Ular yang Indah). Sementara orang Ngada dan Ende menyebut Nusa Nipa. Tapi, orang Larantuka (Kabupaten Flores Timur) menyebut dengan Nuha Ula Bungan (Pulau Ular yang Suci). Semua sebutan ini turut dituangkan dalam lukisan agar orang lebih mudah memahami dan mengingatnya,” ungkap Staf Harian Museum Bikon Blewut, Endy Paji (43). Warga Desa Nita, Kecamatan Nita, Sikka, ini secara lancar dapat menjelaskan tiap jenis koleksi kepada para pengunjung tanpa harus membaca teks atau dokumen museum.
Adapun nama Pulau Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular diberikan karena beberapa alasan. Yang pertama, di Pulau ini banyak dijumpai ular. Kedua, nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki.
Pertimbangan lainnya karena ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh. Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan berupa telur dan beras mentah.
Jenis koleksi unik lainnya di museum ini adalah lukisan pahlawan revolusi Jenderal Achmad Yani yang meninggal akibat Gerakan PKI tanggal 30 September 1965. Lukisan itu selesai dibuat detik-detik menjelang kematian Achmad Yani. Lukisan bergambar Sang Jenderal dengan baju kedinasan hijau itu merupakan karya almarhum Frater Bosco Beding pada tanggal 30 September 1965. Bosco Beding membuat lukisan itu lewat foto Achmad Yani. Sementara gambar Achmad Yani diambil ketika dia memberikan ceramah di Seminari Tinggi St Paulus Ledalero tanggal 25 September 1965. Lukisan itu sendiri selesai dibuat tanggal 30 September malam. Namun, tak lama setelah itu, tanggal 1 Oktober dini hari, diberitakan lewat RRI bahwa jenderal itu telah dibunuh pada peristiwa 1965.
Ada pula jenis koleksi kuno yang lain berupa fosil fauna, yaitu fosil Stegodon, sejenis gajah raksasa yang ditemukan di Ola Bula, Kabupaten Ngada, Flores, pada bulan Desember 1956 oleh Tim Ekspedisi Verhoeven.
Fosil ini dinamakan Stegodon Trigonocephalus Florensis karena ditemukan di Flores. Diperkirakan hewan ini telah hidup di Flores pada periode 400.000 tahun—10.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Selain di Ola Bula, fosil juga ditemukan di Mengeruda, Matamenge, dan Boaleza di Ngada. Lokasi penemuan itu dari satu titik ke titik yang lain diperkirakan seluas 10 kilometer.
Namun amat disayangkan, potongan atau pecahan fosil gajah raksasa ini seluruhnya tak dapat disaksikan umum. Karena keterbatasan ruang, potongan fosil gajah itu terpaksa sebagian besar ditaruh berjejalan di dalam peti atau kotak penyimpanan. Puluhan ribu jenis koleksi museum ini sampai sekarang hanya disimpan dalam satu ruangan berukuran sekitar 99 meter persegi.
Fosil manusia raksasa
Pada 11 Juli 1998, Tim Ekspedisi Museum Ledalero yang dipimpin Piet Petu SVD dan Ansel Doredae SVD menemukan fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical gigantic skeleton) di Lia Natanio, Ngada, yang terletak 12 kilometer dari lokasi penemuan fosil Stegodon di Ola Bula. Fosil itu kini sedang dipelajari atas dasar hipotesis bahwa besar kemungkinan fosil tengkorak tersebut mempunyai kaitan historis dengan fosil gajah Stegodon.
Theodor Verhoeven SVD pada 1954 juga menemukan fosil manusia purba penghuni goa di Liang Toge, bagian utara Kabupaten Manggarai yang berbatasan dengan Riung, Ngada. Fosil yang ditemukan jenis manusia kerdil. Usia diperkirakan di atas 40 tahun dengan tinggi badan cuma 146 sentimeter. Usia fosil itu diperkirakan 300.000 tahun SM.
Penemuan ini dinilai penting bagi ilmu pengetahuan internasional karena merupakan satu-satunya fosil manusia terlengkap di dunia. Profesor Huizinga dari Universitas Utrecht Belanda dan Prof Koeningswald menyimpulkan bahwa fosil ini berasal dari jenis manusia ras Negrito yang pernah berdiam di Flores. Akan tetapi, karena jenisnya lebih tua, maka disebut Proto Negrito. Artinya manusia yang lebih tua dari Negrito.
Karena ditemukan di Flores, fosil itu kemudian disebut Proto Ngerito Florensis. Namun, fosil manusia Proto Negrito Florensis masih tersimpan di Universitas Utrecht. Dengan demikian, diduga kuat Flores telah dihuni manusia sejak 300.000 tahun SM.
Keunikan lainnya, di museum ini juga tersimpan alat-alat kebudayaan Dongson, berbahan perunggu. Peninggalan itu sebagiannya diperoleh dengan cara ganti rugi dan sebagian melalui penelitian. Alat perunggu yang paling istimewa adalah keris perunggu. Keris ini merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia. Keris ini ditemukan tahun 1952 oleh Pater Mommersteeg SVD di daerah Naru, Ngada. Keris itu adalah milik suku Naru, yang tak lagi digunakan sebagai senjata, melainkan untuk upacara keagamaan.
Koleksi langka lainnya, temuan tahun 1954, berupa tiga buah kapak perunggu di Kampung Guru Lama oleh Pater Darius Nggawa SVD dan Pater Frans Nurak SVD. Sayang, kapak yang pernah dimiliki museum itu diketahui telah dijual arkeolog Verhoeven ke Museum Bassel, Swiss.
Nama museum Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam atau buana, versi Krowe-Sikka yang berbunyi Saing Gun Saing Nulun/ Saing Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan. Maknanya, sejak zaman purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda, ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan di angkasa mencipta bumi, matahari, dan bulan.
Dengan demikian, konsep nama Bikon Blewut menunjukkan kepurbaan atau ketuaan dari beberapa jenis koleksi yang dikumpulkan dalam museum ini. Pencetus nama Bikon Blewut adalah Pater Piet Petu SVD, kurator museum periode 1983-1998. Saat ini kuratornya dipegang Pater Ansel Doredae SVD. Oleh Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, lembaga ini disebut juga sebagai Museum Misi dan Budaya karena mayoritas jenis koleksi yang dilestarikan merupakan hasil karya etnografis para misionaris SVD.
Keberadaan Museum Bikon Blewut yang menyimpan sejumlah kekayaan budaya Flores ini tak lepas dari peran para misionaris SVD pada awal abad ke-19. Umumnya imam SVD merupakan ahli di bidang sejarah, bahasa, serta kebudayaan (etnolog dan antropolog). Misionaris SVD yang turut mengambil bagian dalam penemuan dan pengumpulan kekayaan budaya Flores antara lain Paul Arndt SVD, Theodor Verhoeven SVD, Guisinde SVD, Jilis Verheijen SVD, dan Paul Schebesta SVD.
Sepintas orang mungkin tak menyangka bahwa di lembaga pendidikan tinggi ini terdapat museum yang kaya akan jenis koleksi dengan nilai sejarah tinggi. Belum lagi letak museum yang jauh di bagian timur, serta tak ada petunjuk yang dipasang di tempat-tempat strategis mengenai keberadaan museum.
“Sebenarnya banyak sekali jenis koleksi yang masih disimpan. Namun sayang, karena kekurangan tempat, tak semua jenis dapat dipamerkan. Seperti fosil gajah yang diperkirakan usianya sudah ribuan tahun hanya sebagian yang dipamerkan,” ungkap Bapak satu anak ini.
Dengan mencermati sekian banyak jenis koleksi yang khususnya merupakan kekayaan kebudayaan Flores, museum ini niscaya merupakan aset nasional yang amat berharga, terutama tentang pluralitas kita.
Lukisan Jenderal Achmad Yani yang sederhana tadi, salah satu bukti saja, bahasa sejarah nasional dan keindonesiaan kita ternyata ikut diolah dan dibina dari museum ini….
Perjalanan Panjang Percetakan Arnoldus
Penderitaan, kemiskinan, kemelaratan—juga keterbelakangan—merupakan cap yang sampai kini masih melekat pada wilayah Indonesia bagian timur, seperti Pulau Flores dan daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur.
Namun, itu bukan akhir harapan. Percetakan Arnoldus Ende di Kota Ende, yang merupakan percetakan pertama di Pulau Flores, bisa membuktikannya.
Percetakan yang berdiri 80 tahun lalu, tepatnya pada 1926, merupakan unit perusahaan PT Arnoldus Nusa Indah (PT ANI) yang sampai sekarang tetap berkibar. Bahkan, percetakan ini terus berkembang dengan segala tantangan dan tingkat kompetisi yang makin berat.
Di satu sisi, percetakan ini juga mengemban misi membantu pewartaan gereja lokal di Flores. Akan tetapi, publikasi umum—termasuk buku-buku pendidikan dan filsafat—merupakan ranah penerbitan yang banyak ditopang tenaga-tenaga ahli rohaniwan itu. Dengan demikian, Percetakan Arnoldus juga berkembang bukan semata-mata menjalankan usaha bisnis, tetapi juga pendidikan dan kerohanian.
“Kendala yang kami hadapi cukup berat, yakni masalah sumber daya manusia dan ketertinggalan dalam hal teknologi,” kata Koordinator Divisi Percetakan Arnoldus Ende, Bruder Yakobus Pajo SVD.
Jumlah karyawan percetakan di Jalan Katedral No 5, Ende, ini semula hanya 20 orang, kini sudah menjadi 65 orang. Jumlah ini sudah berkurang beberapa orang karena ada yang dipindah ke unit perusahaan lain, atau telah memasuki masa pensiun.
Percetakan Arnoldus merupakan salah unit usaha PT ANI. Unit usaha yang lain, yaitu Toko Buku dan Penerbit Nusa Indah, harian Flores Pos, bengkel kayu dan besi, serta sebuah sanggar rekaman lagu. Dengan segala keterbatasan peralatan percetakan dan SDM, beban percetakan juga tak ringan. Apalagi terkait perubahan struktur perusahaan yang dilakukan pada Oktober 2005.
Perubahan struktur yang dimaksud berupa penggabungan semua unit usaha dalam satu garis komando. Konsekuensinya, unit yang “basah” akan membantu kelangsungan unit yang “kering”. “Dari sekian unit, yang menerima order secara kontinu dan relatif besar dalam hal pemasukan adalah percetakan dan bengkel kayu,” ujarnya.
Percetakan Arnoldus kini telah membuka cabang di Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat) dan Lewoleba (Kabupaten Lembata), serta di Kota Kupang. Percetakan di tingkat cabang hanya melayani bidang pekerjaan kecil, seperti penjilidan serta fotokopi. Pesanan dengan oplah besar akan ditangani di Ende.
Pesaing
Di sisi lain, dengan mulai masuknya pesaing di wilayah NTT, Bruder Pajo menyatakan hal ini bukan menjadi petaka, melainkan justru pemicu untuk terus meningkatkan kualitas, kreatif, dan inovatif.
Percetakan yang berdiri di NTT umumnya hanya memasang nama atau bendera, sementara untuk produksi mereka masih bekerja sama dengan percetakan besar di Jawa. Hal ini tentu akan berdampak pada harga, sehingga pesaing demikian tak terlalu menakutkan bagi Percetakan Arnoldus.
Meski harga cetak penerbit yang “berafiliasi” ke percetakan di Jawa lebih murah, hal ini dapat disiasati dengan selisih harga tak terlalu besar, jaminan kualitas yang tak mengecewakan, serta order diselesaikan dalam waktu cepat.
“Kami bisa menyiasatinya dengan mengambil keuntungan sedikit saja, sebab tak dapat dimungkiri untuk bahan baku kami harus mengambil dari Jawa. Sementara percetakan di Jawa tanpa harus mengeluarkan ongkos ekspedisi, karena bisa mendapatkan bahan di tempat. Tapi, jangan lupa, terkadang tak disadari oleh pemesan, mereka bisa mengeluarkan biaya yang tak terduga. Misalkan, kalau ada masalah dalam percetakan di Jawa, atau harus mengalami perubahan, bukankah pemesan akan menghubungi percetakan itu? Biaya interlokal, kan, besar,” kata bruder yang pernah ditugaskan di Australia ini.
Selain menerima order dari swasta, Percetakan Arnoldus juga banyak menerima pesanan dari dari BUMN, serta pemerintah daerah di Flores. Order dari pemda biasanya dari dinas pendidikan, dinas pendapatan daerah, serta rumah sakit umum daerah (RSUD). Namun, order terbanyak percetakan ini menyangkut buku-buku rohani.
Selain itu, percetakan ini juga bekerja sama dengan PLN Cabang Flores Bagian Timur, serta BNI Cabang Flores Bagian Barat dan Timur. Pada Pemilu 2005, percetakan ini juga melayani pesanan dari komisi pemilihan umum daerah (KPUD) untuk pencetakan surat suara. Surat suara itu untuk pemilihan kepala daerah di Kabupaten Ngada dan Manggarai Barat.
“Dengan demikian, peluang di bidang percetakan masih tetap terbuka lebar. Tinggal bagaimana membaca peluang tersebut dan meraihnya. Tenaga pemasaran memang harus kuat dan jeli,” katanya.
Nama Arnoldus
Nama Arnoldus mengambil nama dari Beato Arnoldus Janssen, pendiri ordo SVD (Societas Verbi Divine). Pemilihan nama Arnoldus dijadikan sebagai pelindung percetakan ini. Cetakan pertama pada 21 Juni 1926 berupa buku doa yang disusun dalam bahasa Melayu. Buku itu berjudul Sende Aus yang artinya Utuslah.
Pemrakarsa pendirian percetakan adalah Pater Petrus Noyen SVD, yang merupakan pretek apostolik pertama di wilayah Nusa Tenggara. Pater Noyen kala itu didukung oleh Pater Frans D Lange SVD.
Beroperasinya Percetakan Arnoldus pada waktu itu juga tak lepas dari bantuan Percetakan St Mikael di Steyl, Jerman. Mesin cetak dari Steyl tiba di Pelabuhan Ende pada April 1926. Satu bulan kemudian, dua pekerja yang bertugas sebagai tenaga pencetak di bawah pimpinan Bruder Viatori dari Shanghai tiba di Ende.
Mesin-mesin yang dikirim pada saat itu antara lain mesin cetak Boston, lalu masing-masing satu mesin susun tipograf, segel pres, mesin jilid kawat, dan mesin potong kertas.
Berikutnya, tercatat dalam kurun waktu 1947-1954 juga didatangkan satu mesin susun linotype, satu mesin perforasi, dan mesin jahit penjilidan. Lalu, pada tahun 1974, percetakan ini juga melakukan modernisasi dengan mendatangkan dua unit mesin ofset.
“Mesin yang kami pakai ada yang dari Jerman, Jepang, dan pernah Cekoslowakia. Bahkan, sampai sekarang ada satu unit yang masih digunakan, yaitu mesin cetak yang pernah digunakan Harian Kompas. Kendala yang kami hadapi soal teknologi, mesin percetakan biasanya mesti diganti setiap sekitar tiga tahun. Tapi, karena keterbatasan modal, kami menggantinya lebih lama, paling tidak sampai lima tahun baru ganti,” tutur Pajo.
Bruder Pajo, yang juga pernah ditugaskan di Papua Niugini (1998), mengungkapkan bahwa tahun lalu Percetakan Arnoldus baru membeli mesin dari Jepang seharga Rp 500 juta serta tiga unit mesin cetak warna seharga Rp 1 miliar. Adapun omzet Percetakan Arnoldus dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir mencapai sekitar Rp 1 miliar per tahun.
“Tetapi, alat-alat yang baru kami beli itu sebenarnya masih tertinggal juga jika dibandingkan dengan teknologi percetakan di Jawa yang sudah mampu mencetak empat warna sekali kerja. Sedangkan yang kami miliki saat ini baru dua warna,” ungkapnya.
Kendala lain yang dihadapi percetakan ini menyangkut SDM. Menurut Bruder Pajo, tenaga kerja percetakan di Flores tidak siap pakai. Dia mencontohkan, lulusan SMK di Ende belum ada yang memiliki spesifikasi di bidang grafika.
“Kalau di Jawa tak susah mencari tenaga grafika. Seperti di Jakarta ada SMK Budi Mulia. Dengan demikian, kalau kami merekrut tenaga teknik lokal harus dididik lagi. Ini jelas membutuhkan waktu. Tetapi, bagaimanapun harus kami lakukan, sebab sesuai misi awal, antara lain adalah sebagai bentuk tanggung jawab sosial memberdayakan masyarakat Flores yang tertinggal,” ujar bruder yang pernah menjabat Wakil Manajer Percetakan Arnoldus Ende.
Adapun untuk mengejar ketertinggalan teknologi, salah satu upaya yang sedang dipikirkan adalah pembelian mesin berteknologi baru dengan bantuan modal dari bank.
“Tetapi, upaya ini masih kami pertimbangkan secara hati-hati. Memang sudah ada pembahasan dengan pihak bank. Namun, dengan pinjaman yang besar, maka dituntut konsekuensi kerja lebih keras untuk dapat mengembalikan pinjaman. Lagi pula, yang menjadi kendala saat ini adalah mental dan budaya kerja karyawan belum siap,” ujar Direktur Utama PT ANI, Bruder Gerinus Sanda SVD.